“Aceh bukan keturunan orang miskin dan bukan keturunan orang lemah. Aceh adalah keturunan sultan yang kuat, yang pernah memiliki imperium”
Ramadhan bukan sekadar bulan di mana umat Islam menahan lapar dan dahaga dari Fajar hingga Maghrib, atau hanya momen untuk memperbanyak ibadah individual di sudut masjid. Bagi Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), tokoh dakwah yang dikenal dengan gerakan sosialnya, Ramadhan adalah momentum emas untuk rekonstruksi peradaban sosial.
Narasi besar yang ia usung sederhana namun mendalam: Ramadhan mengalirkan kehidupan dari masjid ke masyarakat. Itulah inti dari perbincangan hangat yang dilakukan jurnalis Waspadaaceh.com dengan UBN di Idi, Aceh Timur, pada Selasa, 17 Februari 2026.
Secara sosiologis, UBN memandang Aceh bukan hanya sebagai Tanah Syariat yang kental dengan nuansa keislaman, melainkan juga sebagai tanah ujian bagi sosial bangsa Indonesia. Di sinilah ia dan timnya berupaya membangun narasi-narasi konkret yang menyentuh akar masalah di lapangan.
“Bagi kita, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah individual. Justru ini adalah momentum rekonstruksi peradaban sosial. Itulah yang ingin sama-sama kita bangun,” tegas UBN.
Realitas di lapangan menunjukkan masih banyak tantangan yang harus dihadapi masyarakat Aceh, khususnya di daerah terpencil. Masih banyak desa yang kesulitan mengakses air bersih, sumber kehidupan yang paling mendasar. Maka, UBN dan tim Laznas AQL Peduli hadir dengan program “Air Bersih untuk Kehidupan”.
Selain itu, banyak masyarakat yang masih sangat bergantung pada transportasi sungai, baik untuk keperluan pendidikan maupun akses darurat medis melalui ambulans air. Menanggapi hal ini, tim Laznas AQL Peduli pun bergerak memberikan bantuan perahu.
Satu hal yang menyentuh hati adalah kondisi banyak meunasah, tempat pendidikan Islam tradisional dan pusat kegiatan masyarakat, yang tidak hanya rusak, tetapi bahkan hilang ditelan bencana.
“Kita berpacu dengan waktu agar di bulan Ramadhan ini sudah bisa digunakan kembali. Targetnya minimal 8 meunasah harus terbangun,” ungkap UBN dengan semangat.
Selain pembangunan meunasah, program bantuan transportasi air juga berjalan intensif. Untuk perahu, saat ini sedang dibangun 6 unit dari total 8 unit yang dananya sudah disiapkan. Sementara itu, terdapat 7 unit perahu yang disalurkan menjelang Ramadhan, dan 4 unit di antaranya sudah selesai disiapkan.
Sebelumnya, dalam menyambut Ramadhan, program Laznas AQL Peduli lainnya juga terus digulirkan; menyalurkan 21 ekor sapi bantuan untuk korban banjir Aceh. Sebanyak 16 ekor untuk meugang dan 5 ekor untuk bulan Ramadhan. Program sumur bor dan pengadaan tandon air untuk penyediaan air bersih juga menjadi fokus utama, yang manfaatnya diharapkan akan sangat terasa langsung oleh masyarakat.
Narasi besar yang ingin diangkat UBN ke tingkat nasional adalah sebuah pertanyaan reflektif: Jika Ramadhan disebut sebagai bulan rahmat, maka di mana letak rahmat itu bagi Aceh? Melalui realisasi program-program konkret ia ingin menjawab pertanyaan tersebut dengan bukti nyata. Harapannya, isu kebangkitan dan pemulihan Aceh ini tetap bisa menembus perhatian nasional.
Target ini tidak hanya berhenti di level komunitas dalam negeri. UBN berambisi memperluas narasi ini hingga ke kancah internasional. “Saya berharap narasi ini bisa diperluas. Sebagian akan saya terjemahkan ke dalam bahasa Arab, agar bisa masuk ke jaringan internasional, selain nasional,” jelasnya.
Bagi UBN, memiliki target yang jelas justru memberikan arah dan tujuan yang kokoh bagi sebuah gerakan. UBN menjelaskan bahwa ia selalu menargetkan tim lapangannya untuk minimal berada tiga bulan di lokasi bencana atau daerah dampingan. Tujuannya adalah hingga mereka merasa nyaman dan cukup kuat untuk melanjutkan dakwah sosial. Itulah target jangka panjang di Aceh.

UBN mengamati bahwa kesadaran masyarakat Aceh sebenarnya sangat tinggi, dan infrastruktur Islam di sini pun sangat mewah. Namun, tantangannya terletak pada pemanfaatan infrastruktur tersebut.
“Infrastruktur mewah ini ibarat seorang ibu yang memegang gawai mahal, tetapi tidak tahu memaksimalkannya. Akhirnya hanya menjadi simbolik,” paparnya.
UBN ingin bergerak dalam jangka panjang. Ia sadar bahwa setelah Idul Fitri, perhatian publik seringkali beralih dan isu pemulihan bisa hilang.
Namun, UBN optimistis. “Dari Aceh untuk Aceh, kita bisa mengembangkan ekonomi. Selain pemberdayaan masyarakat, saya kira ini juga bisa menghidupkan kesinambungan dakwah sosial di sini,” harapnya.

Kekhawatiran Terhentinya Bantuan dari Relawan
Tidak dapat dipungkiri, ada kekhawatiran yang melanda masyarakat di Aceh bahwa bantuan yang mereka terima lebih banyak berasal dari para relawan, bukan pemerintah.
Belakangan ini, jumlah relawan yang datang semakin berkurang, sementara bantuan pemerintah dinilai belum signifikan dan arahnya belum jelas. Masyarakat mulai khawatir akan nasib mereka ke depan.
Menghadapi kondisi ini, peran tim relawan UBN tetap teguh pada prinsip: “Dari Aceh untuk Aceh”. Pendekatan yang digunakan pun mendalam dan berbasis nilai-nilai keimanan. UBN mengutip konsep Al-Qur’an, Surah Al-Maidah ayat 20–26 yang ingin ia terapkan di Aceh.
Langkah pertama adalah membangkitkan rasa syukur dan harga diri dalam jiwa masyarakat.
“Aceh bukan keturunan orang miskin dan bukan keturunan orang lemah. Aceh adalah keturunan sultan yang kuat, yang pernah memiliki imperium,” ujarnya penuh keyakinan. [imperium adalah kekaisaran atau wilayah kekuasaan yang luas].
“Aceh memiliki itu semua. Infrastruktur tersedia. Hingga hari ini, inilah negeri yang tidak pernah terjajah. Negeri yang menyelamatkan Indonesia. Kakak tertua Islam di Indonesia. Jadilah seperti yang telah Allah tetapkan,” serunya.
Tantangan terbesar yang ia lihat selanjutnya adalah mentalitas. Aceh harus bangkit dengan mentalitas pemimpin, bukan mentalitas yang pasrah pada keadaan.
UBN menutup perbincangan ini dengan menyebutkan satu hal yang pasti: semangat untuk membangkitkan kembali Aceh, negeri yang pernah menyelamatkan Indonesia, adalah misi yang tidak akan surut, terutama di bulan rahmat ini. (*)



