“Hampir seluruh kelas rusak, buku habis, laboratorium tak bisa digunakan. Tapi anak-anak tetap datang belajar”
Dua bulan setelah banjir besar yang melanda Aceh Utara pada akhir November 2025, SMAN 1 Baktiya masih berbenah. Lumpur menutupi halaman dan koridor, genangan air masih terlihat di beberapa titik.
Ekskavator membersihkan sebagian lumpur, tapi sisa tanah basah masih menempel di setiap sudut sekolah.
Almasul Husna, 17 tahun, siswa kelas XI, menunduk mengumpulkan buku dan yang berlumur lumpur di halaman bersama teman-temannya.
Ia baru keluar dari ruang kelas darurat yang mulai dipakai sejak dua minggu pascabanjir. Hari itu, Husna tidak mengenakan seragam sekolah. Bajunya sederhana, bercampur debu dan tanah basah.
“Seragam saya hilang semua saat banjir. Jadi hari ini pakai baju seadanya,” kata Husna, Rabu (28/1/2026).
Husna menabung untuk biaya kuliah, tapi sebagian tabungannya habis dipakai kebutuhan sehari-hari pascabanjir. Meski begitu, ia tetap berharap melanjutkan pendidikan, berencana kuliah di Universitas Malikussaleh atau UIN Aceh.
“Yang penting bisa belajar lagi dan tidak berhenti,” tambah Husna.

Menurut Titi Suryati, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, hampir seluruh ruang kelas rusak total. Sekolah kini menyiapkan tiga ruang kelas darurat: satu untuk kelas XI, dua untuk kelas XII, dengan sistem belajar bergantian. Lima ruang kelas yang sedang direvitalisasi progresnya telah mencapai 85 persen.
“Buku habis, laboratorium tidak bisa digunakan, smartboard yang baru diterima pun rusak. Tapi anak-anak tetap datang dan belajar,” ujar Titi.
SMAN 1 Baktiya memiliki 318 siswa dengan 10 rombongan belajar, yang kini harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan fasilitas.

Pada kesempatan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, berkunjung ke sekolah sekaligus meresmikan sebagian revitalisasi fasilitas.
Ia menegaskan pemerintah akan segera memperbaiki gedung sekolah yang rusak agar proses belajar tidak terganggu.
“Dana bantuan operasional pendidikan juga bisa digunakan untuk kebutuhan darurat, seperti buku dan laptop. Prioritas utama adalah memastikan siswa tetap bisa belajar,” kata Mu’ti.
Di tengah sisa lumpur dan ruang darurat, semangat belajar tetap hidup. Anak-anak menatap papan tulis, menulis di buku, dan bertanya kepada guru dengan tekad yang tidak pudar.
Husna dan teman-temannya menjadi simbol bahwa, meski bencana menghancurkan fasilitas, harapan untuk belajar dan masa depan tetap kuat. (*)



