Aceh Tamiang (Waspada Aceh) – Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Aceh mengedepankan pelibatan warga dalam pembangunan hunian sementara (huntara) bagi penyintas banjir bandang di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang.
Ketua Kagama Aceh, M Nasir Syamaun, mengatakan pendekatan berbasis gotong royong dipilih agar warga tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemulihan pascabencana.
“Pembangunan huntara ini kami dorong berbasis swadaya masyarakat. Warga dilibatkan sejak awal, mulai dari pengumpulan material lokal hingga proses pembangunan,” kata Nasir. Minggu (29/3/2026).
Sejak awal hingga akhir Maret 2026, empat unit huntara telah selesai dibangun dan dihuni warga. Dua unit lainnya masih dalam tahap pengerjaan, sementara sekitar 20 unit tambahan direncanakan dibangun secara bertahap.
Nasir mengatakan, pengurus Kagama Aceh juga turun langsung ke lapangan dan berlebaran di lokasi huntara bersama warga pada Sabtu (28/3/2026).
Libatkan Warga, Percepat Pemulihan
Nasir menjelaskan, pelibatan warga menjadi kunci percepatan pembangunan sekaligus pemulihan psikososial penyintas. Dengan terlibat langsung dalam pembangunan, warga memiliki rasa kepemilikan terhadap huntara yang dibangun.
Selain itu, penggunaan material lokal memungkinkan proses pembangunan berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.
“Ini bukan hanya soal membangun tempat tinggal sementara, tapi menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kemandirian warga,” ujarnya.
Program ini merupakan kolaborasi Kagama Aceh dengan Pengurus Pusat Kagama dan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menempatkan Aceh Tamiang sebagai salah satu prioritas penanganan pascabencana.
Desa Sekumur menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah akibat banjir bandang dan longsor pada 26 November 2025. Seluruh permukiman warga dilaporkan nyaris rata dengan tanah.
Selama berbulan-bulan, lebih dari 270 kepala keluarga bertahan di tenda darurat dengan fasilitas terbatas, termasuk saat menjalani Ramadan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah.
Kini, keberadaan huntara mulai mengubah kondisi tersebut. Warga yang sebelumnya tinggal di tenda mulai menempati hunian yang lebih layak, meski masih bersifat sementara.
“Huntara ini bukan sekadar bangunan fisik, tapi jembatan menuju pemulihan
kehidupan warga,” kata Nasir.
Lebaran Sederhana, Harapan Mulai Tumbuh
Perayaan Idul Fitri di Sekumur tahun ini berlangsung sederhana. Warga merayakan Lebaran di tengah keterbatasan, namun dengan kondisi yang mulai membaik.
Sebagian penyintas kini tidak lagi sepenuhnya tinggal di tenda darurat, melainkan di huntara yang dibangun secara gotong royong.
“Lebaran kali ini sederhana, tapi kami sudah punya tempat bernaung yang lebih layak,” ujar salah satu warga.
Meski demikian, kebutuhan huntara di Aceh Tamiang masih sangat besar. Secara keseluruhan, kebutuhan huntara di Aceh mencapai 16.294 unit, dengan ribuan unit masih dalam proses pembangunan.
Dalam konteks ini, inisiatif berbasis komunitas seperti yang dilakukan Kagama dinilai penting untuk mempercepat pemulihan, sekaligus memastikan bantuan lebih tepat sasaran.
Nasir menegaskan, keterlibatan warga akan terus menjadi pendekatan utama dalam pembangunan berikutnya.
“Kalau warga dilibatkan, prosesnya lebih cepat, lebih tepat, dan lebih bermartabat. Ini yang ingin kami jaga,” ujarnya. (*)



