Rabu, Juli 17, 2024
Google search engine
BerandaMeski Omzet Merosot Akibat Pandemi, Pengrajin Perak Aceh Tetap Gencarkan Promosi

Meski Omzet Merosot Akibat Pandemi, Pengrajin Perak Aceh Tetap Gencarkan Promosi

“Selama pandemi menurun drastis penjualan. Saat ini kendala kita juga di modal. Jadi kita gak bisa produksi banyak, 1 Kg perak aja bisa sekitar dua puluh juta. Jadi kita buat tergantung pesanan dulu”

— Pengrajin Perak di Banda Aceh —

Perak adalah salah satu jenis perhiasan berharga yang banyak dipakai orang. Meski terjadi perkembangan teknologi yang begitu pesat, namun pengrajin di sektor ini masih mengandalkan cara tradisional dalam memproduksi perhiasan dari perak.

Di Provinsi Aceh, perhiasan yang terbuat dari perak, beragam jenisnya. Barang-barang dari perak banyak digunakan, tidak saja sekedar untuk perhiasan sehari-hari, tapi juga untuk aksesoris dan untuk pesta pernikahan maupun acara lainnya. Tidak heran bila industri kerajinan perak cukup dikenal di Aceh.

Seperti usaha kerajinan perak yang dijalankan oleh pengrajin di Banda Aceh, bernama Taufiq, 47. Pengrajin perak ini memberi nama (brand) usaha kerajinan peraknya ini dengan nama, Taufiq Perak. Lokasi Taufiq Perak ini berada di di Desa Lampaloh, Jl. Elang, Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh.

Industri kerajinan perak ini, katanya, sudah sejak lama dikenal baik di dalam dan di luar negeri, khususnya negeri jiran Malaysia. Untuk luar Aceh, hasil kerajinan dari sini juga sering dikirim ke Jakarta, kata Taufiq. Sedangkan untuk luar negeri, selain Malaysia, hasil karya Taufiq sudah dipasarkan hingga ke Texas Amerika Serikat dan Australia serta negara lainnya.

“Ini karena karya kerajinan Taufiq Perak mempunyai mutu yang bagus dan desain yang sangat unik. Khususnya dalam memproduksi perhiasan dan suvenir khas Aceh,” lanjut Taufiq.

Toko Taufiq Perak ini menawarkan beragam perhiasan serta aksesoris cantik, seperti gelang, bros, dan juga cincin yang bisa dibeli pengunjung untuk oleh-oleh atau cenderamata.

Beragam model ukiran perak khas Aceh yang ditawarkan, antara lain berbentuk pinto Aceh, bungong naleung, bungong ue, talo bing, dll.

Taufiq, pengrajin perak Aceh, sedang memperlihatkan hasil kerajinannya di tokonya bernama Taufiq Perak, di Desa Lampaloh, Jalan Elang, Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Senin (20/9/2021). (Foto/Cut Nauval Dafistri).

“Selain itu ada juga dari pelanggan membawa batu, kemudian kami diminta membuat modelnya. Seperti cincin batu giok ini,” tutur Taufiq saat ditemui Waspadaaceh.com di tokonya, Senin (20/9/2021).

Taufiq mengajak langsung jurnalis Waspadaaceh.com untuk melihat bagaimana proses pembuatan kerajinan perak tersebut. Pengerjaannya sejak mulai awal hingga finishing, ditangani tanpa menggunakan bantuan mesin. Semua dengan keahlian tangan alias handmade.

Dia menjelaskan proses pembutannya, mulai dari bahan baku yang dilebur kemudian dibuat seperti kawat, dengan cara dipres dengan alat pres. Kemudian membuat kerangka dan pengisian motif ke kerangka lalu dipatri (dengan menggunakan sebuah bahan untuk merekatkan rangka).

Taufiq tampak sangat cetakan mengerjakan beberapa kerajinan perak ini. Pria ini terlihat sedang melakukan proses pemutihan perak dengan menggunakan alat berbentuk seperti las.

Sembari mengelas perak, Taufiq menjelaskan
sejak 2002 dia sudah menggeluti bisnis kerajinan perak. Sebelumnya, sejak tahun 1993 dia sebagai pengrajin emas.

Harga produk kerajinan perak ini bervariatif, tergantung berat dan rumitnya pekerjaan. Untuk 1 gram perak berkisar Rp45.000,

“Harga perak sesudah jadi perhiasan seharga Rp45.000 pergram. Kita jual tergantung beratnya,” ungkapnya.

