Aceh Besar (Waspada Aceh) – Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Provinsi Aceh melakukan persiapan pemantauan hilal di Observatorium Hilal Tgk Chiek Kuta Karang, Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (17/2/2026), untuk penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah.
Pantauan waspadaaceh.com sejak sore, tim falakiyah tampak melakukan pengecekan dan kalibrasi sejumlah teleskop yang diarahkan ke ufuk barat. Pemantauan dijadwalkan berlangsung beberapa menit setelah matahari terbenam.
Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh, Dr. Firdaus Putra, mengatakan berdasarkan hasil perhitungan hisab, posisi hilal saat magrib diperkirakan masih berada di bawah ufuk.
“Pada saat matahari terbenam nanti, posisi hilal di Aceh berada di minus 0,93 derajat. Artinya secara astronomi belum memenuhi kriteria untuk dapat terlihat,” ujar Firdaus di lokasi observatorium.
Meski demikian, proses rukyatul hilal tetap dilaksanakan sesuai prosedur. Menurut dia, hasil pemantauan dari Aceh akan dilaporkan ke Kementerian Agama RI sebagai bagian dari bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang digelar pada malam harinya.
Firdaus menjelaskan, Aceh selama ini dikenal sebagai salah satu titik strategis pemantauan hilal karena letaknya di ujung barat Indonesia. Secara teori, wilayah paling barat memiliki peluang lebih dahulu melihat hilal dibanding daerah di bagian timur.
Namun, pada pemantauan kali ini, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia dilaporkan masih berada di bawah ufuk. Di wilayah timur seperti Papua, ketinggian hilal bahkan tercatat minus 2,4 derajat.
“Karena itu, kemungkinan hilal tidak dapat dirukyat hari ini. Jika tidak terlihat, maka bulan Syakban akan disempurnakan menjadi 30 hari,” kata Firdaus.
Keputusan resmi mengenai awal Ramadan akan diumumkan Menteri Agama setelah sidang isbat selesai digelar. (*)



