Kamis, Februari 12, 2026
spot_img
BerandaAcehBesok, RSJ Aceh Tayang Perdana Film NOEH, Kisah Pasien ODGJ Dipasung

Besok, RSJ Aceh Tayang Perdana Film NOEH, Kisah Pasien ODGJ Dipasung

Banda Aceh (Waspada) – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota Banda Aceh dan kawasan sekitarnya, sebuah harapan akan menyinari malam Jumat, 13 Februari 2026. Pukul 20.30 WIB, halaman Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh akan menjadi panggung bagi tayangan perdana film berjudul NOEH.

Film ini sebuah karya yang tidak sekadar menghibur, melainkan menusuk kedalaman masalah yang telah lama tersembunyi di sudut-sudut masyarakat kita.

“Kita akan tayangkan perdana film NOEH besok malam, pukul 20.30 WIB. Acara ini gratis dan terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat,” ujar Direktur RSJ Aceh, Dr. Hanif, pada konferensi pers peluncuran film tersebut di ruang rapat RSJ Aceh pada Kamis (12/2/2026).

Acara yang dihadiri oleh awak media, baik cetak, daring, maupun elektronik, menjadi awal dari sebuah perjalanan untuk membuka mata publik terhadap realitas yang pahit.

Di bawah arahan sutradara Devi Abdullah, M.Sn, dan dengan peran utama yang dibawakan oleh Jamal Sanif sebagai “Ishak”, NOEH membawa ke layar lebar wajah-wajah yang jarang diperhatikan.

Tak hanya pemain profesional, film ini juga menghadirkan beberapa orang yang pernah mengalami gangguan jiwa dan kini telah pulih, menyisipkan nuansa keaslian yang membuat setiap adegan semakin menusuk hati.

Saat cuplikan film yang memperlihatkan praktik pemasungan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dengan rantai, suasana menjadi begitu sunyi. Air mata mengalir lepas dari pipi puluhan wartawan yang hadir, sebuah bukti bahwa NOEH bukan sekadar gambar bergerak, melainkan cermin dari penderitaan yang telah lama diterima oleh mereka yang tak berdaya.

Dr. Hanif mengungkapkan bahwa dari 23 kabupaten dan kota di Aceh, kini telah ada 10 wilayah yang berhasil bebas dari praktik pemasungan. Namun, perjuangan masih panjang, karena masih terdapat 13 kabupaten dan kota dengan total 63 orang ODGJ yang masih terkurung dalam jeruji kayu atau rantai yang dingin.

“RSJ Aceh saat ini menampung sebanyak 441 orang ODGJ, padahal kapasitas yang ada hanya sedikit lebih dari 300 orang,” jelasnya.

“Menghadapi kasus ODGJ bukanlah hal yang mudah,” ujar Dr. Hanif.

“Bayangkan saja, membawa satu orang yang dalam kondisi tidak stabil sudah cukup berat. Ada yang pernah melakukan kekerasan terhadap orang lain, bahkan terhadap keluarga sendiri. Banyak keluarga yang tak berani menerima mereka kembali, takut akan kerusuhan dan masalah lainnya. Ini membutuhkan keahlian khusus untuk menangani mereka dengan benar.”

Harapannya sederhana namun mulia: tidak ada lagi praktik pemasungan di tanah Aceh. “Rata-rata mereka yang dipasung adalah orang yang sakit dan menderita luar biasa,” jelas Dr. Hanif.

“Mereka terkurung dalam kayu yang kita sebut noeh, atau rantai yang mengikat gerakan mereka. Ketika kami melepaskan pasungan, seringkali kaki mereka sudah menyusut karena tak pernah bergerak. Ada yang telah dipasung bertahun-tahun oleh anaknya sendiri, atau oleh yang merawat orang tua mereka. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang yang tidak mampu secara ekonomi.”

Menurutnya, penyebab gangguan jiwa sangat kompleks. Meskipun pembebasan pasungan adalah tugas pemerintah, RSJ Aceh siap berdampingan dan memberikan dukungan.

“Kami menyadari bahwa kapasitas dan fasilitas di beberapa kabupaten dan kota masih belum memadai, maka kami akan terus berkoordinasi dengan para wali kota dan bupati untuk menyelesaikan masalah ini,” pungkasnya.

Target yang ditetapkan adalah jelas: pada akhir tahun 2026, Aceh harus benar-benar bebas dari praktik pemasungan. Hal ini tidak hanya untuk menciptakan ketentraman masyarakat, tetapi juga untuk memberikan kedamaian bagi keluarga dan anak-anak yang pernah merasa takut dan gelisah melihat kondisi mereka yang terkurung.

Dr. Hanif juga menambahkan bahwa seluruh pasien ODGJ yang dirawat di RSJ Aceh mendapatkan dukungan penuh secara finansial, mulai dari kebutuhan pakaian, kebersihan, hingga makanan tiga kali sehari dengan menu yang beragam, serta camilan pada malam hari.

Bersama Dr. Hanif dalam konferensi pers tersebut adalah Wakil Direktur Administrasi dan Umum Muhammad Syafii, SKM, MKM; Wakil Direktur Pelayanan drg. Sarifah Yessi Hediyati, M.Kes; Kepala Bagian Tata Usaha Ichwanul Fitri Nst, SAg, M.Kes; Kepala Subbagian Humas Lelawati; serta sutradara Devi Abdullah dan aktor Jamal Sanif.

Semua bersatu dalam satu tujuan: membawa perubahan bagi mereka yang telah terlupakan oleh dunia. (t.mansursyah)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER