Beranda Tulisan Feature Bulan Ramadhan, Nek Bismi Mendulang Rizki dari Kolang-kaling

Bulan Ramadhan, Nek Bismi Mendulang Rizki dari Kolang-kaling

BERBAGI
Nek Bismi, 65, sedang membuat kolang-kaling dari buah aren di Gampong Gintong, Kecamatan Grong-Grong, Kabupaten Pidie, Selasa (5/4/2022). (Waspada/Muhammad Riza)

Sigli (Waspada Aceh) – Selasa (5/4/2022), pukul 09:00 WIB, beberapa warga Gampong Gintong, Kecamatan Grong-grong, Kabupaten Pidie, tampak tergopoh-gopoh menuju ke sawah yang diapit oleh perbukitan.

Dari kejauhan terlihat seorang perempuan lanjut usia (Lansia) berpakaian lusuh, ditemani beberapa bocah, sedang sibuk mengolah buah aren menjadi kolang-kaling.

Dia adalah Nek Bismi, 65, warga Gampong Gintong, Kecamatan Grong-Grong, Kabupaten Pidie. Nek Bismi memproduksi kolang-kaling setiap bulan Ramadhan. Pekerjaan itu memang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan Nek Bismi.

Sejak usianya masih remaja, Nek Bismi telah menjadi perajin kolang-kaling. Suatu kegiatan industri skala mikro yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sekira beberapa tahun silam sebelum virus Corona mewabah, produk kolang-kaling hasil olahan Nek Bismi dikirim ke berbagai kota besar di Aceh dan Medan, Sumatera Utara.

Tetapi apa lacur, karena modal pas-pasan, ditambah lagi pandemi COVID-19 belum berakhir di negeri ini, Nek Bismi hanya bisa memproduksi kolang-kaling 20 Kg/hari. Jumlah ini hanya bisa dijual di pasar Grong-grong saja.

Kendati usaha produksi kolang-kaling ini sempat terguncang akibat wabah virus Corona, namun, Nek Bismi sebagai perajin kolang-kaling di Gampong Gintong, Kabupaten Pidie ini mampu bertahan meskipun hasil produksinya sedikit.

Di bulan penuh berkah ini, Nek Bismi tengah mendulang rupiah karena meningkatnya permintaan pasar. Untuk mencukupi permintaan pasar, Nek Bismi mengaku sudah mengorder buah aren mentah pada beberapa pemilik kebun.

Kata dia, butuh modal besar untuk membeli buah aren janjangan. Per janjang buah aren dibelinya seharga Rp200.000 dengan jumlah 12 tandan/batang. Dia juga mengeluarkan biaya Rp50.000 untuk ongkos petik buah aren, serta biaya angkut.

Setiba di rumah, semua buah aren tersebut direbus, setelah dingin buah aren itu dipotong pada bagian pangkalnya, lalu dicongkel isinya untuk mendapatkan kolang-kaling. Setelah itu semua biji kolang-kaling tersebut direndam dalam air, lalu dibawa ke pasar Grong-Grong untuk dijual. Di pasar Grong-grong, kolang-kaling dijual per kilogram Rp20.000 dan Rp 5.000/gelas.

Setiap harinya Nek Bismi memproduksi sekira 20 Kg kolang-kaling. Jika cuaca tidak hujan, dalam sehari dia bisa mengantongi uang sekira Rp 400.000 hingga Rp500.000.

“Ini sudah lebih dari cukup, bisa menyisihkan sedikit dari hasil penjualan untuk ditabung,” pungkasnya. (Muhammad Riza)

BERBAGI