BerandaAcehKepanasan di Huntara, Penyintas Banjir Pidie Jaya Minta Perbaikan Hunian

Kepanasan di Huntara, Penyintas Banjir Pidie Jaya Minta Perbaikan Hunian

Pidie Jaya (Waspada Aceh) – Cuaca panas terik menjadi keluhan warga korban banjir yang kini tinggal di hunian sementara (huntara) di Kabupaten Pidie Jaya.

Yuliana (31), warga Gampong Manyang Cut, mengatakan suhu di dalam huntara terasa sangat panas saat siang hari. Hunian sementara yang ditempatinya bersama keluarga berada di dekat Gedung MTQ Pidie Jaya, dalam kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya.

“Kalau siang panas sekali di dalam. Atapnya tidak ada pelindung, jadi panasnya langsung terasa,” kata Yuliana saat ditemui, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat warga lebih sering berada di luar hunian saat matahari terik. Namun, area di sekitar huntara juga minim tempat berteduh karena tidak banyak pepohonan.

“Kalau sudah panas begini kami lebih banyak duduk di luar. Tapi di sini juga tidak ada pohon besar, jadi tetap terasa panas,” ujarnya.

Di dalam hunian memang tersedia kipas angin, namun menurutnya tidak banyak membantu mengurangi hawa panas. “Ada kipas angin, tapi tetap saja panas,” katanya.

Yuliana berharap fasilitas huntara dapat diperbaiki, terutama dengan menambah pelindung pada bagian atap agar suhu di dalam hunian tidak terlalu panas. Selain itu, ia juga berharap pembangunan hunian tetap (huntap) bagi korban banjir dapat segera direalisasikan.

Menurutnya, rumah mereka di Gampong Manyang Cut hancur diterjang banjir dan tidak menyisakan apa pun.

“Rumah kami sudah tidak ada lagi. Habis semua,” ujarnya.

Yuliana dan keluarganya kini telah tiga minggu tinggal di huntara, setelah sebelumnya sempat mengungsi di tenda darurat pascabanjir.

Di tengah kondisi tersebut, keluarganya juga masih berjuang memulihkan ekonomi setelah banjir merusak rumah sekaligus sumber penghasilan mereka. Ia juga harus tetap memenuhi kebutuhan tiga anaknya yang masih bersekolah.

Sebelum banjir, suaminya membuka toko kecil yang menjadi sumber penghasilan keluarga. Namun usaha tersebut tidak lagi berjalan sejak banjir melanda. “Sekarang suami sudah tidak ada penghasilan lagi. Jadi makan seadanya saja,” katanya.

Untuk sementara, suaminya bekerja serabutan membantu membersihkan lumpur di rumah warga yang juga terdampak banjir.

Selama bulan Ramadhan ini, Yuliana mengatakan keluarganya hanya menyiapkan menu sahur dan berbuka secara sederhana karena keterbatasan ekonomi.

Pemerintah disebut berencana membangun hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak di lokasi yang lebih aman. Namun hingga kini Yuliana belum mengetahui kapan pembangunan rumah tersebut dimulai.

“Katanya nanti dibangun huntap di tempat lain, tapi kami belum tahu kapan dibangunnya,” katanya.

Menjelang Idul Fitri, Yuliana berharap kondisi ekonomi keluarganya bisa segera membaik agar dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

“Biasanya kalau Lebaran anak-anak ingin baju baru. Sekarang kami hanya berharap ada rezeki supaya bisa memenuhi kebutuhan mereka,” katanya. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER