Kamis, Februari 26, 2026
spot_img
BerandaAcehLiterasi Keuangan Jadi Pintu Masuk Akses Pembiayaan Petani Nilam di Aceh

Literasi Keuangan Jadi Pintu Masuk Akses Pembiayaan Petani Nilam di Aceh

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Akses pembiayaan masih menjadi salah satu hambatan utama bagi petani nilam di Aceh. Untuk menjawab tantangan tersebut, International Labour Organization (ILO) menggandeng BPRS Mustaqim dalam skema penguatan keuangan inklusif melalui program PROMISE II IMPACT.

Direktur Operasional BPRS Mustaqim, Syahrul Effendi, mengatakan pihaknya sejak awal memiliki mandat untuk memudahkan akses keuangan masyarakat, khususnya sektor UMKM dan pertanian.

“Sektor pertanian memang menjadi fokus kami. Tapi untuk nilam ini, kami tetap berhati-hati karena siklusnya panjang dan risikonya berbeda dengan komoditas seperti padi,” ujar Syahrul. Kepada awak media di Kantor BPRS Mustaqim, Rabu (25/2/2026).

Skema Disesuaikan Siklus Tanam

Berbeda dengan pembiayaan UMKM pada umumnya yang menggunakan cicilan bulanan, pembiayaan nilam disesuaikan dengan siklus tanam sekitar delapan bulan.

BPRS Mustaqim menerapkan grace period, di mana pembayaran dilakukan saat panen. Skema ini dinilai lebih realistis bagi petani yang belum memiliki arus kas rutin. Meski demikian, Syahrul mengakui risiko sektor ini cukup tinggi.

“Risikonya ada dua, gagal panen dan fluktuasi harga. Harga nilam bisa naik sampai Rp1,8 juta per kilogram, tapi juga bisa turun drastis,” katanya.

Untuk mengurangi risiko, pembiayaan dilakukan dalam skema kelompok beranggotakan 5–10 orang dengan mekanisme tanggung renteng. Jika satu anggota bermasalah, kelompok ikut bertanggung jawab.

Pembiayaan Masih Tahap Uji Coba

Sejauh ini, realisasi pembiayaan masih terbatas. Pada 2024, pembiayaan awal sekitar Rp50 juta. Salah satu pembiayaan alat penyulingan mencapai Rp500 juta. Total akumulasi pembiayaan mendekati Rp800 juta.

Saat ini terdapat dua kelompok petani aktif, sementara beberapa lainnya dalam proses pengajuan ulang.

“Kami belum ekspansif karena ini sektor baru. Kami ingin memastikan modelnya tepat sebelum diperluas,” ujar Syahrul.

Dalam proses pembiayaan, bank melakukan verifikasi berlapis, mulai dari analisis kredit, konfirmasi kepala desa, hingga memastikan calon penerima benar-benar memiliki lahan dan pengalaman bertani.

Literasi Keuangan Jadi Pintu Masuk
National Program Officer PROMISE II IMPACT ILO, Yanis Saputra, menjelaskan bahwa pembiayaan bukanlah langkah pertama dalam program ini.

“Kami memulai dengan literasi keuangan dan pelatihan kewirausahaan kepada sekitar 50 UMKM binaan BPRS Mustaqim,” katanya.

Di wilayah Lhoong, sekitar 80 orang mengikuti pelatihan. Dari jumlah tersebut, 30 orang mendapat pendampingan lanjutan (after training support). Pendampingan dilakukan rutin setiap satu hingga dua minggu.

Dari proses tersebut, ditemukan bahwa akses pembiayaan menjadi kendala utama.

“Kami kemudian memfasilitasi pertemuan dengan BPRS Mustaqim untuk sosialisasi produk pembiayaan. Sekitar 20 orang akhirnya mendapatkan akses pembiayaan,” ujar Yanis.

Selain itu, ILO juga membuka peluang dukungan digitalisasi untuk memperkuat sistem monitoring dan pengelolaan pembiayaan di lembaga keuangan.

Tantangan Keberlanjutan

Kolaborasi ini menunjukkan upaya mempertemukan pelatihan, pendampingan, dan akses pembiayaan dalam satu ekosistem.

Namun tantangan tetap ada. Fluktuasi harga nilam dan risiko gagal panen menjadi faktor yang terus dipantau. Di sisi lain, bank juga harus menjaga prinsip kehati-hatian karena dana yang dikelola merupakan dana masyarakat.

Selain pembiayaan, ILO juga membuka ruang dukungan digitalisasi untuk lembaga keuangan mitra, termasuk penguatan sistem monitoring dan dashboard. Namun implementasinya masih dalam tahap diskusi.

Untuk diketahui, Program PROMISE II IMPACT ( Promoting SME Enterprises through Improved Entrepreneurs’ Access to Financial Services) merupakan proyek ILO yang didukung State Secretariat for Economic Affairs (SECO) Swiss, bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Di Aceh, proyek ini berfokus pada rantai nilai nilam sebagai komoditas strategis. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER