BerandaAcehKisah Fitri Rahayu, Anak Panti yang Lulus SNBP dan Bermimpi Menjadi Hakim

Kisah Fitri Rahayu, Anak Panti yang Lulus SNBP dan Bermimpi Menjadi Hakim

Aceh Besar (Waspada Aceh) – Tangis haru tak terbendung saat Fitri Rahayu melihat pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) yang menyatakan dirinya lulus ke perguruan tinggi negeri.

Di tengah keterbatasan sebagai anak asuh di UPTD Rumoeh Seujahtera Aneuk Nanggroe (RSAN) Dinas Sosial Aceh, capaian itu menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya.

“Sedih sekaligus bahagia. Saya sampai menangis di sekolah, lalu langsung hubungi orang tua, mereka juga senang,” ujar Ayu, sapaan akrabnya, Jumat (3/4/2026).

Ayu merupakan siswi kelahiran 2007 yang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Darul Imarah, Aceh Besar. Ia berasal dari Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, sebelum kemudian tinggal di panti asuhan demi melanjutkan pendidikan.

Keinginannya melanjutkan studi ke perguruan tinggi bukan tanpa alasan. Pengalaman hidup membuatnya peka terhadap persoalan masyarakat kecil, khususnya dalam bidang hukum.

“Saya ingin membantu orang-orang yang kurang mampu, terutama yang punya masalah hukum tapi sulit mendapatkan keadilan,” kata Ayu.

Motivasi itu mendorongnya memilih jurusan hukum, sekaligus menumbuhkan cita-cita menjadi hakim di masa depan.

Dalam proses menuju SNBP, Ayu mengaku mempersiapkan diri secara serius. Ia belajar secara intensif, mengikuti bimbingan belajar, serta memperkuat ikhtiar melalui doa.

“Saya belajar, ikut bimbel, juga sholat sunnah dan berdoa supaya bisa lulus,” ujarnya.

Selama tinggal di panti, Ayu mendapat dukungan penuh dari para pengasuh. Ia menyebut Kepala Panti RSAN, Michael Octaviano, sebagai sosok yang menginspirasi dirinya untuk terus melanjutkan pendidikan.

“Saya melihat beliau seperti satu orang dengan banyak kemampuan. Dari situ saya termotivasi untuk tidak berhenti sampai SMA,” ungkapnya.

Meski telah dinyatakan lulus di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Ayu menyadari tantangan berikutnya adalah biaya pendidikan. Ia mengaku siap bekerja sambil kuliah jika tidak mendapatkan bantuan beasiswa seperti KIP Kuliah.

“Saya akan cari kerja supaya tetap bisa kuliah,” katanya.

Bagi Ayu, menjadi sarjana bukan sekadar meraih gelar, tetapi juga bentuk pembuktian diri sekaligus motivasi bagi adik-adiknya di panti.

“Saya ingin jadi contoh. Saya bisa, mereka juga harus bisa,” ujarnya.

Ia pun tak lupa menyampaikan rasa syukur atas dukungan yang diterimanya selama ini. “Kalau bukan karena panti, mungkin saya tidak bisa sampai di titik ini,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Panti RSAN, Michael Octaviano, menegaskan bahwa pendidikan tinggi menjadi kunci agar anak-anak panti dapat bersaing di masa depan.

“Sekarang ini minimal harus sarjana. Kalau hanya lulusan SMA, mereka akan sulit bahkan untuk mendaftar kerja,” ujarnya.

Michael mengatakan, pihak panti terus mendorong seluruh anak asuh untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan memberikan berbagai dukungan.

“Kami arahkan sesuai minat mereka, kami bantu fasilitas sekolah, les, hingga kebutuhan sehari-hari agar mereka bisa fokus belajar,” katanya.

Saat ini, lanjut Michael, sudah ada beberapa anak panti yang menempuh pendidikan tinggi, dan Ayu menjadi salah satu yang terbaru.

Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan hanya capaian individu, tetapi juga menjadi motivasi bagi anak-anak lain di panti.

“Kami ingin mereka membawa perubahan bagi keluarganya dan keluar dari keterbatasan,” ujarnya.

Michael berharap ke depan akan semakin banyak anak panti yang mampu melanjutkan pendidikan, bahkan hingga mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

“Harapannya, akan lahir lebih banyak Ayu lainnya,” katanya. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER