Washington (Waspada Aceh) – Konflik memanas di kawasan Timur Tengah yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran kini hampir memasuki pekan keempat. Pertempuran yang berlangsung intens ini tidak hanya mengubah peta geopolitik, tetapi juga mulai menggoyahkan asumsi lama mengenai dominasi mutlak kekuatan udara di medan perang modern.
Berdasarkan data yang dihimpun, sejak pecahnya konflik pada 28 Februari lalu, militer AS mencatat kerugian yang sangat signifikan. Tercatat sedikitnya 16 unit pesawat, mulai dari jet tempur canggih hingga pesawat nirawak (drone), telah hilang atau rusak berat. Angka ini diklaim melampaui total kehilangan pesawat AS selama kampanye udara berskala besar sebelumnya di Libya maupun Irak.
Selain kerugian di udara, sejumlah aset strategis darat juga menjadi sasaran empuk. Berbagai sistem radar pertahanan canggih milik AS dilaporkan mengalami kerusakan serius, baik akibat serangan langsung dari pasukan Iran maupun insiden operasional. Tingginya angka kerugian ini diduga kuat dipengaruhi oleh intensitas serangan yang jauh lebih masif dibandingkan operasi militer AS di masa lalu.
Salah satu kejadian paling mengejutkan adalah insiden yang menimpa jet tempur F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin. Pesawat yang selama ini diagungkan sebagai “mesin perang tak terlihat” atau siluman ternyata tidak kebal terhadap serangan musuh.
Pada 19 Maret lalu, sebuah F-35 milik Angkatan Udara AS (USAF) terpaksa melakukan pendaratan darurat di sebuah pangkalan udara di Timur Tengah setelah terkena tembakan. Juru Bicara Komando Pusat AS (Centcom), Kapten Tim Hawkins, membenarkan insiden tersebut.
“Pesawat itu sedang menjalankan misi tempur di atas Iran ketika terpaksa melakukan pendaratan darurat. Pesawat mendarat dengan selamat, dan pilot dalam kondisi stabil,” ujar Hawkins. Ia menambahkan bahwa insiden ini sedang dalam penyelidikan mendalam.
Laporan dari media internasional menyebutkan kemungkinan besar pesawat tersebut terkena rudal permukaan-ke-udara tipe 358 buatan Iran yang menggunakan pemandu inframerah. Keunggulan sistem rudal ini terletak pada cara kerjanya yang tidak memancarkan gelombang radar, sehingga pilot tidak mendapatkan peringatan dini saat pesawat mereka sedang dilacak dan diserang.
Kerugian tidak hanya dialami oleh unit tempur, tetapi juga pesawat pendukung. Pada 12 Maret, sebuah pesawat pengisi bahan bakar udara KC-135 Stratotanker jatuh di wilayah Irak Barat dan mengakibatkan enam awak pesawat meninggal dunia. Meskipun penyebab pastinya masih diselidiki, terdapat dugaan kuat terjadinya tabrakan di udara mengingat insiden pendaratan darurat yang dialami oleh pesawat KC-135 lainnya di Tel Aviv pada hari yang sama.
Keesokan harinya, 13 Maret, serangan rudal Iran menghantam Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi. Akibat serangan tersebut, lima unit pesawat Stratotanker lainnya dilaporkan rusak parah saat sedang parkir di darat.
Kisah pilu juga menimpa skuadron F-15 Eagle. Dalam insiden yang sangat disayangkan pada malam 1 Maret, tiga jet tempur F-15 jatuh di langit Kuwait bukan karena serangan musuh, melainkan akibat friendly fire atau salah tembak.
“Pesawat-pesawat Eagle jatuh di atas Kuwait karena insiden salah tembak yang nyata,” tulis pernyataan resmi Centcom.
Di tengah kekacauan pertempuran yang melibatkan serangan pesawat, rudal balistik, dan drone Iran, jet tempur USAF tersebut secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara negara Kuwait.
Di sektor pesawat tanpa awak, AS kehilangan sekitar 12 unit drone MQ-9 Reaper. Drone yang memiliki harga mencapai 16 juta Dollar AS, per unit ini hancur baik saat mengudara maupun saat berada di pangkalan akibat serangan musuh.
Kerugian AS semakin terasa berat dengan rusaknya sistem radar darat yang merupakan mata dan telinga pertahanan rudal mereka. Radar jarak jauh AN/FPS-132 yang nilainya mencapai 1,1 miliar Dollar AS yang terletak di Qatar mengalami kerusakan struktur utama akibat serangan.
Nasib serupa menimpa radar jenis sama yang menjadi sensor utama sistem pertahanan rudal THAAD di Yordania yang dilaporkan hancur total. Kerusakan parah juga dilaporkan terjadi pada instalasi radar THAAD yang ditempatkan di Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi.
Runtuhnya sistem pertahanan canggih ini menandakan bahwa medan perang di Iran telah memberikan pelajaran mahal bagi militer AS, membuktikan bahwa teknologi super canggih sekalipun tetap memiliki celah dan kerentanan di tengah intensitas pertempuran yang tinggi. (*)



