Banda Aceh (Waspada Aceh) – Perekonomian Aceh mengalami tekanan sepanjang tahun 2025 akibat dampak bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah, sebagaimana disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, Agus Andria, dalam konferensi pers di Banda Aceh, Kamis (5/2/2026).
Agus Andria menjelaskan, ekonomi Aceh pada Triwulan IV 2025 terkontraksi sebesar minus 1,61 persen secara tahunan (year on year).
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Aceh sepanjang tahun 2025 hanya mencapai 2,97 persen, melambat dibandingkan tahun 2024 yang tumbuh 4,66 persen.
“Perlambatan ini tidak terlepas dari dampak bencana hidrometeorologi, termasuk Siklon Tropis Senyar, yang memengaruhi aktivitas ekonomi di berbagai sektor,” kata Agus Andria.
Sektor pertanian menjadi sektor yang paling terdampak. BPS mencatat, produksi padi Aceh turun signifikan dari sekitar 287.977 ton menjadi 189.355 ton, seiring banyaknya lahan pertanian yang terendam banjir.
Selain itu, sektor industri dan manufaktur juga mengalami gangguan akibat kerusakan fasilitas serta keterbatasan operasional mesin.
Tekanan ekonomi diperparah oleh kerusakan infrastruktur. Puluhan ruas jalan dan belasan jembatan terputus, disusul tumbangnya sejumlah tower listrik yang menyebabkan pemadaman dan gangguan jaringan komunikasi.
Kondisi tersebut berdampak pada terhambatnya distribusi barang dan meningkatnya harga kebutuhan pokok di sejumlah wilayah.
Dari sisi sosial, hingga September 2025, tingkat kemiskinan di Aceh tercatat sebesar 12,22 persen. Meski secara persentase sedikit menurun, indeks kedalaman kemiskinan meningkat, menunjukkan jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin melebar.
Agus Andria menambahkan, upaya pemulihan ekonomi mulai dilakukan melalui percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi sejak akhir Desember 2025, terutama pada sektor infrastruktur dasar seperti jalan dan listrik.
Daerah yang tidak terdampak bencana diharapkan dapat menjadi wilayah penyangga untuk mendorong pemulihan ekonomi Aceh secara bertahap. (*)



