Beranda Laporan Khusus IKM Cilet Cokelat Berinovasi di Tengah Pandemi COVID-19

IKM Cilet Cokelat Berinovasi di Tengah Pandemi COVID-19

BERBAGI
Produk Cilet Cokelat yang telah menampilkan cover kemasan dengan pendekatan budaya Aceh. (Foto/Kia)

“Konsep yang saya bangun dengan tim, yang penting bisa bertahan saja dulu di tengah pandemi, karena tidak sedikit teman-teman yang usahanya gulung tikar”

—Owner Cilet Cokelat, Supriadi—

Cokelat berasal dari biji kakao (biji cokelat), yang mengandung banyak mineral dan senyawa antioksidan. Dikutip dari Hellosehat, cokelat rupanya bukan sekadar makanan penutup dengan rasa yang nikmat. Penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi cokelat dapat menyehatkan jantung, menurunkan risiko sejumlah penyakit, hingga meningkatkan fungsi otak.

Seiring perkembangan zaman, kini telah banyak tersedia produk-produk cokelat dengan beragam rasa, bentuk, dan kandungan gizi. Seperti produk dari salah satu Industri Kecil Menengah (IKM) yang ada di Aceh, bernama atau dengan brand Cilet Cokelat.

Usaha Cilet Cokelat yang dikelola Didi Supriadi, kini sudah memiliki tiga outlet di Banda Aceh. Antara lain ada di Peunayong, Pasar Aceh dan Beurawe. Outlet Cilet Cokelat menyediakan beragam penganan coklat dengan varian rasa, bentuk, dan cover yang berbeda-beda. Harganya berkisar Rp5.000 hingga 35.000/pcs.

Owner Cilet Coklat, Didi Supriadi, 36, mengatakan kepada Waspadaaceh.com, usahanya sudah hadir di Banda Aceh pada Desember 2014 lalu. Ia pun menjelaskan asal mula nama cilet untuk produk cokelat itu. Cilet katanya, dalam bahasa Aceh berarti menjilat, cilet cokelat artinya menjilat cokelat.


Pengusaha Cilet Cokelat, Didi Supriadi, menunjukkan produk andalannya. (Foto/Kia)

Didi menyebutkan, dari awal menciptakan usaha dengan merek Cilet Cokelat, ingin membranding bahasa Aceh, dengan menjunjung konsep memperkenalkan budaya Aceh lewat cokelat. Seperti pada cover kemasan cokelat, dapat terlihat budaya Aceh, tarian, wisata, pahlawan dan hasil komoditas lainya.

“Jadi konsep yang saya bangun dari awal kita ingin memperkenalkan Aceh lewat media cokelat. Makanya pada cover kemasan cokelat kita memperkenalkan budaya, tarian, wisata, terus apapun yang terkenal di Aceh kita campaign. Seperti Pinto Aceh, Museum Tsunami, PLT Apung, kapal di atas rumah, ada cakradonya, serta ada edisi pahlawan juga,” jelasnya.

Dia melanjutkan, saat ini untuk cover pahlawan sudah ada tiga, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien dan Keumalahayati (Laksamana Malahayati). Sedangkan untuk varian rasa, terdiri dari lima varian dari masing-masing hasil komoditi di kabupaten yang ada di Aceh.

“Seperti Aceh Selatan yang dikenal dengan buah palanya, kita kasih cokelat rasa buah pala. Kemudian di Aceh Barat dikenal dengan kopi chup, kita kasih cokelat rasa kopi chup. Terus Gayo dikenal dengan kopinya dan kita kasih rasa cokelat rasa kopi. Dan Sabang dikenal dengan bakpia Sabang kita kasih rasa itu dan terakhir Banda Aceh karena tempat produksi kita buat rasa milenial,” tambahnya.

Berinovasi di Tengah Pandemi

Cilet Coklat yang sudah mempekerjakan sedikitnya tujuh orang karyawan, dan sebagian di antaranya penyandang disabilitas, akan terus berinovasi di tengah pandemi.

Produk Cilet Cokelat yang telah menampilkan cover kemasan dengan pendekatan budaya Aceh. (Foto/Kia)

Pria kelahiran Takengon ini mengatakan, pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan di Aceh, tetapi juga ekonomi. Pembatasan keluar masuk wisatawan ke Aceh menyebabkan daya beli kuliner di Tanah Rencong tersendat, salah satunya dialami Cilet Cokelat.

Setelah dihantantam pandemi, dia pun berpikir, wisatawan tidak masuk ke Aceh, tapi bagaimana usahanya tetap bisa bertahan walau di tengah pandemi. “Kendala pasti ada, cuman saya tidak fokus di kendala dan tidak membuat kendala itu menjadi beban. Yang penting kita cari solusi,” ucapnya.

Dalam mengatasi persoalan itu, pengusaha Cilet Cokelat melakukan inovasi pada produk untuk menciptakan penghasilan cepat. Di antaranya, menciptakan bubuk menjadi minuman siap saji, mengolah makanan khas Aceh jadi cemilan seperti cokelat, dan lain-lain.

“Selama pandemi kami banyak berinovasi produk, untuk menciptakan pengahsilan cepat. Alhamdulillah kami tetap bertahan di tengah pandemi. Walaupum omzet turun yang penting bisa bertahan.” katanya.

Saat ini, Cilet Cokelat milik Didi memiliki beberapa jenis cokelat, dan sudah ada beberapa varian bubuk serta delapan varian minuman.

Strategi Pemasaran Lewat Endorse

Didi yang merupakan alumni Fakultas Ekonomi jurusan Akutansi Unsyiah ini juga menuturkan, saat ini peran media atau publik figur sangat dibutuhkan para pelaku IKM dalam memasarkan produknya.

“Tidak bisa saya pungkiri, saat ini penjualan Cilet Cokelat banyak dibantu oleh selebgram-selebgram Aceh maupun luar Aceh. Seperti Cutbul, Kaka Alfarisi, Novianti dan selebgram nasional ada dari pemain ikatan cinta,” sebutnya.

Ia pun mengakui, saat ini melihat peluang endorse lebih digemari dibandingkan melakukan negosiasi dengan reseller. Didi menyebutkan, penjualan Cilet Cokelat sekarang melalui media sosial seperti instagram, whatsapp, facebook dan yang lainnya.

Didi berpesan kepada pelaku IKMlainnya , harus gencar memanfaatkan media-media sosial dan harus bermain media serta wajib pintar dengan menggunakan media dalam mempromosikan produk serta harus kreatif.

Walaupun hari ini dia juga masih main di reseller di setiap kabupaten dan semua swalayan yang ada di Aceh dan Aceh Besar, Cilet Cokelat sudah mulai menjajaki pasar-pasar modern Suzuya dan Indomaret.

Binaan Disperindag Aceh

Dalam kesempatan itu, Didi juga mengungkapkan bahwa usahanya merupakan binaan dari Disperindag Aceh. Cilet Cokelat menjadi salah satu IKM binaan Disperindag Aceh. Jaringan perdagangan industri ini semakin luas, bahkan mencapai internasional.

Didi mengaku usahanya bisa berkembang karena sering mendapat kesempatan dan “panggung” dari Disperindag Aceh, seperti dilibatkan di berbagai pameran lokal, nasional maupun internasional.

Pada tahun 2018 Cilet Cokelat menerima penghargaan naik kelas dari Dinas Koperasi dan UKM Aceh. Selain Disperindag, dia juga bekerjasama atau menjadi binaan BI (Bank Indonesia).

Pojok Kreatif untuk Bantu IKM

Kabid Pengembangan Industri Menengah dan Aneka Disperindag Aceh, Nila Kanti, mengatakan di masa pandemi COVID-19, hampir semua IKM di seluruh Indonesia mengalami kesulitan, bahkan krisis. Termasuk di Provinsi Aceh. Beberapa di antaranya ada yang terpaksa harus menutup usahanya karena tidak mampu lagi membiayai operasionalnya.

Kabid Pengembangan Industri Menengah dan Aneka Disperindag Aceh, Dra.Nila Kanti, M.Si.(Foto/Kia Rukiah)

Terkait dengan hal itu, Nila Kanti yang sering disapa dengan Niken, mengatakan, Pemerintah Aceh telah memberi dukungan kepada IKM Aceh dengan menginisiasi kegiatan yang diberi nama Pojok Kreatif Aceh.

Dia mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka membantu IKM Aceh untuk mempromosikan dan memasarkan produknya melalui kafe atau warkop (warung kopi), toko dan tempat wisata yang ada di seluruh Aceh.

“Gubernur Aceh, Bapak Nova Iriansyah, bahkan telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 530/3355 tanggal 23 Februari 2021 tentang Imbauan Penyediaan Tempat untuk Promosi dan Penjualan Produk IKM Aceh,” kata Niken.

Selain Gubernur Aceh, ucap Niken, Pojok Kreatif ini juga didukung oleh Ketua Dekranasda Aceh, Dyah Erti Idawati, yang juga sebagai istri Gubernur Aceh.

“Pengusaha kafe dan warkop diimbau untuk membantu IKM di masa pandemi COVID-19 ini, dengan menyediakan tempat (space), rak atau pojok bagi IKM untuk memajang produk-produknya sekaligus bisa menjual produknya di kafe atau warkop tersebut,” harapnya.

Dari kolaborasi antara IKM dengan kafe atau warkop, sebutnya, diharapkan IKM dapat terbantu untuk meningkatkan omzet penjualan produknya. Sedangkan pemilik kafe, warkop atau toko juga memperoleh keuntungan dari penjualan produk IKM tersebut.

Berbagai dukungan lain juga telah diberikan Disperindag untuk IKM, di antaranya fasilitasi sertifikasi merek, sertifikasi halal, serta melaksanakan kegiatan pelatihan dalam rangka meningkatkan kapasitas pelaku IKM dan peningkatan kualitas produk IKM.

“Kami mengapresiasi IKM yang masih dapat bertahan di tengah pandemi. Seperti usaha Cilet Cokelat. Cilet Cokelat sendiri sejak awal merupakan binaan dari Disperindag Aceh,” tutupnya. (Kia Rukiah)