Pidie Jaya (Waspada Aceh) – Krisis air bersih dan terancamnya keberlanjutan pendidikan anak masih membayangi warga Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, lebih dari dua bulan pascabanjir bandang.
Kondisi tersebut mendorong Korps Perempuan Majelis Dakwah Islamiyah (KPMDI) Aceh menyalurkan bantuan kemanusiaan perdana ke wilayah terdampak sebagai bagian dari upaya pemulihan kebutuhan dasar masyarakat.
Pasca dilantik, KPMDI Aceh yang dipimpin Dr. Khairan, bersama Ketua Umum KPMDI Dr. Marlinda Irwanti Purnomo dan Sekretaris Dr. Zubaidah, turun langsung ke Desa Meunasah Raya, salah satu kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat banjir bandang.
Di desa tersebut, sebagian besar sumur warga tertimbun tanah dan sedimen sehingga tidak lagi dapat digunakan.
KPMDI bersama Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) menyalurkan bantuan, termasuk mesin penyedot sumur, guna membantu warga mendapatkan kembali akses air bersih yang layak.
“Air bersih menjadi kebutuhan paling mendesak bagi warga. Tanpa air bersih, proses pemulihan akan sangat lambat,” ujar Marlinda saat meninjau lokasi, Selasa (10/2/2016).
Banjir bandang menyebabkan jembatan penghubung jalan nasional terputus, rumah-rumah warga tertimbun material lumpur hingga sekitar 2,5 meter, serta berbagai fasilitas publik lumpuh. Hampir seluruh bangunan di wilayah tersebut tidak lagi dapat difungsikan secara normal.
Selain krisis air bersih, dampak serius juga dirasakan sektor pendidikan. Dayah Mudil Hasanil Al Aziziyah, yang memiliki sekitar 200 santri, terpaksa menghentikan sebagian besar aktivitas pembelajaran.
Sekitar 150 santri nonmukim diliburkan sementara, sedangkan hanya sekitar 50 santri yang masih menetap akibat keterbatasan fasilitas pascabencana.
KPMDI menilai kondisi tersebut sangat krusial karena pendidikan merupakan hak dasar anak yang tidak boleh terputus dalam situasi apa pun.
Menurut Marlinda, kehadiran negara dan seluruh pemangku kepentingan menjadi penting untuk memastikan akses pendidikan yang layak tetap terpenuhi bagi anak-anak terdampak bencana.
Dampak banjir juga merusak lingkungan dan sumber penghidupan warga.
Banyak pohon melinjo, komoditas penting bagi ekonomi masyarakat setempat, mati dan mengering setelah lebih dari dua bulan pascabencana.
Kondisi lingkungan yang gersang menambah beban psikologis warga yang masih berupaya bangkit.
Di sisi lain, sejumlah perempuan mengeluhkan sulitnya mengakses kebutuhan dasar, seperti hunian yang layak dan privat serta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) yang aman. Sebagian warga masih harus menumpang ke rumah tetangga untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Selain itu, kitab pelajaran dan Al Quran milik warga dan pesantren banyak yang rusak dan hanyut terbawa banjir, sehingga menghambat kegiatan belajar dan ibadah.
Bantuan yang disalurkan KPMDI Aceh berasal dari para pengurus KPMDI serta FPPI dari berbagai provinsi di Indonesia.
KPMDI mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan pendidikan, serta pembangunan kembali kebun dan sawah warga.
“Pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh. Langkah awal adalah memenuhi kebutuhan dasar, lalu memulihkan sumber penghidupan agar masyarakat dapat kembali hidup layak,” kata Khairan.
KPMDI berharap kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan para dermawan dapat mempercepat pemulihan Pidie Jaya sehingga warga dapat kembali menjalani kehidupan secara normal. (*)



