BerandaBeritaIran Tolak Usulan Penurunan Ketegangan dan Gencatan Senjata dengan AS-Israel

Iran Tolak Usulan Penurunan Ketegangan dan Gencatan Senjata dengan AS-Israel

Teheran (Waspada Aceh) – Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Selasa (17/3/2026), menegaskan, menolak usulan penurunan ketegangan dan gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Penolakan ini disampaikan di tengah konflik yang masih berlangsung antara kedua negara, serta ketegangan yang tinggi antara Iran dan Israel.

Sikap tersebut disampaikan melalui jalur diplomatik setelah proposal diajukan oleh dua negara perantara, meskipun hingga saat ini belum diketahui secara pasti identitas kedua negara tersebut. Keputusan penolakan diambil dalam pertemuan kebijakan luar negeri terbaru yang diadakan oleh pemerintah Iran.

“Sikap Khamenei untuk membalas AS dan Israel sangat tegas dan serius,” kata seorang pejabat senior Iran, seperti dilansir Reuters.

Penolakan ini menandakan Iran belum berniat meredakan konflik yang telah berlangsung cukup lama. Sebelumnya, AS mengklaim Kepala Keamanan Iran Ali Larijani tewas dalam serangan terbaru.

Larijani sendiri merupakan sosok berpengalaman dalam bidang politik dan keamanan Iran, yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Agung (SNAC) Iran pada tahun 2005-2007 dan kembali menjabat pada bulan Agustus 2025 menggantikan Jenderal Ali Akbar Ahmadian.

Konflik antara Iran dan AS-Israel telah mengalami eskalasi sejak Juni 2025, ketika AS melancarkan serangan militer besar-besaran ke tiga fasilitas nuklir utama Iran yaitu Fordow, Natanz, dan Isfahan dalam operasi yang diberi nama “Operation Midnight Hammer”.

Serangan tersebut dilakukan setelah Israel sebelumnya juga melakukan serangan udara ke Iran dengan alasan mencegah Iran memperoleh senjata atom. Iran yang mengklaim program nuklirnya hanya untuk tujuan damai kemudian melakukan pembalasan dengan serangan rudal, yang menyebabkan serangkaian aksi saling balas dan menimbulkan kekhawatiran akan perang terbuka.

Pada bulan Oktober 2025 lalu, pemimpin tertinggi Iran sebelumnya Ayatollah Ali Khamenei juga telah menolak tawaran perundingan dari Presiden AS Donald Trump, menyatakan bahwa tawaran tersebut disertai dengan paksaan dan hasil yang sudah ditentukan sebelumnya sehingga bukanlah kesepakatan yang sahih melainkan pemaksaan dan intimidasi.

Pemimpin tertinggi Iran itu juga membantah klaim AS yang menyatakan telah menghancurkan kemampuan nuklir Iran.

Kondisi konflik saat ini juga berdampak pada kawasan sekitar, seperti tercatat pada tanggal 16 Maret 2026 lalu, tidak ada kapal yang melintas melalui Selat Hormuz selama satu hari penuh akibat situasi yang tidak stabil.

Selain itu, lebih dari 800.000 orang Lebanon telah terdampar akibat perang dalam waktu 10 hari terakhir, menjadikan mereka salah satu korban dampak konflik antara Iran dengan AS dan Israel. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER