Banda Aceh (Waspada Aceh) – Kabut asap yang menyelimuti Kuala Lumpur, Malaysia, masih cukup mengkhawatirkan pada Senin (19/10/2026).
Kualitas udara yang memburuk berdampak pada aktivitas masyarakat, mulai dari kesehatan, pendidikan hingga pekerjaan.
Seorang warga Aceh, Azzah Shafa Nainggolan, mahasiswi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), mengatakan bahwa berdasarkan data kualitas udara yang dipantaunya, Air Pollution Index (API) di Kuala Lumpur berada pada kisaran 150–170. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
“Salah satu penyebab kabut asap di Malaysia ini adalah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia,” kata Azzah saat menggambarkan kondisi kabut asap di Kuala Lumpur, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, pemerintah Malaysia telah mengimbau masyarakat menggunakan masker N95 saat beraktivitas di luar rumah. Warga juga diminta mengurangi kegiatan di luar ruangan apabila tidak mendesak, terutama anak-anak dan lanjut usia.
Dampak kabut asap, kata Azzah, juga dirasakan di sektor pendidikan. Sejumlah negeri atau wilayah di Malaysia sebelumnya telah menerapkan pembelajaran daring.
Namun, sekolah-sekolah di Kuala Lumpur kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka mulai Senin (19/10/2026).
Meski kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung di sekolah, aktivitas di luar ruangan masih dihentikan sementara untuk mengurangi paparan asap terhadap siswa.
Di sektor pekerjaan, sejumlah perusahaan juga menerapkan atau mempertimbangkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi paparan kabut asap terhadap pekerja.
Azzah mengatakan, pemerintah Malaysia masih memantau perkembangan kualitas udara dan melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak kabut asap, termasuk melalui upaya hujan buatan.
Malaysia Bantah Perusahaan Sawitnya Picu Karhutla
Di tengah upaya penanganan kabut asap tersebut, persoalan sumber kebakaran hutan dan lahan di Indonesia turut menjadi sorotan. Pemerintah Malaysia menegaskan bahwa kebakaran yang menyebabkan kabut asap lintas negara bukan dipicu oleh aktivitas pembakaran di konsesi perusahaan sawit asal Malaysia.
Dikutip dari sejumlah sumber, pihak Malaysia menyebut api yang membakar lahan Genting Plantations di Kalimantan justru merembet dari luar area perkebunan. (*)



