Ia menggambarkan penderitaan saudara-saudaranya di pengungsian, kampung yang hancur lebur, terseret banjir, dan terendam lumpur tanpa menyisakan apa pun.
Semua sudah capek; organisasi independen sudah capek, pemerintahnya juga sudah capek. Yang terjadi sekarang, orang bukan cuek—namun energinya sudah habis terurai.
Begitu ungkapan Andi Gultom, seorang seniman fotografi ketika ditanya mengapa banyak orang sudah tidak lagi membicarakan Banjir Aceh dan Sumut.
“Memang energi kita sudah sangat terkuras, mulai dari November sampai Desember kemarin begitu,” jelas Andi di Medan, Sabtu (31/1/2026).
Dokumenter foto ini memamerkan hasil karyanya tentang banjir di Sumatera Utara dan Aceh yang terjadi akhir tahun lalu.
Begitu pun, batin dan pikiran Andi tetap bersanding dengan para korban banjir. Ia menghadirkan pameran ini untuk menguatkan kembali semangat seluruh pihak, agar tidak berpaling dari mereka yang masih terpuruk dalam derita.
“Hingga hari ini, mereka masih berlindung di bawah tenda plastik, atau dari potongan seng dan kayu—hanya untuk menghindari panas dan hujan berlumpur tebal,” jelas Andi dengan nada yang tercekik di tenggorokan. Matanya berkaca-kaca.
Keprihatinan mendalam Andi terpancar dalam setiap karya fotonya, yang diabadikan ketika ia mengirimkan bantuan ke Aceh pada tanggal 3 dan 10 Desember 2025.
“Saya tidak berniat memotret,” katanya, “namun fakta ini harus disuarakan.”
Pameran foto ini berlangsung mulai tanggal 31 Januari hingga 14 Februari 2026, di Ruang Gallery Lantai 2, Roha Cafe, Jalan Abdullah Lubis Nomor 79/101 Medan. Bukan hanya pameran, rangkaian acara ini juga menghadirkan sejumlah diskusi dengan narasumber beragam.
Pada pembukaan pameran Sabtu, 31 Januari kemarin, dua sesi diskusi menyapa pengunjung sebagai seri pertama dari empat rangkaian dengan judul: Aku Melihat (Menyaksikan Bencana Dengan Jujur dan Empatik). Tema sesi pertama, Ketika Air Datang: Membaca Kebenaran Dari Dalam Frame, mengungkapkan fakta bahwa Andi sendiri merasakan trauma mendalam atas apa yang dilihatnya di lokasi bencana.
Peserta diskusi pun merasakan kepiluan yang sama, ketika ia menggambarkan penderitaan saudara-saudaranya di pengungsian, kampung yang hancur lebur, terseret banjir, dan terendam lumpur tanpa menyisakan apa pun. Sesi kedua kemudian mengangkat tema Melihat Manusia, Bukan Angka.
Seri diskusi kedua berlangsung pada tanggal 1 Februari 2026 di tempat yang sama, dengan tema: Aku Memahami (Pendekatan Teknis & Akademis untuk Memahami Bencana).
Dua sesi diskusi diadakan: yang pertama pada pukul 14.30 hingga 16.00 membahas Mengapa Bandang Terjadi: Alam dan Lanskap, kemudian dilanjutkan dengan Risiko Yang Kita Hidupi: Ruang Tinggal, Kerentanan Sosial dan Dampak Ekonomi.
Seri ketiga, pada tanggal 7 Februari 2026, mengangkat tema: Aku Merawat (Memulihkan Manusia dan Komunitas Pascabencana) dengan sesi tunggal yang membahas Luka Yang Tidak Terlihat, Trauma Pasca Banjir Bandang.
Rangkaian diskusi akan ditutup pada tanggal 14 Februari 2026 dengan tema Aku Siap Bertindak (Mengubah Refleksi menjadi Kesiapsiagaan dan Aksi Nyata), yang terbagi menjadi dua sesi: Selamat Saat Air Datang: Keterampilan Dasar Bertahan Hidup dan Cinta Yang Bergerak: Ketika Rakyat Menjaga Rakyat.
“Maunya, walau banyak LSM mendapatkan pendanaan dari korporasi—seperti sawit dan sejenisnya—tetaplah menjaga lingkungan hidup,” pesan Andi.
“Bersuaralah; jangan pakai alasan untuk diam dengan mengatakan bahwa kita bukan organisasi tanggap darurat dan sebagainya. Seharusnya mereka bisa tetap lebih bersuara,” lanjutnya.
Ketika ditanya apakah kini saatnya berhenti mendukung korban banjir Aceh, Andi menghela nafas dalam. “Jangan lupakan Aceh,” ujarnya dengan suara lirih.
Suaranya mengingatkan pada ratusan ribu manusia di lumpur Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan semua sudut Aceh serta Sumatera lainnya, yang sampai hari ini kehilangan segalanya, tersapu banjir, terendam lumpur.
Semoga seiring mengerasnya lumpur itu, pengharapan mereka tidak juga sirna. (Tj.Pramono)



