Jumat, Februari 20, 2026
spot_img
BerandaInfo SabangDi Balik Wisata Bahari Sabang, Lahan Tidur Disiapkan Jadi Wisata Agro dan...

Di Balik Wisata Bahari Sabang, Lahan Tidur Disiapkan Jadi Wisata Agro dan Penyangga Pangan

“Melalui transformasi teknologi pertanian, Sabang nantinya tidak hanya dikenal sebagai daerah wisata bahari, tetapi juga wisata agro”

Sabang selama ini identik dengan wisata bahari. Namun di balik pesona lautnya, kota pulau ini mulai menata arah baru mengembangkan lahan tidur sebagai basis wisata agro yang sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Ketergantungan Sabang terhadap pasokan pangan dari daratan Aceh yang mencapai sekitar 80 persen menjadi alarm tersendiri, terutama saat krisis pandemi dan bencana alam mengganggu jalur distribusi.

Dari situ, pemerintah daerah melihat peluang ganda, lahan pertanian tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga daya tarik wisata alternatif.

Wali Kota Sabang Zulkifli H. Adam mendorong seluruh gampong memanfaatkan lahan pertanian sebagai fondasi kemandirian pangan sekaligus mendukung pengembangan potensi wisata berbasis pertanian. Langkah ini sejalan dengan program ketahanan pangan nasional dan upaya diversifikasi sektor pariwisata.

Sebagai daerah kepulauan, Sabang masih sangat bergantung pada transportasi laut untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kondisi tersebut menuntut langkah antisipatif jangka panjang agar daerah ini lebih mandiri dan berdaya tahan, sekaligus mampu menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dari sekadar laut dan pantai.

Sebagai bentuk keseriusan, Pemerintah Kota Sabang telah meminta Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) menyiapkan sekitar 200 hektare lahan yang dapat dimanfaatkan petani dari 18 gampong.

“Kita sangat membutuhkan lahan untuk memperkuat ketahanan pangan. Karena itu, kami meminta BPKS untuk ikut mendukung dengan menyediakan lahan yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat.”

Pemerintah Kota Sabang Bersama Kelompok Tani Ingin Jaya memanen padi gogo varietas Inpago 13 di Gampong Bateeshoek. Panen di lahan sekitar satu hektare itu diperkirakan menghasilkan 2–2,5 ton gabah.(Foto/ist)

“Sabang harus siap dan memiliki sikap ke depan. Walaupun nantinya tetap ada pasokan dari daratan, kemandirian pangan harus mulai dibangun mulai dari sekarang,” tegas Wali Kota Sabang.

Dorongan serupa disampaikan Wakil Wali Kota Sabang Suradji Junus saat menghadiri Rembug Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Sabang.

Ia meminta petani lebih aktif memanfaatkan lahan tidak produktif dengan menanam padi gogo dan jagung, serta mulai melihat pertanian sebagai sektor bernilai tambah.

Wakil Wali Kota Sabang Suradji Junus menghadiri rembuk Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Sabang yang membahas penguatan ketahanan pangan, pemanfaatan lahan tidur, dan penyusunan program kerja KTNA periode 2025–2030. Rabu, (11/2/2026). (Foto/ist)

Menurut Suradji, pengalaman saat pandemi COVID-19 dan banjir besar di Aceh menunjukkan rapuhnya sistem pasokan pangan Sabang. Ketika distribusi terganggu, harga kebutuhan pokok melonjak tajam.

Ia menekankan pentingnya inovasi dan pengolahan hasil pertanian agar produk tidak berhenti sebagai bahan mentah. Perubahan pola pikir menuju pertanian modern dinilai krusial jika Sabang ingin mengembangkan citra baru sebagai kota wisata agro.

Rembug KTNA Kota Sabang tahun ini mengusung tema Keadilan Ekologi bagi Kemandirian Pangan dan Kesejahteraan Petani dan Nelayan melalui Inovasi dan Kolaborasi. Forum tersebut menjadi ruang merumuskan strategi menghadapi tantangan pangan sekaligus peluang ekonomi baru di wilayah kepulauan.

Optimisme juga datang dari Junaidi, Pengurus KTNA Provinsi Aceh. Ia menilai transformasi teknologi pertanian membuka peluang Sabang mengelola lahan tidur secara maksimal.

“Melalui transformasi teknologi pertanian, Sabang tidak hanya dikenal sebagai daerah wisata bahari, tetapi juga wisata agro,” ujarnya.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada akhir Januari 2026, petani di Gampong Bateeshoek memanen padi gogo varietas Inpago 13 dari lahan tidur. Produktivitas mencapai sekitar 2,5 ton per hektare, menunjukkan potensi pertanian lahan kering yang menjanjikan.

Di balik gemerlap pariwisata laut, Sabang perlahan menumbuhkan wajah baru. Dari lahan-lahan yang lama terabaikan, kota pulau ini berupaya membangun kemandirian pangan sekaligus memperluas horizon pariwisata berbasis agro. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER