Minggu, Juni 23, 2024
Google search engine
BerandaBank Indonesia: Perekonomian Aceh Diperkirakan Meningkat 4,83 - 5,23%

Bank Indonesia: Perekonomian Aceh Diperkirakan Meningkat 4,83 – 5,23%

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Berbekal kinerja ekonomi di tahun 2019, Bank Indonesia (BI) Aceh memperkirakan, perekonomian Aceh di tahun 2020 akan mengalami peningkatan dengan level kisaran 4,83 – 5,23 persen.

Pertumbuhan ekonomi Aceh selama tahun 2019 diperkirakan tetap positif pada kisaran 3,77 – 4,17 persen. Namun angka tersebut sedikit lebih rendah dibanding capaian pertumbuhan tahun sebelumnya.

Demikian Kepala BI Aceh, Zainal Arifin Lubis, menyampaikan paparannya melalui Kaleidoskop Perekonomian Aceh 2019 dan Outlook 2020, yang dikutip Waspadaaceh.com, Kamis (2/1/2020).

BI Aceh mencatat, dari sisi konsumsi, kenaikan UMP Aceh dari Rp2,9 juta tahun 2019, menjadi Rp3,1 juta pada 2020. Selain itu peningkatan pagu belanja APBA pada tahun 2020 menjadi Rp17,28 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp17,1 triliun, diiringi dengan waktu pengesahan APBA yang cepat, diperkirakan dapat berkontribusi positif bagi perekonomian Aceh.

Kemudian perkiraan kenaikan harga komoditas kopi arabika dan CPO oleh World Bank, menurut Zainal Arifin Lubis, diperkirakan juga akan turut mendongkrak perekonomian Aceh khususnya melalui jalur ekspor.

“Berlanjutnya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Aceh, utamanya Jalan Tol ruas Banda Aceh-Sigli, yang pada tahun 2020 progress pembangunannya ditargetkan di angka 68 persen, ditambah lagi dengan pekerjaan konstruksi oleh pihak swasta seperti pembangunan pusat perbelanjaan dan hotel di beberapa tempat, diperkirakan akan mendongkrak investasi di Aceh,” tulis Kepala BI Aceh tersebut.

Selain itu, kerja sama yang dilakukan, baik oleh pemerintah maupun pelaku usaha Aceh, dengan pihak luar seperti pengusaha dari Malaysia, India dan Timur Tengah, dapat membuka peluang masuknya PMA (Penanaman Modal Asing) di Aceh, lanjut Zainal Arifin Lubis.

Menurut Kepala BI Aceh, bila dilihat dari sisi lapangan usaha pertanian akan tetap menjadi sektor utama penyumbang pertumbuhan ekonomi Aceh. Produktivitas pertanian diharapkan tidak mengalami gangguan berarti seiring dengan kondisi cuaca yang lebih baik. Pada tahun 2020 sebagaimana diperkirakan oleh BMKG, cuaca dalam kondisi yang relatif normal dan kondusif, tidak ada prakiraan adanya fenomena alam seperti La Nina atau El Nino (kemarau panjang) seperti yang terjadi pada tahun 2019.

Berbagai program pengembangan lapangan usaha pertanian oleh Pemerintah Aceh di tahun 2020, menurut catatan BI Aceh, juga diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan pada lapangan usaha sektor ini. Dari lapangan usaha pertambangan, peningkatan target produksi batubara di Aceh yang diikuti dengan membaiknya harga komoditas “emas hitam” tersebut di tahun 2020, diperkirakan juga akan mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi Aceh.

BI Aceh juga memperkirakan, geliat industri pariwisata yang menunjukkan perkembangan positif diiringi dengan keseriusan Pemerintah Daerah untuk mengembangkan pariwisata halal, dapat meningkatkan produktivitas lapangan usaha pendukung pariwisata seperti akomodasi, transportasi, dan perdagangan. Perhelatan berbagai event internasional dan nasional di Aceh juga berpeluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Aceh di tahun 2020.

“Namun demikian, perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 tersebut dapat saja tidak berjalan sesuai dengan yang diperkirakan. Faktor-faktor seperti pelambatan ekonomi global, kebijakan negara maju yang mempengaruhi ekonomi daerah, realisasi APBA yang tidak optimal, kondisi cuaca, bencana alam dapat menjadi penghambat laju pertumbuhan ekonomi Aceh,” kata Zainal Arifin Lubis sebagaimana dikutip dari Kaleidoskop Perekonomian Aceh 2019 dan Outlook 2020.

Rekomendasi BI Aceh

Berdasarkan kondisi ekonomi Aceh tersebut di atas, terdapat beberapa usulan kebijakan dari Bank Indonesia Provinsi Aceh, terkait upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi pada tahun 2020.

Dalam upaya meningkatkan kinerja ekonomi di tahun 2020, realisasi anggaran pemerintah serta ketepatan alokasinya menjadi salah satu kunci utama meningkatkan pertumbuhan. Realisasi anggaran tersebut terutama ditujukan untuk program pengembangan ekonomi yang memiliki efek multiplier besar untuk mendorong pertumbuhan, yaitu pada pembangunan infrastruktur lapangan usaha pertanian dan industri pengolahan.

Komoditas unggulan dan potensial Aceh harus menjadi fokus utama pembiayaan APBA, diantaranya yaitu kopi, padi, rotan, nilam, hasil perikanan, serta komoditas penyumbang inflasi (bawang merah dan cabai merah).

Selain itu, satu sektor jasa yang dapat menjadi quick wins selain komoditas pertanian tersebut adalah peningkatan sektor pariwisata halal (Halal Tourism). Dengan pengembangan 6 komoditas (6 C) tersebut, ditambah lagi sektor pariwisata (1 S) sehingga menjadi 6C + 1S, diharapkan menjadi solusi permasalahan kemiskinan, pengangguran, dan ketidakmandirian ekonomi Aceh.

Bisnis proses di sisi hulu dan hillir yang terintegrasi (Integrated Downstream-Upstream Buisiness/IDUB) menjadi salah satu strategi yang tepat bagi akselerasi ekonomi Aceh.

BI Aceh juga merekomendasikan, pemberdayaan UMKM melalui pengembangan kapasitas seperti pelatihan digital marketing dan digital financing yang terarah dan berkesinambungan, perluasan akses pasar melalui pengiriman karya/produk-produk UMKM ke berbagai pameran domestik dan internasional, bantuan pembiayaan dengan penambahan alokasi anggaran APBA bagi pengembangan UMKM, kemudahan perizinan, serta penyediaan infrastruktur penunjang aktivitas ekonomi UMKM, terutama ketersediaan industri kemasan (packaging).

Setidaknya BI Aceh menyampaikan enam poin rekomendasi dalam upaya mendukung kinerja Pemerintah Aceh untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. (sulaiman achmad)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER