Sabtu, Januari 24, 2026
spot_img
BerandaAcehDi Gayo Lues, Siswa Tetap Sekolah di Tengah Pemulihan Pascabencana

Di Gayo Lues, Siswa Tetap Sekolah di Tengah Pemulihan Pascabencana

“Pemulihan pendidikan tidak hanya soal membangun kembali gedung, tetapi memastikan proses belajar mengajar kembali normal, aman, dan memberi rasa tenang bagi peserta didik, guru dan orang tua”

Hujan deras yang mengguyur pada akhir November 2025 lalu telah menghanyutkan sebagian fasilitas pendidikan di Kabupaten Gayo Lues.

Namun, di tengah puing bencana dan proses pemulihan yang masih berlangsung, ada satu hal yang tetap bersinar: semangat belajar para siswa yang tidak pernah padam.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Gayo Lues, Basri, mengatakan secara umum aktivitas pendidikan pada jenjang SMA, SMK, dan SLB sudah kembali berlangsung normal.

Hal itu menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah kondisi darurat.

“Secara umum, PBM di Gayo Lues berjalan lancar pascabencana. Anak-anak tetap bersekolah meskipun masih dalam keterbatasan,” ujar Basri, Sabtu (24/1/2026).

Namun demikian, ia mengakui masih terdapat satuan pendidikan yang membutuhkan penanganan khusus, salah satunya SMAN 1 Pining.

Sekolah tersebut menjadi lokasi yang terdampak cukup parah akibat banjir dan longsor, dengan kondisi gedung sempat tertimbun lumpur dan material pasir, serta akses jalan dari gampong menuju sekolah terputus.

“Untuk SMAN 1 Pining, proses belajar mengajar dilaksanakan dalam kondisi khusus karena dampak bencana cukup berat. Namun pemerintah terus berupaya agar layanan pendidikan tetap berlangsung,” tambahnya.

Dari total 21 sekolah SMA, SMK, dan SLB di Gayo Lues, tercatat 210 siswa terdampak langsung bencana. Sebagian siswa kehilangan tempat tinggal atau rumahnya mengalami kerusakan berat, sehingga membutuhkan bantuan perlengkapan sekolah seperti seragam, sepatu, buku, dan alat tulis.

Sebagai bagian dari percepatan pemulihan, pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pendataan serta penyaluran bantuan pendidikan. Langkah ini dilakukan agar para siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran dan tidak tertinggal secara akademik.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menginstruksikan seluruh satuan pendidikan di Aceh untuk memanfaatkan kebijakan fleksibilitas penggunaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) Tahun 2026 bagi sekolah terdampak bencana hidrometeorologi, sesuai persetujuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

“Kebutuhan pendukung pembelajaran kami dorong untuk dipenuhi dengan memaksimalkan penggunaan dana BOSP, sehingga kegiatan belajar mengajar tetap berjalan optimal meskipun infrastruktur belum sepenuhnya pulih,” kata Murthalamuddin.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin. (Foto/ist).

 

Proses pemulihan pendidikan di Aceh tidak hanya fokus pada perbaikan fisik sekolah. Seperti yang disampaikan Murthalamuddin dalam pertemuan dengan Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem pada 16 Januari 2026, pemulihan juga mencakup pendataan kerusakan menyeluruh, penyusunan dokumen teknis rehabilitasi dan rekonstruksi, serta koordinasi lintas sektor.

“Pemulihan pendidikan tidak hanya soal membangun kembali gedung, tetapi memastikan proses belajar mengajar kembali normal, aman, dan memberi rasa tenang bagi peserta didik, guru, serta orang tua,” ujarnya.

Ia menegaskan, pendidikan menjadi bagian penting dari upaya pemulihan pascabencana dan harus tetap dijaga keberlangsungannya.

“Pendidikan adalah sumber harapan dan optimisme masyarakat. Karena itu, tidak boleh terhenti,” ujarnya.

Pemerintah berharap, melalui dukungan berbagai pihak dan semangat gotong royong, dunia pendidikan di Gayo Lues dan daerah lain di Aceh yang terdampak banjir, dapat segera pulih dan bangkit, seiring proses pemulihan wilayah pascabencana. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER