Banda Aceh (Waspada Aceh) – Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) mempercepat konsolidasi struktur partai di Aceh sebagai persiapan menghadapi Pemilu 2029. Pembenahan kepengurusan ditargetkan rampung hingga tingkat kecamatan pada akhir Oktober 2026.
Konsolidasi tersebut berlangsung di Hermes Hotel Banda Aceh, Senin (5/10/2026), dan merupakan bagian dari rangkaian konsolidasi nasional Hanura di 38 provinsi.
Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP sekaligus Ketua Tim Task Force DPP Partai Hanura, Patrice Rio Capella, mengatakan Aceh merupakan provinsi ke-20 yang dikunjungi dalam rangkaian konsolidasi tersebut. Setelah Aceh, Task Force dijadwalkan melanjutkan agenda ke Riau sebagai provinsi ke-21.
Menurut Rio, Task Force turun langsung ke daerah untuk melihat kondisi organisasi sekaligus mendengarkan kesiapan pengurus dalam menyelesaikan struktur partai hingga tingkat kecamatan.
“Task Force ke Aceh ini merupakan rangkaian dari konsolidasi nasional yang akan kita lakukan di 38 provinsi. Tugas dari Task Force adalah melihat secara langsung kondisi di Aceh,” kata Rio.
Dalam kunjungan tersebut, pihaknya bertemu dengan pimpinan Hanura se-Aceh serta 21 anggota DPRK dari tujuh kabupaten.
Rio mengatakan pembenahan struktur menjadi salah satu fokus utama karena hasil evaluasi terhadap perjalanan partai dalam lima tahun terakhir menunjukkan masih terdapat kepengurusan yang belum lengkap dan struktur yang belum solid.
“Kalau partai ini akan menjadi berkembang lebih besar pada Pemilu 2029, maka 2026 ini waktunya kami mengevaluasi kepengurusan yang kemarin. Mana yang lemah harus kami perbaiki,” ujarnya.
Ia menyebut pembenahan tidak hanya menyangkut struktur organisasi, tetapi juga penyiapan sumber daya manusia dan kekuatan kader di setiap tingkatan.
Hanura, kata Rio, menargetkan konsolidasi nasional di seluruh Indonesia dapat dituntaskan pada awal 2027. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 7.300 kecamatan dan 514 kabupaten/kota yang menjadi sasaran penguatan struktur partai.
“Bukan hanya dalam rangka verifikasi partai politik, tetapi menyiapkan mesin politik partai ini untuk bertarung pada Pemilu 2029,” katanya.
Khusus Aceh, Rio mengatakan pihaknya berharap seluruh kepengurusan di tingkat kecamatan dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026.
Ia menilai kondisi Hanura di Aceh masih dapat dibenahi karena masih tersedia waktu sebelum memasuki tahapan persiapan Pemilu 2029.
“Kami rasa Aceh itu masih on the track. Ada kelambatan sedikit, itu masih bisa diatasi. Masih punya waktu cukup untuk memperbaiki struktur kepengurusan Hanura di Aceh,” ujar Rio.
Salah satu tantangan yang dihadapi Hanura adalah masih banyak kabupaten/kota yang belum memiliki keterwakilan di parlemen.
Dari 23 kabupaten/kota di Aceh, Hanura disebut memiliki 21 anggota DPRD yang berasal dari tujuh kabupaten. Dengan demikian, masih terdapat 16 kabupaten/kota yang belum memiliki kursi Hanura.
Karena itu, konsolidasi juga diarahkan untuk menghidupkan kembali struktur partai di daerah yang belum memiliki kursi legislatif.
“Mesinnya mungkin sudah mogok atau mati suri di kecamatan itu. Mereka harus hidupkan, cari calon pengurusnya,” katanya.
Selain pembentukan pengurus, struktur di tingkat kecamatan juga akan dilengkapi dengan kebutuhan administrasi, termasuk pembukaan rekening atas nama partai dan pemasangan papan nama DPC hingga PAC.
DPP Hanura juga menyiapkan dukungan pembiayaan untuk membantu proses konsolidasi tersebut. “Totalnya 205 juta,” kata Rio.
Mulai Jaring Bacaleg pada 2027
Setelah pembenahan struktur organisasi, Hanura akan mulai melakukan penjaringan bakal calon anggota legislatif pada 2027.
Rio mengatakan penjaringan dilakukan lebih awal agar partai memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan calon legislatif di setiap daerah pemilihan.
“Persiapan Pemilu 2029 itu bukan disiapkan enam bulan sebelumnya, tapi dimulai pada hari ini dengan menyiapkan mesin politiknya lebih sehat, lebih punya daya juang dan punya otot untuk menghadapi pertarungan 2029,” ujarnya.
Ia mengatakan calon legislatif yang dijaring nantinya diharapkan benar-benar siap menghadapi kontestasi di masing-masing daerah pemilihan.
Untuk Aceh, Hanura memiliki dua daerah pemilihan DPR RI. Rio menyebut partainya menargetkan dapat mengirimkan kader dari Aceh ke Senayan.
“Ada dua dapil di sini dan kami targetkan satu dapil itu Hanura bisa mengirimkan kader terbaik kita di Aceh untuk masuk ke Senayan,” katanya.
Sementara itu, pengurus Hanura Aceh menyampaikan target internal yang lebih tinggi, yakni empat kursi DPR RI pada Pemilu 2029 berdasarkan hasil pemetaan politik partai.
“Untuk DPR RI kita empat kursi, karena hasil pemetaan dari DPP sudah empat kursi,” ujar pengurus Hanura Aceh.
Rio menegaskan konsolidasi yang dilakukan di Aceh bukan agenda yang berdiri sendiri. Menurutnya, Task Force juga melakukan agenda serupa di seluruh provinsi dengan menyesuaikan kondisi masing-masing daerah.
“Apa pun kondisi Hanura di setiap provinsi yang berbeda-beda, treatment nya kami sesuaikan. Task Force turun ke sini supaya mengetahui langsung kondisi struktur partainya di setiap provinsi,” katanya.
Ketua DPD Hanura Aceh, Aswin Surya, mengatakan konsolidasi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat organisasi menghadapi Pemilu 2029.
Menurutnya, sekitar 75 persen dari 23 DPC Hanura di Aceh perlu direorganisasi berdasarkan hasil evaluasi Pemilu sebelumnya.
“Dari 23 DPC di Aceh, hampir 75 persen harus dilakukan reorganisasi,” kata Aswin.
Selain DPC, Hanura Aceh juga terus melengkapi struktur hingga tingkat kecamatan. Saat ini, 290 PAC telah mengantongi SK, sementara sebagian lainnya masih dalam proses.
Aswin menargetkan seluruh PAC Hanura di Aceh rampung terbentuk pada Oktober 2026.
“Kita minta DPC yang belum membentuk struktur PAC segera menyelesaikannya. Target kita bulan ini seluruhnya sudah 100 persen,” ujarnya.
Ia mengakui tantangan menuju Pemilu 2029 cukup besar, terutama dengan persaingan partai nasional dan partai lokal di Aceh. Namun, Hanura akan menghadapinya melalui penguatan organisasi dan konsolidasi kader hingga tingkat akar rumput. (*)



