Medan (Waspada Aceh) – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Universitas Sumatera Utara (USU) dan pegiat lingkungan di Medan pada 3 Januari 2026. Almarhum Jaya Arjuna, alumni Teknik Mesin USU ’74, akademisi yang dijuluki “Intelektual Organik”, telah berpulang ke Rahmatullah tanpa gejala sakit sebelumnya.
Tak seperti dosen yang hanya berkutat di kelas, Bang Jaya, kelahiran Bukittinggi, 7 Oktober 1953, ini identik dengan gaya “Anak Medan Bung!” bertopi baret ala pelukis Pak Tino Sidin. Ia adalah petarung lapangan yang memilih kebenaran ketimbang popularitas atau keuntungan materi.
Dalam Forum Penyelamat USU (FP-USU), nama beliau sinonim dengan integritas; ia pernah secara tegas mengkritik proyek kolam retensi kampus sebagai “akal-akalan”, dengan logika sederhana: “Kalau solusinya nggak sentuh akar masalah, itu cuma mindahin banjir, bukan nyelesaiin.” Bukti nyatanya, Jalan Dr. Mansyur hingga kini masih sering terendam banjir.
Di bidang sastra, Jaya mulai menulis puisi dan cerpen sejak muda. Cerpen pertamanya terbit di harian Mimbar Umum pada 1973 dengan nama pena D.Ar.D Makewa.
Sejak itu, ia produktif. Puisi, cerpen, naskah drama panggung, hingga sandiwara radio mengalir dari penanya. Naskah dramanya, “Telah Gugur Hati Manusia”, bahkan menjadi Juara II Festival Drama KNPI 1976.
Pada 2010, ia diundang sebagai pembicara di Asia Culture Forum di Gwangju, Korea Selatan, membawakan makalah berjudul “The Harmony of Economic Development Through Cultural Roots Strengthening”. Pada 2024, ia menerima penghargaan khusus Sastrawan 50 Tahun Berkarya dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Selama hidupnya, Bang Jaya menulis buku seperti Ulok, Medan Banjir Bebas Di Mana-mana, dan Pedoman Permainan Trup Gembira.
Mengenang Jaya Arjuna, teman-temannya berkumpul di rumah Zahrin. Di situ diungkap bahwa Bang Jaya pernah menawarkan solusi drainase dan banjir Medan dengan modal hanya Rp350 miliar—cukup jika dikerjakan dengan kejujuran, namun dianggap “kecil” oleh pihak yang hanya mengutamakan proyek besar.
“Sains itu buat nyelamatin orang banyak, bukan buat nutupi kebijakan yang mencong,” begitu prinsip Jaya Arjuna.
Bagi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan instruktur di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Medan masa awal berdiri, Bang Jaya adalah teladan rendah hati yang menempa karakter banyak aktivis.
Ia sering berkata: “Kampus itu harusnya hidup dengan orang-orang yang berani bilang ‘salah’ kalau memang salah, bukan cuma jadi stempel kekuasaan.”
Selamat jalan, Bang Jaya Arjuna. Beliau telah mengajarkan bahwa berani bersuara benar adalah ibadah sosial. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan menempatkan beliau di surga-Nya. (*)



