Minggu, Februari 1, 2026
spot_img
BerandaAcehHuntara Belum Siap, Warga Terdampak Banjir Pidie Jaya Kembali ke Rumah Berlumpur

Huntara Belum Siap, Warga Terdampak Banjir Pidie Jaya Kembali ke Rumah Berlumpur

“Saya tahu rumah ini belum aman, tapi kami tidak punya pilihan lain. Di pengungsian tidak sanggup, huntara belum ada”

Dua bulan setelah banjir besar melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Fatimah Kaoy warga Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua memilih kembali ke rumahnya yang tertimbun lumpur dua meter lebih.

Ketidaknyamanan di pengungsian dan belum siapnya hunian sementara membuatnya bertahan, meski risiko banjir susulan masih mengancam.

Pada Sabtu (31/1/2020), Fatimah terlihat membersihkan rumahnya yang sempat terendam banjir dan menyisakan endapan lumpur. Pembersihan dilakukan secara bertahap bersama keluarga selama lebih dari sebulan terakhir.

“Anak cucu tidak nyaman di pengungsian. pengungsian. Ramai, berhimpit-himpitan, Mau tidak mau, kami kembali ke rumah meski lumpurnya masih ada,” kata Fatimah

Fatimah menyadari rumahnya belum sepenuhnya aman. Tekstur lumpur yang halus membuat bangunan rawan kembali tertimbun jika hujan deras turun. Namun, ia memilih bertahan karena tak memiliki pilihan lain.

Banjir tidak hanya merusak rumah, tetapi juga memutus mata pencaharian Fatimah yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani penggarap sawah milik orang lain. Sebelum banjir, ia sempat menyimpan sekitar 15 karung padi yang disiapkan sebagai bekal pangan keluarga hingga Ramadhan.

Fatimah, warga Gampong Menasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, berdiri di rumahnya yang masih dipenuhi lumpur sisa banjir, Sabtu (31/1/2026). (Foto/Cut Nauval D).

Seluruh padi tersebut tertimbun lumpur, meski disimpan di tempat yang lebih tinggi. Hanya tiga karung yang berhasil diselamatkan, itupun dalam kondisi rusak dan tidak lagi dapat digunakan.

Total kerugian yang dialami Fatimah diperkirakan mencapai hampir Rp8 juta.

Ia juga mengingat kembali detik-detik banjir datang pada malam hari. Pada malam kedua, air terus naik hingga memaksanya menyelamatkan diri ke atap rumah menggunakan tangga.

“Air sampai ke atap. Anak cucu minta air minum, seadanya saya kasih,” ujarnya.

Saat ini, Fatimah mengaku telah terdata sebagai penerima hunian sementara (huntara). Namun, hingga dua bulan pascabanjir, bangunan tersebut belum siap ditempati. Sementara itu, Fatimah dan keluarganya terpaksa menumpang di rumah kerabat.

Menurutnya, huntara yang disediakan tidak akan cukup menampung seluruh anggota keluarganya yang berjumlah enam orang.

“Kalau tiga orang mungkin muat. Tapi kalau satu keluarga, tidak,” kata Fatimah.

Meski menunggu kepastian hunian sementara, Fatimah tetap membersihkan rumahnya secara mandiri. Selama ini, ia hanya menerima bantuan beras dan mi instan serta makanan dari dapur umum, sementara bantuan tunai maupun bantuan lain belum diterimanya.

Ia berharap pemerintah memastikan pemulihan pascabencana tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga menjamin keamanan rumah dan keberlanjutan penghidupan warga.

“Kami ini buruh tani. Sawah rusak, padi habis. Mau cari penghasilan juga susah,” ujarnya.

Fatimah Kaoy menunjukkan padi hasil panen yang rusak akibat tertimbun lumpur banjir di rumahnya, Gampong Meunasah Raya, Pidie Jaya. Padi tersebut semula disimpan sebagai bekal pangan keluarga. Sabtu (31/1/2026). (Foto/Cut Nauval D)

Pantauan Waspadaaceh.com, hingga lebih dari dua bulan pascabanjir, akses menuju permukiman warga di Gampong Meunasah Raya masih belum terbuka.

Jalan menuju kampung tersebut masih dipenuhi lumpur, genangan air, dan timbunan sedimen yang melintasi area perkebunan. Jejak alat berat terlihat di sejumlah titik, namun pengerukan baru dilakukan secara terbatas sehingga akses kendaraan belum dapat dilalui. Akibatnya, warga terpaksa berjalan kaki untuk mencapai rumah mereka.

Dua bulan pascabanjir, warga seperti Fatimah masih menanti pemulihan menyeluruh, terutama terkait hunian yang layak dan kecukupan pangan, terlebih menjelang Ramadhan.

Berdasarkan data Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh per 31 Januari 2026 pukul 19.13 WIB, banjir di Kabupaten Pidie Jaya berdampak pada delapan kecamatan dan 158 gampong (desa).

Jumlah warga terdampak tercatat sebanyak 22.973 kepala keluarga atau 82.922 jiwa. Selain itu, dilaporkan sebanyak 29 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Hingga data tersebut diperbarui, terdapat 38 titik pengungsian yang menampung 4.037 kepala keluarga atau 14.794 jiwa.

Sementara itu, berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatra yang diperbarui per 30 Januari 2026, pembangunan hunian sementara di Kabupaten Pidie Jaya telah menyelesaikan 222 unit. Namun, sebanyak 551 unit lainnya masih dalam proses pembangunan. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER