BerandaBeritaIran Gempur Pangkalan Militer Amerika di Bahrain

Iran Gempur Pangkalan Militer Amerika di Bahrain

Jakarta (Waspada Aceh) – Ketegangan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang sudah memuncak akhirnya meledak menjadi aksi militer nyata, ketika Israel yang didukung Amerika memulai serangannya. Sementara Iran tidak tinggal diam, langsung membalas serangan tersebut.

Sebuah video yang beredar memperlihatkan dampak serangan rudal Iran terhadap pangkalan US Fifth Fleet (Armada Ke-5 Amerika Serikat) di Bahrain, pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Dalam rekaman tersebut, asap tebal terlihat membubung tinggi dari area pangkalan militer strategis milik Amerika itu.

Serangan ini, menurut informasi yang tersedia, merupakan balasan langsung dari Iran terhadap serangan yang sebelumnya dilakukan oleh AS dan Israel ke wilayah Republik Islam Iran. Langkah ini menandakan peningkatan signifikan konflik yang sudah berlangsung lama antara kedua negara. Dampak pertempuran ini tidak hanya dirasakan masyarakat di wilayah Timur Tengah, tetapi juga di seluruh dunia.

Kantor berita terkemuka Associated Press (AP) juga memposting informasi serupa. AP mengonfirmasi bahwa pihak Bahrain telah menyatakan markas besar Armada Ke-5 Angkatan Laut AS telah menjadi sasaran serangan rudal militer Iran.

Laporan yang sama juga datang dari BBC dan Reuters, yang memberikan detail tambahan tentang serangan tersebut. Namun, hingga saat ini, serangan ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak AS.

US Fifth Fleet adalah salah satu komponen kunci armada dari Angkatan Laut AS, dengan wilayah operasi yang meliputi Teluk Persia, Laut Merah, Laut Arab, dan sebagian Samudra Hindia. Markas armada ini terletak di Naval Support Activity Bahrain (NSA Bahrain) di wilayah kerajaan Bahrain.

Sejarah armada ini berawal dari Perang Dunia II, didirikan pada tahun 1944. Sejak saat itu, ia telah menjadi salah satu titik utama kekuatan Angkatan Laut Amerika di Timur Tengah, memainkan peran penting dalam menjaga kepentingan AS dan sekutunya di wilayah tersebut.

Sebelum menjadi markas US Fifth Fleet, wilayah ini dimiliki oleh Angkatan Laut Inggris. Seiring dengan kemerdekaan Bahrain dari Inggris pada tahun 1971, markas armada ini kemudian beralih ke Amerika Serikat pada tahun yang sama.

Sejak saat itu, pangkalan ini telah menjadi pusat operasi militer AS di Timur Tengah, menjadi basis untuk berbagai misi, termasuk operasi keamanan maritim, latihan militer, dan tanggapan terhadap krisis di wilayah tersebut.

Konflik bersenjata antara AS, Israel dan Iran ini pecah setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan perintah serangan militer besar-besaran ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Langkah ini menjadi titik balik yang memperparah ketegangan yang sudah ada, dan memicu serangkaian aksi balasan yang akhirnya berujung pada serangan terhadap pangkalan US Fifth Fleet di Bahrain.

Serangan ini memiliki implikasi yang luas bagi keamanan regional dan global. Ini menandakan peningkatan signifikan dalam konflik dan berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut yang dapat melibatkan negara-negara lain di wilayah tersebut.

Dampak dari serangan ini juga dapat dirasakan di pasar energi global, karena Teluk Persia adalah salah satu jalur pengiriman minyak terpenting di dunia. Ketidakpastian yang mengelilingi serangan ini, serta kurangnya konfirmasi resmi dari pihak AS, hanya menambah kekhawatiran dan ketidakpastian yang sudah ada. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER