“Keterlibatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam rantai nilai pariwisata di Kota Sabang menjadi fondasi penting penguatan ekonomi lokal”
UMKM tidak sekadar pelengkap destinasi, tetapi menjadi aktor kunci yang membentuk pengalaman wisata, sejak wisatawan merencanakan kunjungan hingga kembali ke daerah asal.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Sabang, Soffa Dewi Yohanna, menegaskan bahwa UMKM berperan sebagai penggerak ekonomi lokal sekaligus penyedia produk autentik yang menjadi identitas destinasi.
“UMKM terintegrasi langsung dalam ekosistem pariwisata, mulai dari pra-kunjungan hingga pasca-kunjungan. Produk mereka bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga representasi budaya,” ujarnya.
Menguatkan Daya Tarik Lewat Produk Autentik
Dalam praktiknya, UMKM di Sabang terlibat dalam berbagai mata rantai industri wisata. Pelaku usaha kuliner dan kerajinan tangan menjadi komponen utama yang memberi nilai tambah destinasi. Makanan tradisional, produk olahan laut, tenun, hingga ukiran khas menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya otentik.
Di sektor layanan, UMKM mengelola homestay, penginapan kecil, penyewaan transportasi, hingga jasa pemandu wisata lokal. Keberadaan usaha-usaha ini memperluas pilihan akomodasi sekaligus membuka peluang ekonomi langsung bagi masyarakat.
Tak hanya itu, UMKM juga masuk dalam rantai pasok hotel dan restoran skala besar. Mereka menyuplai bahan pangan segar, perlengkapan kamar, hingga produk suvenir. Pola kemitraan ini memperkuat ekosistem usaha yang saling terhubung.

“Peran UMKM dalam pengembangan desa wisata dan praktik wisata berkelanjutan juga signifikan. Mereka mendorong pemberdayaan komunitas, memproduksi barang kreatif berbasis daur ulang, serta menjaga kelestarian budaya lokal,” kata Soffa kepada Waspadaaceh.com, Selasa (24/2/2026).
Strategi Penguatan Kapasitas dan Akses Pasar
Pengembangan UMKM di destinasi wisata, menurut Soffa, membutuhkan pendekatan strategis yang terintegrasi. Fokus utama diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta perluasan akses pasar.
Program pelatihan manajemen keuangan, misalnya, membantu pelaku UMKM mengelola modal dan arus kas secara lebih efektif. Sementara pelatihan pemasaran digital membuka peluang promosi melalui platform daring untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Pemanfaatan teknologi seperti sistem manajemen inventaris berbasis digital maupun platform e-commerce dinilai dapat meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing. Dalam konteks persaingan global, kualitas SDM menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha.
“Pelatihan dan peningkatan kualitas SDM adalah elemen kunci agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh secara kompetitif,” ujarnya.
Pemerintah daerah juga mendorong kemudahan akses UMKM ke jaringan perdagangan nasional dan internasional melalui pameran dagang, kerja sama dengan platform digital global, serta insentif ekspor.

Infrastruktur dan Tata Kelola Destinasi
Selain penguatan kapasitas pelaku usaha, pengelolaan destinasi wisata turut menentukan perkembangan UMKM. Infrastruktur yang memadai akses transportasi yang mudah dan fasilitas umum yang layak berkontribusi pada kelancaran operasional usaha.
Destinasi yang terkelola baik mempermudah akses wisatawan sekaligus menekan biaya operasional UMKM. Dengan dukungan infrastruktur dan kebijakan yang tepat, UMKM di Sabang diharapkan semakin berperan strategis dalam memperkuat ekonomi lokal sekaligus menopang pertumbuhan pariwisata berkelanjutan.
Keterlibatan UMKM, pada akhirnya, bukan hanya soal skala usaha, melainkan tentang bagaimana rantai nilai pariwisata dibangun secara inklusif dan berdaya saing. (*)



