“Dari uap belerang di kaki gunung, Sabang menyalakan kembali mesin wisata nonbaharinya”
Uap tipis mengepul dari permukaan kolam di kaki Gunung Api Jaboi, menyambut siapa pun yang datang pagi itu. Aroma belerang samar tercium, menyatu dengan hawa pegunungan yang lembap.
Di sudut kolam, beberapa pengunjung merendam kaki, sebagian lain berendam hingga bahu, membiarkan air panas alami mengurai lelah setelah menyeberang dari daratan Aceh.
Di tengah lanskap yang pernah nyaris sepi dan terabaikan, Kolam Air Panas Jaboi pelan-pelan bangkit. Pemerintah Kota Sabang dan warga setempat memilih jalan kolaborasi membenahi fasilitas, membersihkan kawasan, dan mempromosikannya sebagai alternatif wisata selain laut.
Hasilnya mulai terlihat akhir pekan kembali ramai, dan Jaboi menemukan napas barunya sebagai ruang relaksasi sekaligus simbol kebangkitan Desa Wisata Jaboi. Lokasi pemandian air panas ini terletak di Desa Gampong Keuneukai Kecamatan
Sukajaya, Kota Sabang
Pemerintah Kota Sabang menggandeng masyarakat Desa Jaboi untuk mengakselerasi kebangkitan Kolam Air Panas Jaboi sebagai destinasi relaksasi andalan di Pulau Weh.

Kawasan yang berada di lereng Gunung Api Jaboi itu kini kembali menggeliat setelah melalui penataan ulang dan perbaikan fasilitas.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, menyatakan pengembangan kolam air panas merupakan bagian dari strategi diversifikasi destinasi.
Selama ini, Sabang identik dengan wisata bahari. Pemerintah kota menilai potensi wisata geotermal dan lanskap alam di Jaboi perlu dipacu agar memperluas pilihan bagi wisatawan.
“Kolam Air Panas Jaboi menjadi opsi wisata selain pantai. Kami ingin wisatawan memiliki alternatif aktivitas saat berada di Sabang. Pembenahan fasilitas terus kami lakukan agar destinasi ini lebih nyaman dan kompetitif,” ujar Harry, Jumat (20/2/2026).
Lokasi pemandian berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota atau kurang lebih 20 menit dari Pelabuhan Balohan. Kawasan ini sempat kurang terkelola, sebelum akhirnya ditata ulang melalui kolaborasi pemerintah kota dan kelompok sadar wisata setempat.

Ketua Pokdarwis Jaboi, Dayat, mengatakan pengelolaan kolam kini dilakukan secara swadaya dengan dukungan teknis dan promosi dari pemerintah daerah. Intensifikasi promosi melalui agenda wisata dan media sosial berdampak pada kenaikan kunjungan, terutama pada akhir pekan.
“Hampir setiap akhir pekan pengunjung cukup ramai. Kami menjaga kebersihan kolam secara rutin agar kualitas pengalaman berendam tetap terjaga,” kata Dayat.
Air panas alami bersumber langsung dari mata air di kawasan Gunung Api Jaboi dan dialirkan melalui sistem perpipaan menuju tiga kolam dengan tingkat suhu berbeda. Tarif masuk relatif terjangkau, yakni Rp5.000 untuk dewasa dan Rp3.000 bagi anak-anak.
Selain pemandian, kawasan ini juga menyediakan jalur trekking (perjalanan panjang dengan berjalan kaki) menuju puncak gunung serta aktivitas luar ruang lainnya. Penguatan pengelolaan tersebut turut mendongkrak citra Desa Wisata Jaboi yang sebelumnya masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024.
Dengan pendekatan berbasis kolaborasi, pemerintah kota menargetkan Jaboi menjadi simpul wisata alam dan geowisata yang memperkuat struktur pariwisata Sabang di luar sektor bahari. (*)



