BerandaAcehDTH Belum Cair, Dua Pekan Ramadhan, Ratusan KK Korban Banjir Aceh Tamiang...

DTH Belum Cair, Dua Pekan Ramadhan, Ratusan KK Korban Banjir Aceh Tamiang Masih di Tenda dan Barak

Aceh Tamiang (Waspada Aceh) – Hampir dua pekan Ramadhan berlalu, ratusan kepala keluarga (KK) korban banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 masih bertahan di tenda dan hunian darurat. Kepastian bantuan dari pemerintah dinilai belum jelas.

Reza Suchrita, warga Dusun Lestari II, Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, mengatakan kondisi pengungsi hingga kini tidak banyak berubah.

“Belum ada kepastian soal bantuan, baik huntara (hunian sementara) maupun huntap (hunian tetap). Kami dijanjikan cair sebelum Lebaran, tapi sampai sekarang belum jelas mekanismenya,” kata Reza, saat dihubungi Waspadaaceh.com, Senin (2/3/2026).

Berdasarkan data warga, sekitar 370 KK atau lebih dari 1.000 jiwa terdampak banjir di Desa Sukajadi. Sekitar 120 KK telah menempati huntara, sementara sekitar 200-an KK lainnya masih bertahan di tenda atau membangun tempat tinggal seadanya dari papan bekas material banjir.

Desa Sukajadi terdiri dari tiga dusun, Karya, Lestari, dan Citra. Dusun Lestari dan Citra mengalami kerusakan paling parah, dengan banyak rumah rata dengan tanah.

Sebanyak 24 unit barak pengungsian dibangun oleh lembaga non-pemerintah dan kini telah ditempati sebagian warga. Namun jumlahnya belum mencukupi seluruh kebutuhan.

Suasana barak pengungsian di Desa Sukajadi, Aceh Tamiang, yang telah ditempati warga lebih dari tiga bulan pascabanjir. Hingga memasuki pertengahan Ramadhan, kepastian hunian sementara dan pencairan DTH belum diterima. (Foto/Ist)

Janji DTH dan Jadup

Reza juga mengatakan dalam pertemuan dengan warga, pemerintah desa menyampaikan rencana bantuan berupa Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per KK bagi yang belum menempati huntara. Selain itu, ada Jatah Hidup (Jadup) sebesar Rp15 ribu per orang per hari, maksimal empat orang per keluarga.

Namun hingga kini, warga belum menerima kepastian waktu pencairan.
“Katanya akan cair sebelum Lebaran. Sampai hari ini belum jelas kapan dan bagaimana mekanismenya,” ujar Reza.

Ia juga menyoroti syarat administratif yang dinilai menyulitkan, seperti kewajiban menunjukkan foto rumah sebelum dan sesudah banjir untuk mengakses bantuan perbaikan.

“Waktu banjir, orang fokus selamatkan diri. Tidak mungkin terpikir memotret rumah. Kalau rumah sudah kami perbaiki seadanya supaya bisa ditempati, malah katanya tidak dapat bantuan,” katanya.

Bertahan dengan Bantuan Non-Pemerintah

Selama Ramadhan, kebutuhan sahur dan berbuka banyak ditopang bantuan lembaga dan komunitas relawan, termasuk dari luar daerah dan luar negeri. Hingga kini, belum ada dapur umum khusus Ramadhan dari pemerintah.

Untuk air bersih, warga dibantu instalasi pemurnian air bergerak yang dioperasikan tim relawan dari perguruan tinggi (ITB). Air sungai disaring dan dialirkan ke sejumlah tandon yang tersedia.

“Kalau dibanding awal pascabanjir, sekarang lebih baik. Minimal tidak lagi kesulitan air bersih,” ujar Reza.

Meski demikian, layanan kesehatan tidak lagi rutin hadir selama Ramadhan. Warga mengaku gangguan yang banyak muncul adalah infeksi saluran pernapasan (ISPA) akibat debu. Banyak yang menderita flu, demam, dan diare ringan.

Minta Kepastian

Reza menegaskan, warga tidak sepenuhnya menggantungkan harapan pada pemerintah, tetapi meminta kejelasan.

“Kalau memang mau diberikan bantuan, sampaikan kapan cair. Kalau tidak, jangan beri harapan,” ujarnya.

Reza mengatakan, lokasi tempat tinggalnya kini sekaligus menjadi posko yang berjalan secara mandiri di Desa Sukajadi. Posko tersebut dibentuk atas inisiatif warga untuk mengorganisasi bantuan, mendistribusikan logistik, serta berkoordinasi dengan relawan secara swadaya.

Menjelang Idul Fitri, warga berharap ada kepastian mengenai bantuan hunian dan dukungan hidup agar dapat menjalani Ramadhan dan Lebaran dengan lebih layak, setelah lebih dari tiga bulan bertahan dalam kondisi darurat. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER