Bireuen (Waspada Aceh) – Jembatan Kuta Blang yang menghubungkan lintasan jalan nasional Banda Aceh–Medan masih terputus pascabencana. Warga pun terpaksa memanfaatkan Sungai Peusangan sebagai jalur darurat.
Di tepian sungai, perahu bermesin merapat perlahan. Karung logistik, dus kebutuhan pokok, dan tabung gas LPG berpindah tangan dari perahu ke darat.
Air sungai mulai surut, lumpur menumpuk di dasar, beberapa kali membuat perahu tersangkut. Namun, aktivitas penyeberangan tetap berlangsung.
BERITA TERKAIT:
Aktivitas Ekonomi Warga ke Dataran Tinggi Gayo Berangsur Pulih Setelah Jembatan Teupin Mane Kembali Terhubung
Pantauan Waspadsaceh.com, Kamis (18/12/2025), cuaca mendung dengan rintik hujan menyelimuti jembatan rangka baja yang masih dalam tahap penyambungan jembatan bailey. Kendaraan berhenti di kedua sisi jembatan, penumpangnya turun dan berjalan menuju sungai untuk menyeberang.
Tim dari Polairud Polres Bireuen berjibaku sejak hari ke-4 pasca bencana yang melanda pada 26 November lalu. Mereka membantu warga menyeberang sekaligus mengawal distribusi logistik.
Begitu juga tim dari BNPB, yang memantau arus bantuan dan memastikan suplai kebutuhan pokok tersalurkan ke wilayah terdampak Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.
“Sejak hari keempat pascabencana terjadi kami berjibaku, di penyeberangan ini kami membantu logistik, relawan, sampai pengantaran orang sakit dan jenazah bila dibutuhkan,” kata Hasanuddin, AIPDA Polairud Polres Bireuen saat ditemui di lokasi.
Penyeberangan beroperasi setiap hari sejak pukul 08.00 hingga 18.00 WIB, dengan frekuensi bolak-balik sekitar 10 hingga 12 kali, menyesuaikan jumlah logistik dan kebutuhan warga.
“Bantuan yang diangkut berasal dari BNPB, masyarakat, relawan dari berbagai lembaga mahasiswa, hingga sekolah-sekolah,” jelasnya.
Sebanyak 18 personel gabungan dikerahkan untuk mendukung jalur darurat ini, terdiri dari personel Polairud Polres Bireuen, Polairud Lhokseumawe, dan Polda Aceh.
BERITA LAINNYA:
Kagama Salurkan Bantuan Tahap III untuk Korban Banjir di Langsa, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang
Sementara itu, Rahmat, warga yang tampak di sisi sungai bersiap menyeberang sambil membawa 50 tabung gas LPG, berharap jembatan segera pulih.
“Dengan terputusnya jembatan, mobilitas terganggu dan harga kebutuhan pokok naik. Sekali menyeberang Rp10.000, bolak-balik Rp20.000. Semoga pemerintah segera menyelesaikan perbaikan,” ujarnya.
Sudah 22 hari pasca bencana sejak 26–27 November lalu, jembatan Kuta Blang diterjang banjir bandang. Pemerintah terus berjibaku untuk mempercepat perbaikan, membangun jembatan darurat agar akses vital bagi warga dan distribusi logistik kembali pulih.
Kementerian PUPR bersama BPJN Aceh, dibantu personel TNI AD dari Zipur dan Zidam Kodam Iskandar Muda, tengah menyelesaikan pembangunan jembatan bailey sepanjang 50 meter. Jembatan modular itu dirancang dapat dilintasi kendaraan bermuatan hingga 40 ton, dan dipasang cepat untuk menghadapi situasi darurat.
Hingga jembatan kembali tersambung, Sungai Peusangan tetap menjadi jalur hidup. Warga, aparat, dan bantuan berjibaku di jalur darurat ini, membawa harapan agar aktivitas kembali normal. (*)



