Beranda Wisata & Travel Menikmati Sensasi dan Pesona Raja Ampat dari Puncak Bukit Piaynemo

Menikmati Sensasi dan Pesona Raja Ampat dari Puncak Bukit Piaynemo

BERBAGI
Gugusan pulau karang Raja Ampat, dilihat dari puncak bukit Piaynemo. (Foto/abdullah)

Salah satu lokasi yang paling tepat untuk bisa melihat gugusan pulau karang dengan air lautnya yang biru, yakni dari puncak bukit karang Piaynemo

Semua tak pernah mati, dan tak pernah hilang. Tetap tersimpan di dalam ingatan, tentang semalam di Raja Ampat”. Begitu penggalan lirik lagu berjudul Raja Ampat yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Andre Hehanusa, penyanyi yang namanya sudah populer di negeri ini.

Seperti juga Andre yang terpesona melihat keindahan alam Raja Ampat, begitu juga penulis yang telah mengunjungi dan melihat langsung gugusan pulau, bukit karang serta alam bahari di Papua Barat ini. Begitu indah dan memesona.

Tepatnya pada hari Sabtu (23/10/2021), penulis dan beberapa teman yang tergabung sebagai penguji UKW (Uji Kompetensi Wartawan) dari  Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) Jakarta, berkesempatan mengunjungi bukit karang Piaynemo di Papua Barat.

Usai menjalani aktivitas menguji selama dua hari penuh di kota Sorong, setelah menjelajah lautan, kira-kira 2,5 jam perjalanan dengan speedboat, kami tiba di Raja Ampat. Bersama penulis ada Lahyanto Nadie beserta istri, Ahmad Djauhari dan istri, serta Zaenal Aripin.

Bagi penulis, Raja Ampat sebuah impian untuk dikunjungi. Penulis dan teman-teman penguji, ingin melihat langsung pesona pulau-pulau karang di Raja Ampat ini. Gugusan pulau yang hijau terlihat jelas dari atas speedboat yang membawa penulis dan rombongan menuju destinasi wisata ini.

Salah satu lokasi yang paling tepat untuk bisa melihat gugusan pulau karang dengan air lautnya yang biru, yakni dari puncak bukit Piaynemo. Puncak bukit ini berada di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut.

Penulis di dermaga kecil bukit Piaynemo, Raja Ampat, sebelum mendaki ke puncak. (Foto/zaenal aripin)

Perjalanan mendaki ke puncak bukit karang Piaynemo awalnya memang terasa berat. Kami harus menaiki 289 anak tangga. Tangga ini terbuat dari kayu ulin, yakni kayu tanaman khas Kalimantan, yang populer disebut kayu besi.

“Kayu ini tetap kuat meski terkena hujan dan panas matahari,” kata Ahmad Djauhar, anggota Dewan Pers yang ikut dalam petualangan ini. Mas Djauhar, begitu kami memanggilnya, mendaki bukit karang ini bersama istrinya, dr.Lin Yuarni.

Kaki dengan beban berat tubuh di atas 60 Kg, harus terus melangkah. Berat memang. Apalagi bagi penulis yang sudah tidak muda lagi. Kami menaiki satu demi satu anak tangga dalam posisi menanjak. Meski betis serasa berat dan nyeri, tapi semangat untuk melangkah masih tetap membara.

Pepohonan liar sebesar betis orang dewasa, yang tumbuh di sekitar, menjadi penolong kami. Cabang, ranting dan dedaunan pohon ini membentuk kanopi di atas lintasan, melindungi kami dari sengatan sinar matahari.

Pengelola wisata Raja Ampat membangun tangga dari kayu ulin bagi wisatawan yang ingin mencapai puncak bukit Piaynemo. (Foto/abdullah)

Di bagian bawah bukit ini terasa adem. Air bening tampak menetes keluar dari celah-celah bukit karang. Mungkin ini yang membuat suhu di sepanjang lintasan pendakian terasa sejuk.

Di lintasan juga tersedia beberapa tempat istirahat, yang sekilas mirip halte bus. Pengunjung bisa rehat bila sudah kelelahan, usai menaiki beberapa anak tangga. Setelah melepas lelah sejenak, penulis melanjutkan perjalanan kembali hingga mencapai puncak Piaynemo bersama teman-teman. Keringat mengucur deras membahasi baju kaus berkerah yang penulis pakai.

“Setelah tadi begitu lelah untuk mencapai puncak, tapi kini semuanya terbayar dengan keindahan alam yang bisa kita lihat dari sini,” kata Zaenal Aripin, begitu mencapai puncak Piaynemo. Pria yang mengenakan rompi berwarna coklat susu ini juga seorang penguji LPDS, datang dari Bekasi.

Bersama teman-teman penguji dari LPDS, penulis mencapai puncak bukit karang Piaynemo, tepat tengah hari, saat sinar matahari membakar bumi. Terasa panas, tapi juga merasa puas. Hembusan angin laut atau angin gunung, sepoi-sepoi menerpa tubuh, melenyapkan rasa lelah.

Dari atas bukit karang Piaynemo, Raja Ampat, penulis melihat gugusan pulau karang menghiasi laut biru. Kapal-kapal nelayan, dan speadboat yang membawa wisatawan, tampak melintas di antara bukit karang. Inilah penampakan nyata dari keindahan alam Indonesia di tanah Papua. Begitu indah dan memesona.

Keindahan ini tak disia-siakan. Penulis dan teman-teman berfoto ria di puncak Piaynemo ini. Paling tidak, foto ini menjadi saksi bahwa kami telah sampai ke negeri nan indah ini.

Perjalanan mencapai puncak Piaynemo ini menjadi catatan sejarah bagi penulis. Mungkin juga bagi teman-teman penulis yang baru sekali menikmati destinasi wisata di Raja Ampat ini. Impian yang menjadi kenyataan, menikmati alam dan sensasi angin sepoi-sepoi di Raja Ampat. (maskur abdullah)

BERBAGI