BerandaOlahraga"Bapak Baju Hitam" dan Piala Dunia di TVRI

“Bapak Baju Hitam” dan Piala Dunia di TVRI

Ia berbicara tentang Piala Dunia, tentang kenangan manis di depan layar kaca, tentang bagaimana TVRI dulu menjadi satu-satunya jendela dunia bagi mereka.

Minggu pagi, 5 April 2026. Langit di sekitar Kuala Namu, Deliserdang, Sumatera Utara, terbentang dengan lembut. Suasana ini seolah menyisakan ruang lebih bagi kami untuk menarik napas panjang, melepas penat yang biasa hinggap di bahu.

Kaki-kaki tua ini melangkah menuju Sumut Sport Center—bangunan megah yang selama ini hanya sekilas terlihat dari balik kaca mobil saat melintas menuju bandara. Kini gedung itu berdiri gagah dan nyata di hadapan mata.

Langkah kami mungkin tidak lagi secepat masa muda, napas pun kadang tersengal di sela-sela tawa. Namun bagi kami, olahraga bukan sekadar upaya menjaga tubuh tetap bugar, melainkan cara merawat ikatan yang telah terjalin puluhan tahun lamanya. Kebersamaan itulah yang membuat setiap detik terasa berharga.

Namun, pagi itu terasa berbeda. Di sudut lapangan, keriuhan mulai terdengar. Deretan kamera, kabel-kabel yang melintang, dan suara instruksi yang bersahutan menandakan sebuah siaran langsung sedang dipersiapkan.

Itu kru TVRI. Suami saya, Zulfadhli, menghentikan langkahnya sejenak. Matanya berbinar, sama berbinarnya seperti anak kecil yang menemukan kembali mainan kesayangan yang telah lama hilang.

“Senang sekali ya… TVRI jadi Official Broadcaster Piala Dunia 2026,” bisiknya pelan.

Nada suaranya berubah drastis. Bukan lagi suara seorang lelaki dewasa yang penuh tanggung jawab, melainkan bagai suara bocah SD yang tengah menceritakan kisah cinta pertamanya.

“Dulu… tahun 1986. Dari situlah semuanya dimulai. Maradona, Zico, Platini, Enzo Scifo… TVRI lah yang memperkenalkan keajaiban itu kepadaku,” kenangnya dengan nada rindu yang mendalam.

Saya hanya tersenyum, sudah hafal di luar kepala setiap bait cerita itu. Namun kemudian ia menoleh, dengan senyum jahil yang tak pernah berubah sejak kami muda: “Tapi cinta terbesar tetap kamu, sayang.”

Saya memutar bola mata, berpura-pura kesal, namun hati ini berbunga-bunga bagai ditaburi serbuk mawar. Kami memilih berdiri di pinggir, cukup menjadi penonton dan menikmati suasana.

“Kalau nanti dipanggil wawancara, boleh juga tuh…” candanya. Saya tertawa, tapi dalam hati saya tahu, jika kesempatan itu datang, ia takkan pernah menyia-nyiakannya.

Setelah lebih dari tiga puluh menit berlalu, kami berbalik arah menuju tempat parkir. Namun suasana di sana berubah menjadi tegang. Wajah-wajah kru TVRI tampak gelisah. Seorang reporter terlihat mondar-mandir, jari-jarinya mengetuk layar ponsel dengan cepat, matanya menyapu sekeliling seolah mencari sesuatu yang nyaris lenyap.

Waktu terus berdetak. Siaran langsung tinggal hitungan menit. Dan entah bagaimana, seolah takdir sedang memainkan peranannya dengan indah, pandangan mereka terpaku pada satu sosok: Seorang pria sederhana berbaju hitam. Itu suami saya, Zulfadhli.

“Pak, boleh minta waktunya sebentar?” Kru TVRI menyapanya.

Segalanya berjalan begitu cepat. Mikrofon disodorkan, lampu sorot menyala, dan hitungan mundur dimulai. Saya menahan napas. Ini siaran langsung. Tak ada take kedua, tak ada kesempatan untuk mengulang kata.

Namun di detik itu, saya melihat sosok yang berbeda. Ia berdiri tegak, matanya hidup, dan suaranya terdengar mantap. Ia bukan sekadar sedang diwawancara; ia sedang membawa seluruh pendengar dan penonton kembali berkelana ke masa lalu.

Ia berbicara tentang Piala Dunia, tentang kenangan manis di depan layar kaca, tentang bagaimana TVRI dulu menjadi satu-satunya jendela dunia bagi mereka.

Ia bicara tentang kebahagiaan sederhana yang begitu tulus, hingga pada harapannya yang paling dalam—suatu saat nanti, nama negeri ini juga akan terdengar megah di panggung yang sama.

Dan di akhir kalimat, dengan suara yang tenang namun sarat makna, ia berkata: “Mungkin… kebahagiaan itu, kalau dibagikan, bisa menjadi kebaikan.”

Saya terdiam. Bukan karena ia adalah suami saya, tapi karena untuk pertama kalinya, saya menyadari betapa luas dan dalamnya dunia yang selama ini ia simpan dengan baik di dalam hatinya.

Cerita itu tak berhenti di situ. Reporter bernama Azril itu ternyata nyaris gagal melakukan siaran pagi itu, hingga “Bapak Baju Hitam” hadir di detik-detik terakhir, bagai jawaban dari doa yang dipanjatkan.

Video tentang siaran langsung itu menyebar. Di zaman sekarang, orang menyebutnya viral. Pujian mengalir deras, dan sebutan “Bapak Baju Hitam” menjadi buah bibir di mana-mana.

Lucunya, sang pahlawan moment itu sama sekali tak tahu menahu. Ia tak punya akun media sosial, tak tahu apa itu TikTok, dan tak pernah mengejar popularitas. Dunia maya bukanlah tempatnya bermain.

Namun dunia tetap menemukannya. Lewat kekuatan netizen, lewat tagar sederhana yang menggema: #bapakbajuhitam.

Ketika akhirnya kami terhubung kembali dengan Azril, saya menyadari satu hal yang begitu agung: Kebaikan tidak selalu hadir dalam wujud yang megah atau gemilang. Kadang, ia datang hanya dari langkah kecil, dari kesediaan berhenti sejenak, dan kerelaan berbagi cerita.

Seorang pria berbaju hitam, di pagi yang biasa saja, telah menjadi jawaban bagi seseorang yang hampir kehabisan waktu. Dan mungkin, begitulah cara semesta bekerja—selalu seimbang, selalu indah pada waktunya.

Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 60:
“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (Ny.DV Fadhli)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER