“Wisatawan masih dapat merasakan udara sejuk ketika berada di bukit Bur Telege Takengon, Aceh Tengah”
Takengon pada masa lalu memang sangat berbeda dibandingkan dengan sekarang. Dahulu, kota yang dijuluki negeri di atas awan ini lebih sederhana dan alami.
Banyak bangunan tradisional dan lingkungan alam yang masih asri. Udaranya pun sejuk. Begitupun, akses jalan dan fasilitas umum juga belum sebaik sekarang, sehingga masyarakat hidup dalam suasana yang lebih tradisional.
Namun, seiring waktu, Takengon mengalami perkembangan yang pesat. Banyak berubah bila dibanding tahun 90-an. Pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, perkantoran, sekolah, rumah sakit, serta fasilitas wisata semakin meningkat.
Kini, kota ini lebih ramai dengan pengunjung yang tertarik akan keindahan alam dan potensi wisata, terutama dalam hal wisata alam dan budaya khas Gayo.
Meskipun perubahan ini membawa banyak kemajuan, berdampak pada udara di Takengon tak seperti dulu. Hal ini membuat sebagian orang mungkin merindukan suasana Takengon yang dulu, dingin dan asri.
Saat ini, udara sejuk tak lagi seperti dulu. Kini rasa dingin hanya bisa dirasakan saat pagi dan ketika malam hari tiba. Warga lokal maupun wisatawan yang dulunya pernah kemari memang mengakui, Takengon tak sedingin dulu.

Begitupun masih ada tempat atau lokasi yang saat ini hampir sama dengan Takengon masa lalu. Wisatawan dapat merasakan udara sejuk ketika berada di bukit Bur Telege Takengon, Aceh Tengah.
“Ini Takengon masa dulu,” sebut Dian, salah satu wisatawan dari Banda Aceh, ketika menikmati suasana malam lengkap dengan balutan jaket tebalnya.
Malam itu memang udaranya sejuk. Ditambah dengan hembusan angin Dataran Tinggi Gayo yang sepoi-sepoi menerpa hampir seluruh bagian tubuh. Sejuknya bukan main. Apalagi malam itu suhu di puncak Bur Telege hanya 19 derajat celcius.
Sudah tentu siapa pun yang berkunjung kemari hanyut dalam kedinginan dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan di kota. Sesekali terdengar kicauan burung dan suara angin berhembus kencang. Nyaman rasanya.
Rasanya ingin segera bersembunyi di balik selimut tebal. Namun, rugi sekali jika hanya melewatkan malam begitu saja dari Villa Bur Telege. Sebab hamparan lampu kelap-kelip menyuguhkan sensasi mata saat memandang ke bawah.
Pengunjung bak berada di atas pesawat dengan pemandangan di bawah, pancaran lampu kerlap-kerlip di Kota Takengon. Itulah indahnya Kota Takengon bila dipandang dari Bur Telege.
Memang nyatanya, dari puncak bukit ini pengunjung bisa mengeksplor berbagai keindahan Kota Tekangon. Di pagi hari, ketika cuaca mendukung dengan udara yang sejuk, pengunjung dapat menyaksikan kabut, sehingga lokasi ini seolah berada di atas awan. Samar-samar terlihat kota Takengon.
Di siang hari, pengunjung dapat menikmati panorama Kota Takengon dengan jelas dengan keindahan hamparan Danau Laut Tawar.

Ya, Bur Telege yang berada di ketinggian 1.450 Mdpl ini berada di Hakim Bale Bujang, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.
Tempat ini bisa ditempuh sekitar 10 menit dari pusat Kota Takengon. Walaupun jalanan sedikit menanjak dan berkelok, masih bisa dilalui, baik menggunakan roda dua maupun roda empat.
Bagi kalian yang tertarik ke Bur Telege bisa langsung datang dan nikmati keindahan Kota Takengon di siang hari. Namun bagi yang ingin menikmati keindahan Kota Takengon di malam hari pengunjung bisa bermalam di villa yang ada di Bur Telege Takengon.
Director Calandra Management, Iwan Wahyudi, yang memenejemeni Dream Hill Villa Bur Telege mengatakan, pihaknya telah mempersiapkan semuanya untuk menyambut wisatawan, baik ketika libur maupun pada hari-hari biasa.
Kata Iwan, Dream Hill Villa by Calandra tidak hanya menawarkan penginapan saja kepada pengunjung, tetapi juga menawarkan kafe dan area untuk bersantai.
“Jadi jangan ragu untuk mengunjungi villa kami,” ungkap Iwan. (*)