Teheran (Waspada Aceh) – Angkatan Udara Israel dikabarkan masih terus melakukan serangan terhadap target di wilayah Iran pada Rabu (8/4/2026), setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan pemerintah Iran.
Informasi ini disampaikan oleh seorang pejabat keamanan kepada The Times of Israel. Serangan udara Israel masih berlanjut, sementara di sisi lain, Iran juga dilaporkan telah menembakkan beberapa salvo rudal balistik ke arah Israel sejak kabar mengenai rencana gencatan senjata tersebar.
Situasi juga masih tegang di wilayah lain. Meskipun Perdana Menteri Pakistan menyatakan bahwa gencatan senjata juga akan mencakup wilayah Lebanon, hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa Israel telah menghentikan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah.
Pengumuman mengenai gencatan senjata ini disampaikan hanya satu setengah jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan oleh Trump. Sebelumnya, Presiden AS memberikan ultimatum kepada Iran untuk segera membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi peningkatan serangan militer yang menyasar infrastruktur sipil negara tersebut.
Seorang pejabat Gedung Putih sebelumnya mengonfirmasi kepada CNN pada Selasa malam bahwa Israel turut menjadi pihak dalam perjanjian ini.
Menurut pejabat tersebut, Israel telah menyetujui untuk menangguhkan sementara kampanye pengebomannya selama proses negosiasi berlangsung.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Laporan menyebutkan bahwa serangan udara Israel masih terus berjalan, menimbulkan pertanyaan mengenai kepatuhan terhadap kesepakatan yang baru saja dicapai.
Israel Kecewa, Namun Tetap Patuh
Sumber yang mengetahui permasalahan ini mengungkapkan kepada CNN bahwa para pejabat Israel sebenarnya merasa kecewa dengan kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai oleh AS dan Iran.
Meskipun demikian, mereka menyatakan bahwa Israel akan tetap mematuhi perjanjian tersebut sesuai dengan arahan Presiden Trump.
Lebih lanjut, sumber menambahkan bahwa hingga saat ini, Israel masih memiliki banyak target yang tersisa dalam daftar operasinya dan masih memiliki berbagai tujuan yang ingin dicapai melalui aksi militer di Iran. Hal ini menunjukkan bahwa keinginan untuk melanjutkan tekanan militer masih sangat kuat di kalangan pemimpin Israel.
Sikap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terhadap kesepakatan ini sebenarnya sudah terlihat sejak pertengahan Maret lalu. Ketika ditanya oleh CNN apakah Israel akan menghentikan serangan jika Trump mencapai gencatan senjata, Netanyahu saat itu menolak memberikan jawaban tegas. Namun, ia mengakui posisi Trump sebagai pemimpin dan sekutu terpenting Israel.
Pernyataan tersebut kini menjadi sorotan, mengingat ketidaksesuaian antara janji untuk mematuhi kesepakatan dengan fakta bahwa serangan udara masih terus dilancarkan di tengah upaya perdamaian yang sedang diupayakan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi terbaru dari pihak Israel maupun Amerika Serikat mengenai kelanjutan serangan tersebut, serta dampaknya terhadap kelangsungan gencatan senjata yang diharapkan dapat meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. (*)



