“Dua bulan pascabanjir bandang, santri Dayah Ummul Ayman III kembali belajar di ruang kelas tanpa kursi dan kitab. Lumpur masih mengendap, fasilitas belum sepenuhnya pulih”
Pada malam 31 Januari 2026, ruang-ruang kelas di Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, Meunasah Bie, Kec. Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh
kembali terisi. Santriwati duduk bersila di lantai. Tanpa kursi. Tanpa meja. Mereka mengaji dalam posisi lesehan, dua bulan setelah banjir bandang menyapu kawasan itu.
Pantauan Waspadaaceh.com, jejak bencana masih jelas terlihat. Lantai ruang belajar menyisakan noda lumpur yang telah mengering. Di sudut-sudut kelas, kitab-kitab menumpuk dalam kondisi rusak, kertasnya menggelembung, kusut, dan rapuh setelah terendam air dan lumpur. Kitab-kitab itu tak lagi bisa digunakan, namun belum sepenuhnya tersingkir dari ruang belajar.
Di luar bangunan, lumpur kering masih menutupi halaman dan jalur antar-gedung. Sejumlah santri dan warga sekitar terus membersihkan sisa endapan. Tenda BNPB masih berdiri di depan halaman dayah.
Kondisi hunian santri pun serba terbatas. Banyak kasur rusak akibat terendam banjir, membuat santri tidur beralas tikar tipis.
Mushala dayah belum dapat difungsikan karena masih tertimbun lumpur. Untuk sementara, salat berjamaah dialihkan ke ruang kelas yang sudah dibersihkan.
Cut Marzatun (17) santriwati, mengatakan kegiatan belajar mengajar baru kembali berjalan sekitar dua minggu terakhir. Saat banjir bandang menerjang kawasan tersebut pada akhir November lalu, ia bersama santri lainnya sempat berlindung di lantai tiga gedung STIS Ummul Ayman III.
“Air naik cepat. Di area Ummul Ayman, tingginya lebih dari satu meter. Semua ruang kelas terendam,” katanya.

Menurut dia, tidak ada barang yang sempat diselamatkan. Pakaian, buku, dan kitab-kitab belajar rusak terendam lumpur. Selama tiga hari terjebak dalam kepungan banjir, ia hanya bisa bertahan hingga akhirnya dievakuasi.
Kembali belajar di tengah kondisi pascabencana bukan perkara mudah. Fasilitas dasar nyaris tidak tersedia. Buku dan kitab belum dimiliki, kursi tidak ada, dan ruang belajar terbatas.
“Sampai sekarang meski ada beberapa santri yang tidak punya kitab. Tapi belajar tetap jalan,” katanya.
Cut Marzatun merupakan siswi kelas II SMK Ummul Ayman jurusan Tata Busana. Dampak banjir juga menghantam fasilitas praktik kejuruan. Laboratorium, mesin jahit, serta bahan kain rusak akibat terendam air dan lumpur.
“Alat-alat praktik semuanya terdampak. Itu yang paling menghambat kami untuk belajar,” ujarnya.
Dayah Masih Butuh Bantuan
Pimpinan Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, Tgk Muhammad Al-Mustafa, mengatakan seluruh area dayah terdampak banjir bandang dengan ketinggian lumpur bervariasi antara satu hingga dua meter.
“Semua ruangan, baik tempat belajar, asrama santri, maupun halaman dayah terendam lumpur,” ujarnya saat diwawancarai waspadaaceh.com secara terpisah pada Rabu (5/2/2026).

Jumlah santri dan guru pengajar di dayah tersebut mencapai 470 orang. Menurut Tgk Muhammad Al-Mustafa, berbagai bantuan telah diterima, mulai dari bantuan pembersihkan lingkungan denganalat berat, sembako, hingga pakaian untuk santri. Akses air bersih sebagian besar juga sudah tersedia.
“Alhamdulillah, kondisi dayah mulai membaik. Tapi masih ada beberapa area yang perlu dibersihkan,” katanya.
Secara umum, kondisi kesehatan santri dan tenaga pengajar masih tergolong aman. Namun, ia mengkhawatirkan potensi risiko kesehatan seiring masuknya musim kemarau.
“Kami khawatir debu dari lumpur kering bisa berdampak pada kesehatan. Secara psikologis, trauma akibat bencana mulai pulih, tapi banyak santri tertekan oleh kondisi ekonomi keluarga yang ikut terdampak,” ujarnya.
Aktivitas belajar mengajar, kata dia, sudah kembali berjalan meski belum sepenuhnya normal. Beberapa ruang belajar masih belum dapat digunakan.
Mushalla pun sementara dialihkan ke ruang lain karena bangunan utama belum bisa difungsikan.
Ia menyebut dayah masih membutuhkan berbagai bantuan penunjang, terutama kitab dan perlengkapan belajar santri, pakaian ibadah seperti mukena, serta alas tidur berupa kasur, selimut, dan bantal.
“Kami juga berharap ada penambahan alat berat agar pembersihan lumpur bisa lebih cepat, sehingga aktivitas belajar dan ibadah dapat kembali normal,” tuturnya.
Keterbatasan tidak menghentikan santri untuk belajar. Dayah kembali beraktivitas, meski fasilitas belum sepenuhnya tersedia. Fasilitas penunjang masih dibutuhkan agar ruang belajar dan ibadah dapat kembali berfungsi, sehingga proses belajar-mengajar berlangsung aman dan nyaman. (*)



