Beranda Disbudpar Aceh Melirik Tradisi Tujuh Bulanan bagi Wanita Hamil di Aceh

Melirik Tradisi Tujuh Bulanan bagi Wanita Hamil di Aceh

BERBAGI

Aceh Besar (Waspada Aceh) – Keberagaman budaya di Indonesia membuat setiap daerah mempunyai tradisi masing-masing, misalnya dalam merayakan kehadiran bayi yang masih di dalam kandungan.

Salah satunya seperti tradisi tujuh bulanan yang dilakukan masyarakat Aceh, saat usia kehamilan ibu memasuki tujuh bulan. Tradisi ini berupa syukuran bagi keluarga dalam menyambut kehadiran sang bayi yang dilakukan oleh kedua belah pihak, baik pihak keluarga suami maupun keluarga istri.

Menurut adat Aceh, memasuki masa kehamilan tujuh bulan, keluarga suami mendatangi keluarga istri dengan membawa berbagai aneka makanan.

Tradisi tujuh bulanan ini mempunyai nama lain sesuai dengan kearifan lokal setempat. Di Aceh Besar biasa disebut dengan Ba Bu Tujoeh Buleun. Di daerah lain ada yang menyebutkan tradisi “keumaweuh“, “Pesijuek Lueng“,  “Mee Bu,”  “adat Mume” dan nama lainnya.

Jurnalis Waspadaaceh.com, Sabtu (9/10/2021) menyaksikan tradisi tujuh bulanan bagi masyarakat di Aceh Besar, yaitu tradisi Ba bu Tujoeh Buleun. Acara ini di Desa Lam Ujoeng Meunasah Baet Kecamatan Krueng Barona Jaya Aceh Besar.

Siti Khadijah, tokoh pemberdayaan perempuan serta tokoh sdat di Lam Ujoeng Meunasah Baet, yang akrab disapa Ummik, mengatakan, acara prosesi adat peumano tujoeh buleun, berupa peusijuek, makan bersama serta memberi ucapan selamat kepada sang ibu.

“Prosesi adat ini juga untuk menjalin silaturahim dan ukuwah antar sesama saudara, dan berdoa untuk keselamatan dan kesehatan sang ibu,” ucapnya.

Rangkaian prosesi adat dalam tradisi tujuh bulanan ini di antaranya, pertama: peumano tujoeh buleun yaitu memandikan ibu hamil. Biasanya yang memandikan orang yang dituakan di desa tersebut maupun orang tua baik dari ibu hamil maupun dari pihak suaminya. Air yang digunakan untuk mandi adalah air rendaman beberapa macam bunga.

Prosesi itu terus diringi pembacaan shalawat, maupun doa-doa. Selanjutnya, setelah selesai mandi, mengganti pakaian.

Prosesi ke dua, peusijuek, sebelum acara makan dimulai. Selanjutnya peusijuk atau tepung tawar kepada pasangan suami-istri. Acara peusijuk dipimpin oleh tetua gampong ataupun pihak keluarga. Pasangan ini didoakan agar mendapat kemudahan dalam proses persalinan.

Menurut Khadijah, orang yang melakukan peusijuk niatnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah dalam memohon dengan doa-doa yang dibacakan pada saat peusijuk itu dilakukan.

Bahan-bahan yang menjadi perlengkapan peusijuk adalah satu talam ketan kuning dengan tampo (penganan pisang yang dilumatkan dengan tepung beras), satu baki air, satu ikat dedaunan untuk tebar air (on seuneujuek), dan satu genggam padi dan beras.

Semua lauk pauk tadi dimasak dengan bermacam jenis masakan Aceh. Seperti asam keueng, dan tumis udang, kuah lapek dan aneka lauk pauk. Lauk pauk yang telah masak, lalu dibungkus dengan daun pisang.

Setelahnya makan bersama. Setelah makan, si ibu hamil menyalami semua undangan sebagai bentuk rasa terima kasih dan mohon doa keselamatan. Semua prosesi yang dijalani intinya adalah memohon pada Allah SWT. (Cut Nauval Dafistri)

BERBAGI