Minggu, Februari 22, 2026
spot_img
BerandaAcehMenanti Peta Jalan Baru Ekonomi Aceh Lewat Sensus Ekonomi 2026

Menanti Peta Jalan Baru Ekonomi Aceh Lewat Sensus Ekonomi 2026

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Lebih dari satu juta tenaga kerja di Aceh menggantungkan hidup pada sektor usaha nonpertanian. Pada 2016, tercatat 1.172.055 orang bekerja di sektor ini, dan sebagian besar berada di usaha mikro dan kecil.

Data Sensus Ekonomi 2016 yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik menunjukkan, dari 426.881 usaha nonpertanian di Aceh, sebanyak 422.469 merupakan usaha mikro dan kecil (UMK), sementara 4.412 usaha tergolong usaha menengah dan besar (UMB).

Tak hanya dominan dalam jumlah unit usaha, sektor UMK juga menyerap 1.061.217 tenaga kerja, sedangkan UMB menyerap 110.838 tenaga kerja.
Artinya, denyut ekonomi Aceh sangat bertumpu pada usaha skala mikro baik dari sisi jumlah usaha maupun lapangan kerja.

Sepuluh tahun telah berlalu sejak pendataan tersebut dilakukan. Dalam rentang waktu itu, dunia usaha mengalami berbagai perubahan: digitalisasi berkembang, pola konsumsi bergeser, dan tantangan ekonomi semakin kompleks. Di sinilah pentingnya Sensus Ekonomi 2026.

Memperbarui Peta Dunia Usaha

Dalam konteks itulah Sensus Ekonomi 2026 digelar untuk memperbarui seluruh data usaha nonpertanian, termasuk di Aceh.

Sensus kali ini tidak hanya mencatat jumlah usaha dan tenaga kerja, tetapi juga menggali informasi mengenai karakteristik usaha, kendala operasional, akses pembiayaan, hingga tingkat pemanfaatan teknologi digital.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh, Agus Andria, menegaskan bahwa pembaruan data menjadi fondasi penting dalam penyusunan kebijakan ekonomi.

“Sensus Ekonomi 2026 akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi dunia usaha di Aceh. Data ini menjadi dasar dalam merancang program yang lebih tepat sasaran,” ujarnya.

Ia juga memastikan pelaku usaha tidak perlu merasa khawatir dalam memberikan informasi.

“Informasi yang dikumpulkan bersifat statistik dan dijamin kerahasiaannya. Tidak digunakan untuk kepentingan perpajakan,” kata Agus.

Penegasan tersebut menjadi bagian penting dari upaya sosialisasi, agar pelaku usaha berpartisipasi secara aktif dan terbuka.

Dari Data ke Arah Kebijakan

Akademisi Universitas Syiah Kuala, Prof. Mukhlis Yunus, menilai pembaruan data ini krusial mengingat UMK bukan hanya dominan dalam jumlah, tetapi juga menjadi penopang utama lapangan kerja di Aceh.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi daerah. Dengan data yang akurat, potensi usaha dapat dipetakan dan program penguatan bisa dirancang lebih terarah,” ujarnya kepada Waspadaaceh.com, Sabtu (21/2/2026).

Menurutnya, hasil sensus dapat membantu memetakan kebutuhan pembiayaan, peningkatan kapasitas, hingga strategi digitalisasi usaha agar lebih berdaya saing

Momentum Sepuluh Tahunan

Data 2016 menunjukkan lebih dari satu juta tenaga kerja Aceh bergantung pada usaha nonpertanian, terutama skala mikro dan kecil. Sepuluh tahun kemudian, Sensus Ekonomi 2026 menjadi momentum untuk melihat bagaimana struktur tersebut berkembang.

Apakah penyerapan tenaga kerja meningkat? Apakah usaha mikro semakin kuat dan naik kelas? Apakah digitalisasi membuka peluang pasar yang lebih luas?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan sangat bergantung pada kualitas data yang dihimpun.
Karena itu, partisipasi aktif pelaku usaha dalam Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar kewajiban administratif.

Ia menjadi langkah penting untuk memastikan peta jalan pembangunan ekonomi Aceh benar-benar berpijak pada data yang akurat dan mutakhir.

Harapan Pelaku Usaha

Di Jalan Lam Ujong, Meunasah Baet, Aceh Besar, Irwan—yang akrab disapa Cekwan telah lebih dari 10 tahun berjualan Mie Aceh. Dari usahanya, ia menghidupi keluarga dan mempekerjakan beberapa karyawan. Baginya, Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar pendataan rutin.

“Kalau memang data ini bisa jadi dasar supaya pelatihan, akses modal, atau dukungan usaha lebih tepat, tentu kami mendukung,” ujarnya.

Ia juga mengaku tidak khawatir dengan pendataan tersebut.

“Selama ini kalau didata tidak ada masalah. Yang penting data itu benar-benar dipakai untuk membantu pelaku usaha kecil,” kata Cekwan.

Bagi pelaku usaha seperti dirinya, pembaruan data bukan hanya soal angka, tetapi tentang arah kebijakan yang lebih jelas. Dengan lebih dari satu juta tenaga kerja bergantung pada sektor usaha nonpertanian, partisipasi aktif dalam Sensus Ekonomi 2026 menjadi langkah penting agar pembangunan ekonomi Aceh benar-benar berpijak pada data yang akurat dan mutakhir. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER