Senin, Juni 17, 2024
Google search engine
BerandaAcehIslamic Relief Gandeng Ulama untuk Edukasi Perlindungan Perempuan dan Anak di Aceh

Islamic Relief Gandeng Ulama untuk Edukasi Perlindungan Perempuan dan Anak di Aceh

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Lembaga Islamic Relief Indonesia mengajak para tokoh agama di Aceh untuk bersama-sama mendakwahkan dan memberikan edukasi terkait perlindungan perempuan dan anak.

Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pencegahan kekerasan di kalangan masyarakat, terutama di lingkungan dayah atau pesantren.

Koordinator Program Nasional Islamic Relief Indonesia,Rizky Muhammad mengatakan  Provinsi Aceh, yang dikenal dengan julukan Serambi Mekkah, yang memiliki banyak ulama yang dapat berperan penting dalam mendakwahkan isu ini. Pihaknya telah melakukan pertemuan dengan beberapa tokoh agama dari berbagai kab/kota di Aceh.

“Kami mengajak tokoh agama dari berbagai wilayah kabupaten dan kota di Aceh untuk turut serta menyosialisasikan pentingnya perlindungan perempuan dan anak,” ujar Rizky saat diwawancarai  waspadaaceh.com usai kegiatan konsultasi publik yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan pemangku kebijakan tingkat provinsi pada Senin (27/5/2024).

Dalam konsultasi publik tersebut, dilakukan refleksi bersama mengenai kondisi pemenuhan hak serta perlindungan perempuan dan anak di Aceh, yang didasarkan pada data kekerasan, korban konflik, dan kondisi sosial ekonomi.

Untuk merespons dinamika kekerasan yang terjadi, Islamic Relief Indonesia mengimplementasikan Project EMPOWER (Emancipatory Mobilisation through Participation, Ownership, Women’s Engagement and Resilience).

Program ini berkolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh serta Flower Aceh, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, upaya pencegahan, dan advokasi terhadap isu kekerasan berbasis gender dan perlindungan anak.

Dalam kegiatan ini, para tokoh agama, guru, aparat desa, serta pemangku kepentingan utama di pemerintahan dan masyarakat luas di Aceh dilibatkan secara aktif.

Rizky menambahkan, kegiatan ini tidak hanya dilakukan di Aceh tetapi juga di NTB.

“Pentingnya peran lembaga pendidikan dalam menyosialisasikan perlindungan perempuan dan anak, mengingat tingginya kasus kekerasan,” tuturnya.

Project EMPOWER yang telah berlangsung sejak 2022 ini kata Rizky sudah menunjukkan hasil positif. Pimpinan dayah atau pesantren mulai terbuka terhadap isu perlindungan perempuan dan anak. Mereka menyadari pentingnya memberikan pendidikan dan pengasuhan yang mencerminkan nilai-nilai dari Al-Qur’an dan Hadis.

Upaya penyadaran, pencegahan, dan advokasi ini dilakukan melalui tiga strategi utama, membangun kemitraan, pengembangan dan penguatan kapasitas, serta advokasi yang melibatkan para pemangku kepentingan dan masyarakat.

“Dengan strategi ini, diharapkan perlindungan terhadap perempuan dan anak di Aceh dapat semakin diperkuat,” kata Rizky. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER