Aceh Tamiang (Waspada Aceh) – Banjir yang melanda Aceh sejak akhir November 2025 masih menyisakan persoalan kemanusiaan. Ribuan warga, terutama kelompok rentan seperti perempuan, anak, lansia, dan disabilitas, masih bertahan di pengungsian dan membutuhkan bantuan.
Di tengah berkurangnya relawan, Flower Aceh bersama Lifeguards Aceh tetap menjalankan operasi kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak, seperti Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Utara, Pidie, dan Pidie Jaya.
Keduanya mengoperasikan dapur umum, menyalurkan logistik, membuka layanan pengaduan kekerasan berbasis gender, serta mendistribusikan bantuan khusus perempuan dan anak. Di Aceh Tamiang, bantuan didukung Penabulu-Oxfam, WLHL, dan Lokadaya, berupa sembako, hygiene kit, shelter kit, hingga perlengkapan dapur.
Aksi ini dimulai sejak 28 November 2025 dengan dapur umum yang dibiayai dana pribadi relawan. Kini, dukungan datang dari berbagai daerah hingga luar negeri. Ratusan nasi bungkus diproduksi setiap hari dan disalurkan ke sejumlah titik pengungsian.
Memasuki Februari 2026, distribusi diperluas. Pendataan dilakukan melalui rapid assessment dan rapid gender assessment. Total penerima manfaat telah mencapai lebih dari 2.950 kepala keluarga.
Ketua Posko Relawan, Agus Milanda, mengatakan bantuan masih berlanjut. “Pertengahan April 2026, kami akan kembali menyalurkan 2.557 paket sembako,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Ia menegaskan, kebutuhan warga masih tinggi. “Banyak yang kehilangan mata pencaharian dan rumah rusak. Kami akan terus membantu,” katanya.
Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung, termasuk Penabulu-Oxfam, WLHL, Lokadaya, serta para donatur dari dalam dan luar negeri.
“Tanpa dukungan semua pihak, mustahil kami bisa bertahan selama ini. Ini bukti solidaritas dan persaudaraan tidak mengenal batas wilayah,” ujarnya.
Sementara itu, Lifeguard Aceh yang diketuai oleh T. Ayatullah Bani Baeit, bergerak di bidang penyelamatan dan bantuan bencana. Lifeguard Aceh memiliki pengalaman panjang dalam penanganan darurat, mulai dari evakuasi korban, pendirian dapur umum, hingga distribusi logistik ke daerah-daerah terpencil. Keduanya berkolaborasi erat dengan dukungan Penabulu dan Oxfam
Bencana memang tak bisa dihindari, tetapi kehadiran para relawan yang ikhlas dan gigih seperti Flower Aceh dan Lifeguard Aceh menjadi oase di tengah kepedihan. Di saat banyak pihak mulai menarik diri, mereka justru memilih untuk bertahan dan terus berbagi. Semoga semangat ini menginspirasi lebih banyak orang untuk peduli terhadap sesama.

Flower Aceh adalah organisasi masyarakat sipil yang fokus pada perlindungan perempuan, anak, dan kelompok rentan, termasuk pemenuhan kebutuhan spesifik dan pencegahan kekerasan berbasis gender saat bencana.
Sementara Lifeguards Aceh bergerak dalam evakuasi, dapur umum, dan distribusi logistik. Kolaborasi keduanya menegaskan pentingnya solidaritas dalam membantu penyintas bangkit. (*)



