Beranda Laporan Khusus Melirik Kehidupan Pulau Krueng Tho di Aceh Timur

Melirik Kehidupan Pulau Krueng Tho di Aceh Timur

BERBAGI
Pulau Krueng Tho, merupakan salah satu pulau terluar di Provinsi Aceh. Lokasinya di perbatasan jalur internasional Selat Malaka. Pulau ini juga termasuk kawasan Gampong Meunasah Asan, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur. (Foto/cut nauval dafistri)

“Sebelum konflik Aceh, pulau ini merupakan tempat persinggahan para nelayan. Setelah konflik tidak ada yang berani datang ke pulau tersebut”

————

Pulau Krueng Tho, merupakan salah satu pulau terluar di Provinsi Aceh. Lokasinya di perbatasan jalur internasional Selat Malaka. Pulau ini juga termasuk kawasan Gampong Meunasah Asan, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur.

Meski saat belum berpenghuni, pulau ini kaya dengan potensi alamnya, baik perikanan, pertanian dan potensi pariwisata yang perlu dilestarikan. Kini pulau tersebut dijadikan sebagai lahan budidaya semangka dan sawit oleh para petani.

Untuk menuju Pulau Krueng Tho, waktu tempuh sekitar 30-40 menit dari tempat pelelangan ikan (TPI) Meunasah Asan. Jurnalis Waspadaaceh.com bersama Tim Pengabdian Masyarakat Pascasarjana UIN Arraniry dan Staf Kecamatan Madat, baru-baru ini ikut menyusuri kawasan yang kaya potensi alam tersebut pada Rabu (17/3/2021).

Transportasi menuju Pulau Krueng Tho menggunakan perahu kayu dengan mesin dongfeng (perahu motor). Mesin dongfeng ini mengeluarkan kepulan asap hitam dan suara yang keras.

Perjalanan diawali dengan menyusuri muara sungai di Kecamatan Madat. Terlihat keelokan hutan mangrove yang berjejer di sisi kiri dan kanan sungai. Sesekali perahu nelayan lainnya melintas menyusuri muara sambil mencari ikan. Setelah menyusuri muara, kemudian tampak keindahan panorama laut lepas serta panorama tepi pantai dengan pohon cemara yang berjejeran dari kejauhan.

Tidak lama kemudian tiba di Pulau Krueng Tho. Tampaknya pulau ini masih sangat asri, dengan lautan yang luas nan membiru. Pulau ini juga menawarkan pasir putih di sepanjang hamparan pantai. Namun terdapat sisa-sisa potongan kayu yang terdampar di pulau tersebut sehingga tampak seperti sampah.

Pada umumnya lahan di pulau tersebut dimanfaakan oleh petani semangka. Saat tim meninjau lokasi tersebut tampak buah semangka muncul di antara daun-daun yang merambat di tanah. Namun sayangnya belum musim panen, tapi ada juga beberapa semangka yang bisa dipetik langsung.

Tak lengkap rasanya setelah sampai di kebun semangka ini bila tidak menikmati buah yang segar, bisa langsung dipetik dari tangkainya. Buah semangka di sini memiliki rasa yang sangat manis.

Semangka yang ditanam petani di Pulau Krueng Tho sudah berbuah. (Foto/cut nauval dafistri)

Jailani, 55, petani semangka asal Aceh Utara, mengaku sementara ini dia tinggal di pulau untuk menunggu hasil panen. Dia mengatakan, untuk menanam semangka mulai dari bibit sampai panen pertama membutuhkan waktu sekitar 51 hari, selanjutnya semangka bisa panen 3 kali dalam seminggu. Kata Jalal dalam sebulan bisa menghasilkan 50 ton semangka. Setelah panen maka hasilnya tersebut akan dibagi dengan pemilik modal.

Kendala bagi Jailani menjadi petani semangka yaitu pada akses transportasi menuju pulau tersebut. Katanya untuk transportasi membawa hasil panen banyak menghabiskan biaya.

Dahulunya, kata Basyaruddin, pengemudi kapal motor, sebelum konflik Aceh, pulau ini merupakan tempat persinggahan para nelayan. Setelah konflik tidak ada yang berani datang ke pulau tersebut.

Dia juga menambahkan, banyak para pemotong kayu di pulau ini, terutama yang mencari pohon bakau untuk dijadikan arang. kayu tersebut dikirim ke berbagai daerah bahkan ke Jepang. Dia juga menduga, pulau itu kerap dijadikan sebagai tempat penampungan barang seludupan dari luar negeri seperti bawang putih, bawang merah dan baju bekas.

“Barokeon inan, tempat singgah-singgah ureung melaot, aleuh nyan ka bubar, sebab konflik. Jadi ka kosong, maka jino dimanfaatkan pula boh timon dan sawit,” ungkap Basyaruddin menggunakan bahasa Aceh

Dedy, staf Kecamatan Madat yang ikut menelusuri kawasan Pulau Krueng Tho mengatakan, keberadaan pulau itu masih asri dan belum terpublikasikan.

Sementara itu Camat Madat, Mukhtaruddin, mengatakan bahwa pulau tersebut luasnya sekitar 600 hektare lebih. Dinamakan Pulau Krueng Tho, berarti sungai yang kering. Kata camat, saat air laut surut maka tampak alur muara sungai di pulau tersebut menjadi dangkal bahkan kering.

Setahun yang lalu, kata Mukhtaruddin, telah dilaksanakan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Madat dengan mewacanakan membangun kawasan ekonomi di Pulau Krueng Tho.

“Ada bantuan serta binaan dari Muspika Madat bagi kelompok tani sebanyak 25 petani berupa bibit maupun pupuk. Sehingga petani tersebut mampu membuka lahan hingga 50 hektare. Hasil panennya dalam dua bulan setengah bisa mencapai 400 ton,” tuturnya.

Buah semangka di Pulau Krueng Tho juga memiliki kualitas super, bahkan berat dalam satu buahnya bisa mencapai 12 Kg.

Ada banyak potensi yang bisa dikembangkan di sana, kata Mukhtaruddin. Tidak hanya semangka yang bisa dibudidaya, namun masih banyak jenis tanaman lain yang bisa dikembangkan sesuai dengan kondisi tanah dan udara di daerah tersebut, tambahnya.

Mukhtaruddin mengatakan bahwa selama ini pemerintah sudah membangun akses jalur darat menuju pulau tersebut. Namun belum sempurna, akibat pandemi COVID-19 sehingga alokasi dana tidak pada pembangunan namun lebih menyasar kepada bantuan sosial.

“Jalur darat menuju Pulau Krueng Tho yang sudah kita bangun menggunakan dana desa lebih kurang 2 Km, namun sekitar 5 Km lagi baru bisa menembus pulau tersebut,” ungkapnya.

Untuk biaya pertanian tidak tergolong tinggi, tetapi untuk mengangkut hasil panen melalui transportasi sungai membutuhkan biaya besar.

“Biaya bagi para petani untuk membawa semangka dari Pulau Krueng Tho ke TPI Meunasah Asan, jika menaiki perahu tersebut bisa menghabiskan biaya Rp500.000 per 1 ton,” ungkap Mukhtaruddin.

Perencanaan ke depan, kata mukhtaruddin, pemerintah akan membuka akses ke pulau tersebut sehingga terbentuk pemukiman baru. Selain itu juga akan dibangun pelabuhan mini.

Dengan adanya kehidupan di pulau tersebut bisa menjadi sumber ekonomi masyarakat. Selain itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan oleh pihak tertentu seperti adanya penyelundupan barang ilegal. (Cut Nauval Dafistri)