BerandaAcehLebaran ke-3, Korban Banjir Aceh Tamiang Masih di Tenda, Terjadi Kisruh dalam...

Lebaran ke-3, Korban Banjir Aceh Tamiang Masih di Tenda, Terjadi Kisruh dalam Penyaluran DTH

Kualasimpang (Waspada Aceh) – Memasuki hari ketiga Lebaran atau 3 Syawal 1447 Hijriah, warga korban banjir di Dusun Lestari II, Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, masih bertahan di tenda pengungsian.

Mereka mengeluhkan bantuan yang belum merata serta belum adanya kepastian hunian dari pemerintah. Kisruh terjadi saat penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH) yang dijanjikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin (23/3/2026).

Bantuan yang semula dijadwalkan cair pukul 10.00 WIB baru dibagikan menjelang sore sekitar pukul 15.00 WIB, namun tidak sesuai dengan harapan warga.

“Awalnya dijanjikan pagi, tapi menjelang asar baru dibagi. Itu pun tidak sesuai, banyak yang tidak dapat,” kata Reza Suchrita, warga setempat.

Menurut Reza, ketidaksesuaian tersebut berkaitan dengan data penerima yang dinilai tidak akurat. Ia menyebut, dari sekitar 100 kepala keluarga terdampak, hanya sekitar 40 keluarga yang menerima bantuan.

“Data yang digunakan tidak sesuai. Tidak semua yang tinggal di tenda mendapat bantuan,” ujarnya.

Kondisi itu memicu protes warga di lokasi. Sejumlah warga yang merasa berhak justru tidak masuk dalam daftar penerima bantuan. Mereka pun meminta dilakukan pendataan ulang.

“Warga menolak tenda dibongkar sebelum ada kejelasan. Karena banyak yang belum dapat bantuan,” kata Reza.

Selain persoalan bantuan, warga juga menyoroti kebijakan relokasi sementara yang dinilai tidak solutif. Mereka sempat diminta mengosongkan tenda saat kunjungan Presiden ke Aceh Tamiang pada hari pertama Lebaran.

Saat itu, kata Reza, warga ditawari pindah ke gedung olahraga (GOR) dengan kompensasi Rp500 ribu selama satu pekan. Namun setelah itu tidak ada kejelasan lanjutan.

“Seolah-olah hanya dipindahkan supaya tidak terlihat. Tapi setelah itu kami tetap tidak punya kepastian,” ujarnya.

Hingga kini, warga masih bertahan di tenda dengan keterbatasan fasilitas. Bantuan logistik pun mulai berkurang seiring berakhirnya masa tanggap darurat.

Dalam beberapa hari terakhir, warga mengaku tidak lagi menerima bantuan sembako secara rutin.

Untuk kebutuhan dasar seperti air bersih, warga bergantung pada bantuan relawan, termasuk dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menyediakan alat penjernih air. Sementara jaringan PDAM di sekitar lokasi belum dapat dimanfaatkan.

Banjir yang melanda Aceh Tamiang beberapa bulan lalu menyebabkan ratusan warga kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah sebelumnya menjanjikan percepatan pemulihan melalui penyaluran bantuan dan penyediaan hunian sementara.

Namun, hingga Lebaran, sebagian warga masih bertahan di pengungsian tanpa kepastian bantuan maupun hunian. Mereka berharap pemerintah segera memperbaiki data penerima dan menyalurkan bantuan secara merata agar kondisi serupa tidak terus berulang. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER