Banda Aceh (Waspada Aceh) – Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh, Masri Amin, menyatakan tegas bahwa narasi dan gerakan yang mencoba menggoyang serta mencopot M.Nasir dari jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) bukanlah serangan personal semata, melainkan upaya sistematis untuk melemahkan kewibawaan Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem.
Masri Amin menegaskan, setiap gerak di lintasan anggar adalah soal presisi melindungi titik vital. Hal yang sama berlaku bagi posisi Nasir sebagai orang kepercayaan di sisi Mualem yang kini sedang coba dipreteli.
Menurutnya, upaya mengganti Nasir sama saja dengan membiarkan musuh dalam selimut secara terang-terangan melilitkan tali gantungan ke leher Mualem sendiri.
“Bukan semata soal sosok Nasir, melainkan terkait waspada terhadap calon pengganti yang disiapkan, yang disinyalir hanyalah umpan penjerat untuk melumpuhkan kekuasaan Mualem demi ambisi pihak tertentu yang ingin berkuasa di atas kekuasaan,” cetus Masri dikutip dari facebooks pribadinya, Minggu (15/2/2025).
Ia menambahkan, pengganti Nasir dapat dipastikan sebagai “pemain transfer” yang tidak akan memiliki chemistry dan loyalitas yang sama. Sosok titipan tersebut, pada waktunya, hanya akan setia kepada “tuannya” yang asli dan bergerak perlahan menumbangkan Mualem dari kursi kekuasaan.
Mengganti Nasir, menurut Masri, adalah melumat orang kepercayaan Mualem dan merongrong fondasi kepemimpinan yang ada.
Masri juga menyoroti kalimat yang sering terdengar: “Ini kan Mualem tetap kita dukung, tapi Sekda ini tidak becus dan tidak punya kapasitas, perlu diganti!” Ia menilai kalimat tersebut sebagai kemasan halus dari niat sebenarnya untuk menumbangkan Mualem.
“Niat menumbangkan Mualem kok dikemas. Berarti perlu Sekda yang punya ‘isi tas’ serta punya ilmu elektabilitas sebagai perompak kekuasaan,” sindirnya.
Lebih lanjut, Masri menekankan bahwa menjaga formasi birokrasi saat ini adalah bentuk loyalitas mutlak untuk memastikan mandat rakyat tidak dipreteli oleh kepentingan yang ingin “menebas” urat nadi kepemimpinan Aceh dalam periodesasinya.
Mempertahankan orang kepercayaan, menurutnya, adalah cara paling tegas untuk menunjukkan bahwa tongkat komando Mualem tetap tegak, utuh, dan tidak akan membiarkan tangannya dipotong oleh pengkhianatan dari dalam.
“Ingatlah, serangan balik (riposte) yang paling mematikan selalu datang dari mereka yang paling tenang saat diserang,” ucap Masri mengingatkan.
Ia menutup pernyataannya dengan penegasan bahwa isu penggantian Nasir bukanlah hal sepele. “Ini bukan soal Nasir diganti, tapi ini gerakan bersama menjadikan Mualem ‘pesakitan’, bahkan Mualem hilang kekuasaan ‘tuna kuasa’,” tegas Masri Amin lagi. (*)