Taufiq Perak mengaku menjadi salah satu industri kerajinan binaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh. Usaha Taufiq Perak sering mengikuti ajang pameran dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh. Namun belakangan ini selama pembatasan aktivitas, nyaris tidak ada kegiatan apapun.

Kendalanya selama ini, kata Taufiq, yakni pada penjualan dan modal. Untuk itu dia berusaha dengan berbagai cara untuk mempromosikan produknya agar bisa terjual.

Omzet Merosot selama Pandemi

Selama masa pandemi COVID-19 industri kerajinan perak mengalami penurunan. Dinamika usaha industri kerajinan perak ini dipengaruhi beberapa faktor, selain kurangnya pendapatan, juga terkendala pada masalah modal.

Selain itu tambahnya, peminat pengrajin perak juga berkurang, karena wisatawan selama masa pandemi COVID-19 ini nyaris tidak datang ke Aceh. Begitu pun, saat ini dia masih mempekerjakan dua karyawan di tokonya.

Perhiasan dari perak dengan model khas Aceh karya pengrajin Taufiq Perak, (foto/Cut Nauval Dafistri).

Taufiq mengatakan, untuk bahan baku perak dia membelinya dengan harga Rp20 juta/Kg. Dia akan membuat perhiasan atau cenderamata perak tergantung berapa banyak orderan. Kata dia, dalam 1 Kg bahan baku perak bisa menjadi beberapa set perhiasan.

“Selama pandemi menurun drastis penjualan. Saat ini kendala kita juga di modal. Jadi kita gak bisa produksi banyak, 1 Kg perak aja bisa sekitar dua puluh juta. Jadi kita buat tergantung pesanan dulu,” tutur Taufiq.

Memanfaatkan Digital Marketing

Untuk mengatasi penjualannya yang merosot selama masa pandemi COVID-19, Taufiq berusaha untuk mempromosikan produknya melalui media sosial, seperti instagram dengan nama akun @taufiq_perak maupun facebook, yaitu Taufiq Perak. Bagi yang ingin menanyakan dan memesan jenis produk kerajinan ini bisa pesan sesuai keinginan pelanggan, karena Taufiq perak juga menerima tempahan. Calon pemesan bisa menghubungi Taufiq 08126919144.

Walau hasilnya tidak begitu maksimal, Taufik bersyukur produknya tetap laku, meski hanya beberapa set. Apabila ada pembeli yang memesan via online, Taufik siap mengirimnya ke mana pun sesuai permintaan pembeli.

Taufiq berharap pemerintah tetap terus mendukung kerajinan perak dengan memberikan pelatihan serta pendampingan lebih lanjut.

IKM Harus Kreatif dan Inovatif

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Aceh Mohd Tanwier mengatakan, meski di masa pandemi pihaknya terus menyokong agar industri kecil dan menengah (IKM) di Aceh harus tetap aktif meski perlahan, dengan ide yang kreatif dan inovatif.

Kadisperindag mengaku, di masa pandemi COVID-19 memang hampir tidak ada event pameran untuk mempromosikan IKM Aceh, namun demikian dia mengimbau agar semangat para pelaku IKM tidak padam. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam meningkatkan penjualan dan promosi.

Pihaknya juga telah berusaha meluncurkan beberapa program untuk memaksimalkan pemasaran produk IKM tersebut, di antaranya melalui pojok kreatif, pelatihan digital marketing, pelatihan kemasan produk IKM dan kegiatan lainnya.

Selain itu, tambahnya, juga ada bimbingan teknis yang dilakukan oleh Bidang Pengembangan Industri Menengah dan Aneka (PIMA) Disperindag Aceh. Bimbingan teknis ini dalam rangka meningkatkan kapasitas pelaku IKM di Aceh.

“Kita menyarankan bagi pelaku IKM selain menggencarkan promosinya via digital marketing, bisa juga berinisiasi memajang produknya melalui pojok kreatif tersebut,” tutur Kadisperindag Aceh saat ditemui Wasapdaaceh.com, Senin (20/9/2021).

Kendati tidak tersedia anggaran khusus untuk mendukung program pojok kreatif, menurut Kadis Perindag Aceh ini, program itu akan dapat berjalan. Karena progrm tersebut hanya butuh menyediakan etalase di kafe, warkop dan toko atau tempat keramaian untuk memajang dan menjual berbagai produk UKM dan IKM. (Cut Nauval Dafistri)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER