Selasa, Februari 10, 2026
spot_img
BerandaAcehDari Banda Aceh ke Bangkok, Pelajaran Penting di Balik Transit Internasional

Dari Banda Aceh ke Bangkok, Pelajaran Penting di Balik Transit Internasional

Untuk perjalanan internasional dengan transit, disarankan menggunakan satu maskapai atau tiket yang saling terhubung.

Perjalanan ke luar negeri tidak selalu berjalan mulus, terutama ketika harus transit dan menggunakan maskapai berbeda.

Pengalaman melakukan perjalanan jurnalistik dari Banda Aceh menuju Bangkok pada 9 Februari 2026 menjadi pelajaran penting tentang perencanaan perjalanan lintas negara.

Ketiadaan penerbangan langsung dari Banda Aceh ke Bangkok membuat rute Banda Aceh–Kuala Lumpur–Bangkok menjadi pilihan yang diambil.

Rute tersebut diperoleh melalui aplikasi pemesanan daring dengan harga paling terjangkau, sekitar Rp1.867.000, meski tiket dibeli menggunakan maskapai berbeda.

Penerbangan pertama menggunakan Super Air Jet untuk rute Banda Aceh–Kuala Lumpur, dilanjutkan AirAsia untuk penerbangan Kuala Lumpur–Bangkok.

Pada awalnya, jadwal perjalanan terlihat aman. Waktu transit sekitar satu hingga dua jam dinilai cukup untuk berpindah penerbangan.

Namun, situasi berubah pada dini hari keberangkatan. Sekitar pukul 02.00 WIB, email dari maskapai pertama masuk. Penerbangan Banda Aceh–Kuala Lumpur mengalami keterlambatan sekitar 1 jam 30 menit.

Suasana Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), Malaysia, Senin (9/2/2026). (Foto/Cut Nauval D)

Kondisi ini membuat peluang mengejar penerbangan lanjutan ke Bangkok menjadi sangat kecil. Maskapai menawarkan opsi pengajuan refund, tetapi proses pengembalian dana diperkirakan memakan waktu satu hingga dua pekan.

Melihat agenda pelatihan jurnalistik media regional bersama International Organization for Migration (IOM) yang telah dijadwalkan berlangsung pada keesokan harinya di Bangkok, pembatalan perjalanan bukanlah pilihan realistis.

Keputusan pun diambil untuk tetap berangkat dan menanggung risiko.
Upaya dilakukan dengan menghubungi maskapai lanjutan.

Namun, jawaban dari petugas maskapai AirAsia, karena tiket dibeli terpisah dan menggunakan maskapai berbeda, penerbangan lanjutan tidak memiliki kewajiban menunggu jika terjadi keterlambatan.

“Karena tiket dibeli terpisah dan beda maskapai, kami tidak bisa menunggu jika terjadi keterlambatan,” ujar petugas AirAsia.

Di sisi lain, petugas maskapai memberikan masukan penting. Untuk perjalanan internasional dengan transit, disarankan menggunakan satu maskapai atau tiket yang saling terhubung. Dengan demikian, jika terjadi keterlambatan, maskapai masih memiliki tanggung jawab untuk menyesuaikan jadwal penerbangan lanjutan.

Jika menggunakan maskapai berbeda, waktu transit sebaiknya dibuat lebih longgar. Bandara internasional memiliki area yang luas, sementara antrean imigrasi kerap sulit diprediksi.

Masukan tersebut terasa nyata setibanya di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Antrean imigrasi panjang dan jarak antarterminal cukup jauh. Bahkan, sempat muncul anggapan bahwa penerbangan lanjutan tidak akan terkejar.

Suasana kedatangan penumpang di Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok, Thailand, Senin (9/2/2026). (Foto/Cut Nauval D).

Di tengah situasi itu, bantuan datang dari sesama penumpang. Seorang pelancong yang pernah ke Bangkok memberi arahan agar menggunakan kereta bandara KLIA Express, berpindah terminal tanpa berhenti, dan langsung menuju gate.

“Naik kereta bandara saja, bayarnya cuma 2 ringgit, tapi harus cashless. Jadi perlu kartu uang elektronik yang bisa dipakai di luar negeri. Langsung ke terminal tujuan, jangan berhenti,” ujarnya sambil menunjuk arah.

Arahan tersebut saya ikuti. Dengan berjalan cepat, berlari di beberapa titik, dan memanfaatkan kereta bandara, perjalanan berlanjut hingga Terminal KLIA 2. Dari sana, perjalanan menuju gate Q3 masih harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit atau hampir satu kilometer.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Penerbangan lanjutan berhasil saya kejar. Akhirnya saya bisa terbang. Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, pesawat mendarat di Bangkok. Rasa lega langsung terasa.

Antrean imigrasi di Bangkok memang kembali panjang, tetapi suasananya berbeda. Petugas dan penumpang tampak tenang. “Welcome to Thailand,” ujar seorang petugas sambil tersenyum setelah memeriksa dokumen perjalanan.

Pengalaman ini menjadi pengingat penting bagi pelancong. Jadwal transit yang terlihat aman di aplikasi belum tentu aman di lapangan. Maskapai berbeda berarti tanggung jawab berbeda, dan keterlambatan kecil bisa berdampak besar.

Bagi mereka yang berencana bepergian ke luar negeri, sebaiknya tidak semata mengejar harga murah atau jadwal singkat. Waktu transit yang lebih longgar dan tiket yang saling terhubung justru bisa menjadi penyelamat perjalanan.

Perjalanan ke Bangkok ini bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi juga tentang memahami risiko dan belajar dari pengalaman di bandara. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER