Masuk Secara Illegal, Bea Cukai Musnahkan 89 Ayam asal Thailand Terinfeksi Flu Burung

    BERBAGI
    Petugas Karantina Pertanian menyuntik mati ayam illegal asal Thailand yang terjangkit virus Avian Influenza (Flu Burung). Ayam yang sudah mati selanjutnya dimusnahkan dengan cara dibakar. (Foto/Cut Nauval Dafistri)

    Aceh Besar (Waspada Aceh) – Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh bersinergi dengan Stasiun Karantina Pertanian Banda Aceh memusnahkan barang impor illegal berupa ayam asal Thailand sebanyak 89 ekor.

    Pemusnahan tersebut dilakukan di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh, di Blang Bintang, Aceh Besar, Selasa (9/2/2021). Selain itu, Bea Cukai juga mengamankan tiga ekor kura-kura yang juga diimpor secara illegal. Kura-kura tersebut dalam kondisi sehat dan tidak terinfeksi virus. Selanjutnya kura-kura akan diserahkan kepada BKSDA (Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam) untuk dilepasliarkan.

    Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh, Ibrahim mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan tim karantina, 89 ekor ayam tersebut dilaporkan terkena penyakit Flue Burung (Avian Influenza).

    “Begitu ganasnya flu burung, tidak hanya menularkan ke sesama unggas namun juga bisa menularkan kepada manusia. Sebelum ayam ini masuk, ada ayam kita dua ekor yang keadaannya sehat segar bugar. Tetapi satu malam setelah masuknya ayam illegal ini, padahal dipisahkan tempatnya, besok paginya ayam tersebut tewas,” ungkap Ibrahim.

    Keberadaan virus Avian Influenza tersebut, kata Ibrahim, telah terbukti positif melalui pengujian sampel sel darah ayam yang dilakukan oleh tim laboratorium Stasiun Karantina Pertanian Kelas I, pada Rabu (3/2/2021).

    “Maka hari ini tim eksekusi memutuskan melakukan pemusnahan ayam illegal ini, dilakukan dengan cara disuntik mati dan dibakar di ruang bakar instalasi karantina agar masyarakat terhindar dari bahaya pandemi flu burung,” jelasnya.

    Sementara itu Safuadi, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh mengatakan, Bea Cukai dengan misinya melindungi masyarakat dari masuknya barang-barang illegal, senantiasa tanpa henti melakukan patrol laut maupun darat.

    Kata Safuadi, ayam illegal tersebut berasal dari Thailand, total bernilai 2 milyar rupiah. Pemusnahan ayam-ayam illegal tersebut hasil penindakan yang telah dilakukan secara sinergi oleh Kanwil Bea Cukai Aceh, Kanwilsus Bea Cukai Kepulauan Riau, dan Bea Cukai Langsa, pada Sabtu (30/01/2021), terhadap KM (kapal motor) tanpa nama di perairan Tamiang.

    “Pada penindakan tersebut, lanjut Safuadi, petugas menangkap tiga tersangka. Salah satu tersangka berstatus residivis pidana penyelundupan impor tahun 2019. Ketiga tersangka tersebut telah ditahan oleh penyidik Bea Cukai,” lanjutnya.

    Selain untuk menghindari bahaya dari sisi kesehatan, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh juga menjelaskan, pemusnahan 89 ayam illegal itu untuk menghindarkan masyarakat dari kerusakan moral dan bahaya genetika. Hal itu, kata dia, disebabkan adanya penyelundupan ayam yang bertujuan untuk menjadikan ayam tersebut sebagai alat perjudian serta sebagai induk untuk dibudidayakan dengan spesies lokal secara illegal.

    Sementara itu Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala (USK) drh. Teuku Reza Ferasyi, menjelaskan, secara umum di Indonesia pernah terjadi beberapa kasus flu burung. Meskipun di masa pandemi COVID-19 ini, masyarakat juga harus mengantisipasi terjangkitnya flu burung tersebut.

    “Pada dasarnya kasus-kasus tersebut masih ada, masih ditemukan di tempat-tempat tertentu. Maka masyarakat perlu mewaspadai agar tidak terjangkit pandemi flu burung ini. Flu burung ditandai dengan adanya kasus kematian unggas yang secara mendadak atau dalam jumlah yang banyak,” tutur Dekan FKH USK itu.

    Teuku Reza Ferasyi mengimbau masyarakat perlunya memahami bahwa kesehatan pada unggas itu penting. Karena selain untuk unggas sendiri juga untuk kesehatan si peternak serta keluarga sekitar, ujarnya.

    “Kalau ada gejala-gejala yang mengarah kepada tidak normal maka segera melaporkan kepada pihak petugas terkait untuk segera dilakukan tindakan pengendalian yang tepat termasuk pemusnahan ternak,” ungkapnya. (Cut Nauval Dafistri)

    BERBAGI