Jumat, Februari 27, 2026
spot_img
BerandaAcehMenyuling Ulang Nilai Nilam Aceh, Riset Kampus Dorong Kebangkitan Komoditas Rakyat

Menyuling Ulang Nilai Nilam Aceh, Riset Kampus Dorong Kebangkitan Komoditas Rakyat

“Nilam tidak bisa lagi dipandang sekadar komoditas bahan baku. Ini sudah menjadi instrumen strategis dalam peta perdagangan global”

Selama bertahun-tahun, nilam Aceh dikenal sebagai minyak mentah hasil penyulingan tradisional yang diekspor ke berbagai negara. Meski Indonesia memasok sekitar 90 persen kebutuhan minyak nilam dunia, nilai tambah komoditas ini lebih banyak dinikmati industri di luar negeri.

Kepala Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK), Syaifullah Muhammad, mengatakan persoalan utama nilam Aceh bukan pada produksi, melainkan pada kualitas dan hilirisasi.

“Selama ini kita berhenti di crude patchouli oil. Nilai tambahnya diambil negara lain,” kata Syaifullah saat ditemui di Laboratorium ARC USK, Banda Aceh, Rabu (25/2/2026).

Jejak Sejarah Nilam Aceh

Nilam Aceh memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial. Pada 1884, Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) mulai mengembangkan tanaman Pogostemon cablin di Aceh. Ketika terjadi krisis moneter di Eropa, dibentuk Nederlandsch-Indische Landbouw Maatschappij (NILM) untuk menangani bisnis perkebunan.

Minyak yang dipasarkan saat itu dikenal sebagai “minyak NILM”. Dalam perkembangannya, istilah tersebut berubah dalam pelafalan menjadi “minyak nilam”. Ada pula perusahaan bernama Netherlands Indische Landbouw Atjeh Maatschappij (NILAM) yang mengatur tata niaga komoditas ini di Aceh.

Sejak awal abad ke-20, nilam telah menjadi komoditas ekspor penting. Namun hingga kini, pola ekspornya relatif sama, yakni dalam bentuk bahan mentah.

Data menunjukkan pada 2023 volume ekspor minyak nilam Indonesia mencapai 1,93 juta kilogram. Negara tujuan utama antara lain India, Perancis, dan Amerika Serikat.

Sejumlah produk turunan berbasis nilam hasil riset ARC Universitas Syiah Kuala dipamerkan di Laboratorium ARC USK, Banda Aceh, Rabu (25/2/2026). (Foto: Cut Nauval D)

Permasalahan Kualitas

Syaifullah menjelaskan, minyak nilam hasil penyulingan tradisional umumnya diproses menggunakan drum besi dengan sumber air seadanya. Cara ini membuat minyak mengandung kadar asam tinggi serta residu logam, sehingga tidak bisa langsung digunakan untuk industri parfum dan kosmetik premium.

“Kalau kualitasnya tidak ditingkatkan, kita akan terus berada di posisi paling bawah dalam rantai industri,” ujar Direktur Bisnis dan Dana Lestari Universitas Syiah Kuala itu.

Melalui ARC-USK, Syaifullah memimpin modernisasi industri nilam, mulai dari pengembangan bibit unggul berbasis kultur jaringan hingga hilirisasi produk bernilai tinggi seperti parfum dan perawatan kulit. Ia juga menulis buku Nilam, from Seed to Seal: Inovasi Berbasis Ilmu Pengetahuan dari Perguruan Tinggi ke Pasar Internasional yang merekam proses transformasi tersebut.

Atas kontribusinya, ia menerima berbagai penghargaan nasional dan internasional, termasuk Indonesia Innovator Award 2025 dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Riset dan Teknologi Pemurnian

Syaifullah alumni, Teknik Kimia, Curtin University of Technology, Australia itu juga mengatakan Untuk mengatasi persoalan tersebut, ARC mengembangkan teknologi vacuum molecular distillation. Proses ini dilakukan dengan tekanan rendah dan suhu terkontrol untuk memisahkan fraksi minyak sehingga menghasilkan kualitas yang lebih murni.

Melalui metode ini, kadar patchouli alcohol senyawa utama penentu mutu minyak nilamdapat meningkat hingga lebih dari 80 persen. Bahkan melalui proses kristalisasi lanjutan, dihasilkan kristal nilam dengan tingkat kemurnian sangat tinggi.

Selain pemurnian bahan baku, ARC juga mengembangkan produk turunan seperti parfum, facial wash, toner, dan serum berbasis fraksi nilam murni.

Gedung Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala yang ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) komoditas nilam di Jalan Tgk Chik Pante Kulu, Darussalam, Banda Aceh. (Foto: Cut Nauval D)

Dampak terhadap Petani

Peningkatan kualitas turut berdampak pada harga jual di tingkat petani. Jika sebelumnya harga nilam berkisar Rp350.000–Rp400.000 per kilogram, kini dapat mencapai Rp850.000 hingga Rp1,5 juta per kilogram.

Wilayah budidaya nilam juga meluas dari empat kabupaten menjadi 18 kabupaten di Aceh.

Menurut Syaifullah, kebangkitan nilam harus ditopang oleh riset yang berkelanjutan agar tidak kembali bergantung pada fluktuasi pasar semata.

Syaifullah juga menilai tren kenaikan tersebut harus direspons dengan kebijakan jangka menengah yang terarah dan berkelanjutan.

“Nilam tidak bisa lagi dipandang sekadar komoditas bahan baku. Ini sudah menjadi instrumen strategis dalam peta perdagangan global. Karena itu, perlu masuk dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM),” kata Syaifullah.

Menuju Banda Aceh Kota Parfum

Dari penguatan mutu nilam, muncul gagasan untuk menjadikan Banda Aceh sebagai Kota Parfum. Konsep ini berbasis pada sejarah perdagangan nilam, kapasitas riset, sumber daya manusia, serta potensi flora aromatik lokal.

ARC menyiapkan peta jalan pengembangan industri wewangian, termasuk pelatihan formulasi parfum, penguatan UMKM, serta kerja sama internasional. Dalam lima tahun ke depan, Banda Aceh ditargetkan memiliki festival parfum berskala internasional dan ikon kota bertema wewangian.

Upaya ini juga diperkuat melalui kerja sama dengan International Labour Organization (ILO) dalam pengembangan kapasitas pelaku usaha parfum di Aceh.

“Kita punya bahan baku yang kuat. Tantangannya adalah membangun ekosistem industrinya,” kata Syaifullah.

Dengan riset dan penguatan industri, nilam Aceh diharapkan tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah, melainkan menjadi komoditas bernilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER