“Lantunan itu menjadi penanda bahwa Ramadhan hampir usai, sekaligus sambutan hangat untuk meugang dan Hari Raya Idul Fitri yang kian dekat”
Usai Magrib, suara petasan bersahut-sahutan memecah langit kampung. Dentumannya menggema dari satu sudut ke sudut lain, seolah menjadi tanda bahwa malam yang dinanti telah tiba.
Anak-anak berhamburan keluar rumah, menuju halaman masing-masing. Ada yang berkumpul, ada pula yang sibuk dengan persiapan sendiri.
Malam ke-27 Ramadhan, bagi masyarakat Gayo Lues, Provinsi Aceh, bukan sekadar malam biasa. Inilah waktu untuk (main lamle) tradisi lama yang terus bertahan di tengah arus modernisasi.
Di halaman rumah, sebuah pohon pisang berukuran sedang ditancapkan dalam pot. Batangnya sederhana, namun segera berubah menjadi pusat perhatian.
Daun-daunnya dihiasi bunga-bunga segar yang dipetik dari pekarangan warga. Aneka jajanan digantung, menambah warna dan keceriaan.
Di sela-selanya, lilin-lilin kecil dan sedang disusun, siap dinyalakan saat malam kian larut. Kembang api pun tak ketinggalan, menunggu giliran untuk menyala.
Sejak siang hari, anak-anak sudah sibuk mempersiapkan semuanya. Mereka berburu bunga, mengumpulkan pernak-pernik, hingga memastikan setiap detail terlihat indah. Orang tua pun ikut terlibat membantu, mengarahkan, sekaligus menikmati semangat yang menular dari anak-anak mereka.
Biasanya, suasana malam lamle begitu meriah. Anak-anak berkeliling kampung sambil bernyanyi.
“Le lam le, iyo ini lepat tikik, iyo lang lepat dele. Soai naik dengke…”
Lantunan itu menjadi penanda bahwa Ramadhan hampir usai, sekaligus sambutan hangat untuk meugang dan Hari Raya Idul Fitri yang kian dekat.
Sekitar pukul 21.00 WIB, rangkaian lamle mencapai puncaknya. Lilin-lilin dinyalakan, cahaya kecil berkelip di antara daun pisang dan bunga.
Tawa anak-anak pecah, petasan kembali berbunyi, dan suasana kampung dipenuhi kehangatan kebersamaan.
Di akhir acara, makanan yang digantung di pohon pisang menjadi rebutan momen yang paling ditunggu dan selalu menghadirkan keceriaan.
Di sisi lain kampung, toko-toko penjual lilin dan petasan diserbu warga. Berbagai ukuran lilin diburu hingga sebagian stok habis. Ini menjadi tanda bahwa tradisi ini masih hidup dan masih dicintai.
Namun malam itu berbeda. Hujan turun perlahan, meredam sebagian kemeriahan. Cahaya lilin tampak lebih redup, suara petasan tak seintens biasanya. Anak-anak tetap bermain, tetapi tidak sebebas tahun-tahun sebelumnya.
Di tengah gempuran gawai dan perubahan zaman, main lamle memang masih bertahan. Meski tak semeriah dulu, tradisi ini tetap menjadi ruang bagi kebersamaan, kreativitas, dan warisan budaya yang terus dijaga.
Hujan mungkin meredam gemerlapnya malam itu, tetapi tidak dengan semangatnya. Di balik cahaya lilin yang sederhana, lamle tetap menyala menghangatkan ingatan, dan menjaga identitas. (*)



