Jumat, Mei 24, 2024
Google search engine
BerandaOpiniLebih Dekat dengan Psychological First Aid

Lebih Dekat dengan Psychological First Aid

“Gangguan psikologis jika tidak ditangani dampaknya akan sama dengan penyakit fisik, tentunya akan mengganggu produktivitas seseorang”

Oleh: Arina Izzataki Bardan

Kesehatan mental mungkin sudah familiar di telinga masyarakat awam, namun kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di negara Indonesia masih rendah. Pertolongan pertama tidak hanya dilakukan pada penyakit fisik saja, gangguan psikologis juga memiliki istilah pertolongan pertama, yaitu pertolongan psikologis pertama atau Psychological First Aid (PFA).

Suatu peristiwa yang terjadi dan menimpa individu biasanya membuat seseorang merasa terpukul, tertekan, cemas dan bingung. Bahkan mereka bisa menyalahkan diri sendiri terhadap peristiwa yang terjadi di luar kendali.

Walau demikian, salah satu hal yang dapat dilakukan untuk membantu mereka melewati masa-masa sulit tersebut adalah dengan melakukan pertolongan psikologis pertama atau PFA.

Sebagaimana diketahui, Psychological First Aid (PFA) merupakan serangkaian keterampilan dan langkah pertama yang digunakan untuk mengurangi dampak stress dan mencegah munculnya perilaku negatif yang disebabkan oleh suatu keadaan yang tidak menyenangkan atau situasi kritis yang dihadapi individu. Tujuan dilakukannya PFA untuk memberikan rasa aman, tenang dan memberikan harapan baru kepada penyintas.

PFA biasanya diberikan kepada orang yang terkena dampak bencana alam. Namun saat ini juga digunakan untuk mengurangi dampak stress akibat COVID-19.

PFA dapat dilakukan oleh siapa saja yang sudah mendapatkan pelatihan atau sosialisasi termasuk masyarakat umum. PFA dapat diberikan kepada orang yang memerlukan bantuan secara mental, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia.

Namun, ada beberapa golongan yang diprioritaskan, seperti orang yang mengalami cedera serius hingga mengancam jiwa, orang yang mengalami kejadian traumatis sehingga tidak dapat mengurus dirinya sendiri, orang yang memiliki kemumgkinan untuk menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Langkah yang Dapat Dilakukan

Orang yang baru saja mengalami kejadian kritis dan traumatis juga harus sesegera mungkin diberikan pertolongan pertama. Adapun beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membantu memberikan PFA yaitu membawa penyintas ke tempat yang dirasa cukup aman.

Kemudian memperkenalkan diri dan peran sebagai PFA giver kepada penyintas pada saat situasi sudah lebih aman. Segera memberikan kebutuhan dasar yang dibutuhkan penyintas.

Sementara, PFA sendiri dapat dilakukan di mana saja yang dianggap cukup aman bagi penyintas dan PFA giver, biasanya dilakukan di tempat yang terdapat pusat kesehatan atau tempat perlindungan.

 Langkah untuk Diri Sendiri

Bagi diri sendiri, pertama fokus pada hal penting dan kembali pada rutinitas. Fokus di sini dalam artian mengerjakan hal penting dan kembali pada rutinitas yang dicintai, dengan melakukan ini dapat menghemat energi dan mengalihkan pikiran dari trauma yang sedang dilalui.

Kedua, tenangkan diri. Ketika hal-hal traumatis muncul di dalam pikiran cobalah untuk menenangkan pikiran dan menarik napas dalam-dalam agar dapat berpikir jernih dan jauh lebih tenang.

Ketiga, tidak menyalahkan diri sendiri. Rasa bersalah, marah, malu, sedih, kecewa hingga mengasihani diri sendiri secara berlebihan merupakan beberapa efek yang timbul dari rasa trauma, hal itu akan menyulitkan proses pemulihan, jadi cobalah untuk menerima apa yang sudah terjadi agar proses pemulihan dapat berlangsung lebih cepat.

Keempat, mencari bantuan. Jika merasa tidak bisa mengatasi trauma sendiri, cobalah mencari bantuan kepada orang terpercaya, seperti teman, keluarga atau bisa mencoba berkonsultasi dengan profesional, baik psikolog maupun psikiater.

Langkah untuk Orang Lain

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk orang lain, yaitu yang pertama berempati.
Berempati sebagai teman atau keluarga dengan mendengarkan dan mencoba membantunya. Sebisa mungkin harus menghindari memberikan respon yang cenderung membanding-bandingkan atau mengucilkan tentang kejadian yang sedang dialami.

Kedua, mengajak beraktifitas positif.
Individu yang sedang dalam kondisi tidak stabil secara psikis cenderung kehilangan minat untuk melakukan aktivitas atau bahkan terjerumus kepada hal-hal buruk. Di sini lah peran kita agar dapat mengajak mereka kembali melakukan hal-hal positif seperti self-care, self-love atau melakukan aktivitas yang disenangi dan tidak lupa untuk selalu menjaga pola tidur dan makan bergizi secara teratur.

Ketiga, mencari pertolongan profesional.
Terkadang persoalan yang dialami rasanya terlalu sulit untuk diselesaikan sendiri, jika hal-hal tersebut sudah dilakukan dan belum cukup membantu untuk pulih dari trauma, kita bisa memberikan saran untuk mencari bantuan ke psikolog atau psikiater agar membantu proses pemulihan.

Sayangnya, banyak orang enggan untuk meminta bantuan kepada profesional karena stigma masyarakat yang kurang baik terhadap orang yang datang mengunjungi psikolog atau psikiater.

Bahayanya, gangguan psikologis jika tidak ditangani dampaknya akan sama dengan penyakit fisik, tentunya akan mengganggu produktivitas seseorang. Seperti sedih atau rasa tertekan yang berkepanjangan dapat mengganggu fisik, contohnya kepala yang terasa pusing atau rasa nyeri di dada.

Jika kamu merasa tidak mampu untuk menyelesaikan masalah sendiri dan membutuhkan pandangan dari sisi yang berbeda atau sekadar mencari tempat bercerita, jangan ragu dan tidak perlu malu untuk datang menemui profesional, karena praktik di dunia nyata mungkin akan lebih sulit dilakukan. (*)

  • Penulis adalah mahasiswi psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.
BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER