Kamis, Februari 29, 2024
Google search engine
BerandaDisbudpar AcehDisbudpar Aceh Gelar Festival Kopi Liberika

Disbudpar Aceh Gelar Festival Kopi Liberika

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar Festival Kopi Liberika 2021, di Hotel Grand Aceh Syariah, Selasa (28/9/2021).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin, melalui Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Teuku Hendra Faisal menjelaskan, Aceh sebagai produsen kopi terbesar di Indonesia hingga mancenegara, selain memiliki varietas Arabika dan Robusta, juga memiliki satu varietas Kopi yang memiliki cita rasa khas beraroma nangka yaitu Kopi Liberika.

Saat ini, tambahnya, kopi liberika ini tumbuh dan dibudidayakan di Tangse, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Masyarakat Tangse menyebutnya dengan kopi panah karena memiliki aroma dan cita rasa unik dan beraroma buah nangka.

“Acara ini juga untuk memperkenalkan lebih luas mengenai kopi liberika atau kopi panah sebagai salah satu komoditi unggulan daerah Aceh, khususnya Tangse Kabupaten Pidie,” tutur Teuku Hendra Faisal.

Dia juga mengatakan, event ini dapat menjadi pendorong bagi para pelaku industri kopi liberika untuk meningkatkan produk, citra, pengetahuan bahkan kerjasama dengan para stakeholder.

“Dengan adanya semangat dari para kawula muda, dapat memperkenalkan kopi liberika menjadi salah satu minuman khas yang digemari oleh masyarakat. Nantinya bisa bersaing di tingkat nasional dan internasional hingga memberikan dampak positif dalam pengembangan industri kopi di Aceh,” ungkapnya.

Rangkaian festival tersebut berupa perlombaan barista kreatif di Aceh dalam meracik kopi, baik kopi espresso serta signature drink yang diikuti oleh sembilan orang barista. Perlombaan tersebut dinilai oleh empat juri berkompeten.

Pegiat industri kopi liberika, Edy Azhari, yang juga menjadi juri dalam festival tersebut mengatakan, sejak tiga tahun ini, potensi kopi liberika dari Tangse mulai dikenal dan memberikan potensi besar terhadap perekonomian masyarakat.

Kopi liberika mulai dikenal di Indonesia pada abad ke 19. Sesuai dengan namanya, kopi ini berasal dari Liberia, Afrika, dan tumbuh subur di sana. Liberika masuk ke Indonesia karena dibawa oleh kolonial Belanda saat masa penjajahan dahulu, untuk menggantikan varietas kopi Arabika yang terserang hama. Liberika memang dikenal tanaman yang tahan terhadap hama.

Putra Asal Tangse yang juga pemilik warung kopi H2E ini, mengatakan, kopi liberika mampu tumbuh rata-rata pada ketinggian 700 hingga 800 Mdpl. Jadi cocok dengan kondisi alam di Tangse. Warga Tangse sendiri, menyebut kopi liberika ini dengan nama kopi panah (nangka). Kopi ini memang memiliki cita rasa unik dan beraroma buah nangka.

“Mulai dari bentuk pohon, daun dan biji buah kopi liberika memiliki ukuran yang lebih besar. Setelah melewati proses roasting, aroma kopi ini lebih tajam dan menyerupai aroma buah nangka,” ujarnya

Edy menjelaskan, penilaian dalam kompetisi itu di antaranya dari sudut pandang kopi itu sendiri dan dari sudut pandang barista. Di mana selain melihat dari sisi kemahiran para peracik kopi, namun juga menilai dari profesionalisme barista tersebut, hospitality (keramahan) serta menjadi costumer service.

Dalam penutupan acara, panitia mengumumkan tiga pemenang perlombaan, di antara pemenang lomba meracik kopi, baik expresso coffee serta signature drink, yaitu juara 1 diraih oleh Novriandi Mirza, juara 2 oleh Rekha serta juara 3 diraih oleh Bayu Fadhillah.

Kegiatan itu juga dihibur dengan penampilan tarian Aceh, yaitu tarek pukat dan penampilan musik solo khas Aceh. Rangkaian acara dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan. (Cut Nauval d)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments