Jumat, Februari 27, 2026
spot_img
BerandaAcehDeforestasi Aceh 2025 Tertinggi dalam Satu Dekade

Deforestasi Aceh 2025 Tertinggi dalam Satu Dekade

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Laju deforestasi Aceh sepanjang 2025 melonjak tajam dan menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir. Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) mencatat total kehilangan tutupan hutan mencapai 39.687 hektare, naik sekitar 274 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 10.610 hektare.

Manager GIS HAkA, Lukmanul Hakim, menjelaskan 61,5 persen atau 24.372 hektare kehilangan hutan dipicu faktor alami seperti banjir, longsor, dan pelebaran alur sungai akibat cuaca ekstrem pada November–Desember 2025, termasuk dampak Siklon Senyar.

Sementara itu, faktor antropogenik menyumbang 15.230 hektare. Rinciannya, ekspansi perkebunan mencapai 13.000 hektare, pembangunan jalan 1.007 hektare, pertambangan 796 hektare, dan logging 428 hektare.

Namun Lukman menegaskan, lonjakan ini tidak bisa semata-mata disebabkan bencana. “Tren peningkatan sudah terlihat sebelum banjir besar dan longsor terjadi,” ujarnya dalam diskusi di Banda Aceh, Rabu (25/2/2026).

Sepanjang Januari–September 2025, kehilangan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Aceh sudah mencapai 5.955 hektare, melampaui total kehilangan sepanjang 2024 yang sebesar 5.699 hektare. Secara keseluruhan, kehilangan hutan di KEL sepanjang 2025 mencapai 28.012 hektare. Padahal, KEL merupakan salah satu ekosistem paling utuh di Asia Tenggara dan habitat kunci satwa langka seperti harimau, gajah, badak, dan orangutan Sumatra.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 80 persen deforestasi terjadi di dalam kawasan hutan negara, termasuk hutan lindung, hutan produksi, taman nasional, dan suaka margasatwa. Menurut HAkA, kondisi ini menunjukkan persoalan serius dalam tata kelola dan pengawasan kawasan hutan.

Secara wilayah, kehilangan terbesar terjadi di Aceh Timur dengan 8.535 hektare, disusul Aceh Tengah 6.910 hektare, dan Gayo Lues 6.773 hektare yang mayoritas dipicu faktor alami. Sementara di Aceh Selatan, Nagan Raya, Bireuen, dan Pidie, kehilangan hutan lebih banyak disebabkan aktivitas manusia.

Lukman menjelskan, data kehilangan hutan 2025 memperlihatkan hubungan erat antara degradasi ekologis dan meningkatnya risiko bencana di wilayah Aceh.

“Ketika tutupan hutan melemah akibat pembukaan lahan, dampak hujan ekstrem menjadi berlipat. Faktor alam dan aktivitas manusia saling berkorelasi,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Tanpa langkah pengendalian yang tegas, risiko bencana diperkirakan akan terus meningkat pada masa mendatang.

Lonjakan deforestasi di kawasan yang seharusnya dilindungi ketat itu kini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk mengevaluasi sistem pengawasan hutan.

Untuk diketahui, HAkA menggunakan metode identifikasi berbasis pembanding (baseline) tutupan hutan pada bulan atau tahun sebelumnya untuk mendeteksi perubahan tutupan hutan. Dengan pendekatan ini, setiap area yang mengalami perubahan dapat diukur secara sistematis dan terverifikasi.

Proses analisis dilakukan melalui interpretasi visual dengan teknik on-screen delineation, yakni penarikan batas area terdampak secara langsung di atas citra satelit. HAkA memanfaatkan citra mosaik bulanan PlanetScope 2025 beresolusi 4,7 meter, yang kemudian diperkuat dengan data peringatan dini deforestasi otomatis dari Global Forest Watch (GFW). (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER