Sabtu, Maret 2, 2024
Google search engine
BerandaLaporan KhususKisah Pilu Anak-anak Rohingya di Balik Penolakan Warga Aceh

Kisah Pilu Anak-anak Rohingya di Balik Penolakan Warga Aceh

“Anak-anak perempuan, terlihat bermain dengan menggunakan gelas plastik bekas air minum”

Tak pernah menyangka takdir membawa mereka terombang-ambing di tengah laut. Kala cahaya fajar mulai terlihat di bumi Aceh, mereka menjadikan lokasi ini sebagai tujuan akhir untuk berlabuh.

Dalam satu kapal kayu yang renta itu, keluar 15 orang anak laki-laki, 20 orang anak perempuan, 35 orang laki-laki dewasa, dan 65 orang perempuan dewasa.

Mereka berjalan sejauh 1 kilometer untuk mendapatkan bantuan dari masyarakat Aceh. Namun ketika bertemu, pupus sudah harapan manusia perahu ini untuk mendapatkan hidup yang layak dan punya tempat tinggal di Aceh.

Dari begitu banyak pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh, entah mengapa pengungsi yang mendarat di kawasan Blang Ulam, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, ini termasuk yang paling rumit mendapatkan tempat tinggal sementara.

Pertama kali, pengungsi yang berjumlah 137 orang ini mendarat di kawasan Aceh Besar. Tapi mereka ditolak sebagian warga. Kemudian diantar oleh warga ke Kantor Gubernur Aceh. Sesampainya di sana, para pengungsi Rohingya ini dibawa ke Kamp Pramuka Seulawah.

Belum memasuki pintu gerbang, pengungsi Rohingya ini langsung dihalau oleh warga sekitar Kamp Pramuka Seulawah. Hingga akhirnya, pada malam yang sama juga mereka harus diberangkatkan kembali ke Banda Aceh tepatnya di halaman Kantor Gubernur Aceh.

Masih belum ada persetujuan, malam itu juga mereka digeser ke Taman Ratu Sulthanah Safiatuddin sebelum dipindahkan ke UPTD Dinas Sosial Aceh di Ladong, Aceh Besar. Naasnya, seperti mendapat komando, warga di sana juga menolak pengungsi ini. Hingga kemudian dikembalikan ke Banda Aceh tepatnya di halaman Balai Meuseuraya Aceh (BMA).

Capek atau lelah sudah tentu mereka rasakan. Tapi inilah jalan hidup yang mereka pilih. Kondisi terakhir mereka sangat memprihatinkan.

Awalnya, mereka hanya ditempatkan di halaman BMA. Tapi kini dipindahkan ke basement berhubung malam hari itu bumi Aceh diguyur hujan deras.

Basement yang mereka tempati saat ini lebih baik dari sebelumnya. Meskipun, setiap pergerakan mereka diawasi oleh aparat keamanan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Kebanyakan mereka masih terbaring di atas lantai tanpa beralasakan apapun. Hanya saja gulungan kain yang berisi baju dan perlengkapan lainya yang mereka bawa dijadikan sebagai bantal untuk tidur.

Posisi tidur mereka berjejer dan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Ada yang saling merangkul dan ada juga sekadar melipatkan tangan di dada.

Ada juga, ibu-ibu termenung dengan tatapan kosong sambil menyusui anaknya dalam posisi terbaring.

Masih tampak terjaga dan girang saat ini hanya anak-anak. Mereka belum tahu apa-apa. Anak laki-laki yang diperkirakan berumur 7-8 tahun, semestinya saat ini sudah menempuh pendidikan di jenjang Sekolah Dasar (SD). Mereka tampak berlarian keluar dari tempat peristirahatan.

Begitu juga dengan anak perempuan, di tempat ini terlihat bermain dengan menggunakan bekas gelas air minum. Tak peduli dengan keadaan, anak-anak ini terlihat tersenyum pahit.

Ketika ditanyai, apa yang mereka butuhkan ketika tiba di Aceh, salah seorang pengungsi Rohingya Aminullah mengatakan ingin mendapatkan semua di Aceh. Mulai dari tempat aman dan kebutuhan sehari-hari. Laki-laki yang paling menjaga penampilan di antara pengungsi lainya ini mengantakan tempat yang mereka miliki di Bangladesh tidak aman lagi untuk ditempati.

Dia tak banyak tau, mengapa dia dan rombongan bisa berlabuh menuju Aceh. Ia mengakui, segala keperluan untuk berlabuh diurus oleh sang ayah yang saat ini masih berada di Bangladesh. (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments