Kota ini seolah tak berpenghuni – hanya cahaya-cahaya samar yang muncul sesekali.
Selasa malam, 2 Desember 2025. Roda mobil Honda CRV tim jurnalis bergesek dengan lumpur tebal dan pegas, mengeluarkan bunyi “skrrr…skrrr..”. Memecah keheningan di bawah hujan rintik-rintik.
Ramadan, pemimpin tim, memegang kemudi dengan erat. Matanya terjaga tajam melintasi kegelapan yang hanya sedikit terang oleh sorot far.
Malam itu tim memulai perjalanan dari kota Langsa, setelah terjebak banjir selama tujuh hari. “Kita ini juga penyintas,” celetuk Rizal Anwar, anggota tim.
Kami harus melakukan perjalanan pulang ke Medan. Kondisi jalan antara Langsa – Kualasimpang – Pangakalan Berandan benar-benar masih sangat parah.
Dari Manyak Payet hingga kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, material banjir tampak menutupi permukaan jalan: puing-puing atap yang hancur, bongkahan tembok, perabotan rumah tangga bahkan ratusan kendaraan (mobil dan motor) yang terlempar akibat terjangan banjir.
Lampu listrik masih padam – sudah berhari-hari, sehingga sepanjang perjalanan dari Manyak Payet ke perbatasan Sumatera Utara, semuanya terbungkus kegelapan yang pekat. Jaringan telepon selular dan internet mati, terputus dari dunia luar.
Beberapa warga korban banjir, terlihat seperti bayangan yang lemah, duduk atau tiduran di kursi pinggir jalan, di antara tumpukan lumpur. Matanya kosong, mengawasi rumah mereka yang sudah hanyut atau rusak hingga tak bisa ditinggali lagi.
Di sekitar daerah Bendahara, beberapa tiang listrik tumbang — nyaris rubuh ke tanah, menyilang dengan batang pohon yang tercabik-cabik. Benda-benda ini menjadi rintangan yang sulit dilewati, membuat mobil harus berbelok-belok dengan hati-hati. Beberapa rumah bergeser dari tempatnya, seolah terseret oleh kekuatan yang tak terlawan.
Puluhan mobil terdampak banjir tampak dibiarkan mangkrak di jalanan, sebagian posisi terbalik atau ban-nya terangkat ke atas. Daerah ini seolah tak berpenghuni – hanya cahaya-cahaya samar yang muncul sesekali, berasal dari api ban bekas atau puing-puing kayu yang dibakar untuk menghangatkan diri.
Ruas jalan di sini sebagian sudah tergerus air, nyaris putus. Air sisa banjir masih mengalir deras, mengeluarkan suara keras. Aspalnya terkelupas, terbongkar, menyisakan permukaan yang kasar dan licin karena lumpur yang menumpuk.

Tidak ada tangisan yang terdengar – hanya keheningan yang menyelimuti, campur aduk dengan nafas mereka yang terengah-engah. Beberapa pemuda menyodorkan ember kecil, berharap sumbangan dari pelintas. Beberapa yang lain membantu memandu pengendara melewati jalan yang licin dan sempit karena puing-puing rumah dan jalan rusak.
Ada juga yang menyetop mobil untuk sekedar meminta minuman. Ada juga yang hanya meminta snack, karena mungkin ada yang berhari-hari belum makan.
Memasuki kota Kualasimpang, aroma tak sedap menyengat menyebar di udara, berasal dari sisa-sisa barang yang hanyut dan air yang membusuk. Lumpur tebal masih menutupi jalanan. Tampak ada lapangan, tapi itu bekas tapak beberapa rumah yang hanyut diterjang banjir.
“Kota ini seperti kota mati, yang ditinggalkan penghuninya. Porak-poranda. Bagaimana nasib penghuninya, ngungsi kemana lah mereka,” kata Ramadan. Suaranya rendah bergetar, tapi terdengar jelas di dalam mobil yang tertutup rapat. Mata jurnalis senior ini tampak berkaca-kaca.
Udara di dalam mobil terasa kaku, seolah menyesuaikan suasana luar yang menyedihkan. Pemandangan di sekitar kota gelap gulita. Hanya ada satu-dua cahaya dari motor, senter mini yang dipegang warga atau cahaya dari api kayu yang dibakar di pinggir jalan.
Kota ini benar-benar seperti yang dikatakan Ramadan: kota mati, yang ditinggalkan dalam kegelapan dan kesedihan, menunggu seseorang yang akan membawanya kembali ke kehidupannya.
Tampak tiga orang warga berjalan tanpa sandal. Bajunya basah. Dari bagian kaki hingga wajah, nyaris tertutup lumpur. Kota Kualasimpang rusak berantakan. Puluhan mobil terlihat mangkrak dipenuhi lumpur, sebagian dalam kondisi jungkir balik.
Perjalanan tim terus berlanjut, melalui titik-titik berbahaya yang membuat jantung berdebar kencang. Setiap roda mobil berjalan seperti perjuangan, melawan lumpur, genangan banjir, kegelapan, dan ketidakpastian.

Ketika mendekati Terminal Kualasimpang menuju depan Makodim Aceh Tamiang, air banjir masih tinggi di beberapa titik. Banyak kendaraan mengantri, mengular, sopirnya ragu-ragu untuk melintas. Mereka melihat dengan khawatir ke air yang menggenangi jalan. Tak tahu apa yang ada di bawahnya.
Hujan sedikit deras menambah keraguan para sopir. Mereka tetap bertahan di bawah pohon di pinggir jalan. Mirisnya, sejak hari pertama bencana kami nyaris tidak melihat satupun petugas negara membantu para korban. Bahkan di jalan lintas Sumatera yang ketinggian banjirnya bisa mencapai hingga 1,5 meter, pada tingkat berbahaya.
Pada Selasa malam kami hanya melihat personel Brimob di depan Mapolres Aceh Tamiang, lengkap dengan perangkat/mobil pendukung. Tapi di kota Kualasimpang dan sisi kiri kanan jalinsum dari arah Langsa ke Kualasimpang, kondisinya masih porak-poranda. Material yang diterjang banjir dan kendaraan, masih mangkrak di jalanan. Tidak terlihat ada petugas yang berjaga atau beraktivitas di daerah ini.
Terkesan, warga harus menyelamatkan dirinya sendiri. Para pengendara harus meraba-raba jalur mana yang banjirnya dangkal dan aman dilalui. Padahal jalurnya cukup berbahaya. Kondisi ini terlihat hingga Selasa malam (2/12/2025), di jalan lintas Langsa menuju perbatasan Sumut.
Walau telah melihat medan yang begitu berat dan berbahaya, tim jurnalis sepakat tetap melintasi genangan banjir. Kami bersiap menghadai risiko, mobil mogok atau harus berhenti di tengah banjir.
Tapi beberapa saat sebelumnya, Ramadan turun dari mobil, berjalan 300 meter ke arah titik banjir. Di bawah guyuran hujan lebat, ia mengamati beberapa kendaraan yang nekat menerjang banjir, dan berhasil menyeberang. Terutama mobil dengan bodi tinggi.
“Aku melihat ketinggian air sampe batas mana. Bismillah aja kita, ayo lanjut,” kata Ramadan setelah masuk ke mobil.
Ada keraguan di antara anggota tim. Saat itu pikiran kami masih terbebani oleh pemandangan menegangkan di kota Kualasimpang. Tapi Ramadan, kukuh membawa mobil menerjang genangan air.
Dan akhirnya, seperti memasuki udara setelah ditahan lama di bawah air, kami lolos. Arus yang tadi terasa seperti monster mulai tenang di belakang.
Kami terus melanjutkan perjalanan. Jalan di depan perlahan mengering. Lampu-lampu kecil rumah penduduk yang kami lintasi di Seumadam, salah satu kawasan longsor, mulai muncul; sangat jauh, seperti noktah-noktah harapan.
Perjalanan menuju Medan masih panjang, tapi ketakutan terbesar kami saat melintasi sisa banjir terparah di depan Makodim 0117/Aceh Tamiang, kawasan Alur Gantung, telah kami lewati.
Tiba di Besitang, Sumatera Utara, kawasan yang juga baru luluh lantak diterkam banjir, kami berhenti untuk antre BBM. Di sini kami dapat menyambung nyawa.mobil, setelah memperoleh asupan BBM yang dibatasi SPBU, hanya Rp100 ribu.
Satu jam menjelang Subuh, kami memasuki Kota Medan lewat jalur tol. Langit masih gelap, tetapi rasanya cahaya pertama sudah menunggu di balik horizon. Di kursi depan, Ramadan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menutup jendela yang berembun dan menghela napas panjang.
Pada saat itu kami sadar, bukan hanya banjir yang sedang kami liput—tetapi juga keteguhan manusia bertahan ketika negara dan keadaan seakan absen. Dan mungkin, malam itu, keberanian kecil kami hanyalah salah satu cara mencatat bahwa hidup bisa tetap bergerak, bahkan ketika dunia seolah berhenti bersama absennya empati aparat negara kita. (*)



