Pidie Jaya (Waspada Aceh) – Lebih dari dua bulan setelah banjir bandang melanda Pidie Jaya, aktivitas nelayan di Kecamatan Meurah Dua belum kembali normal.
Pendangkalan muara sungai dan endapan lumpur tebal membuat sebagian besar kapal tidak bisa melaut. Kondisi ini memperparah tekanan ekonomi bagi masyarakat nelayan.
M. Nasir, Panglima Laot Lhok Meurah Dua, mengatakan bahwa lebih dari 500 nelayan terdampak banjir, dengan ±70 unit kapal dan alat tangkap rusak. Mayoritas nelayan hanya memiliki dua unit per keluarga.
“Boat kecil kadang bisa keluar saat air pasang, tapi kapal besar hampir tidak bisa. Hingga kini, bantuan dari pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pusat belum ada,” ujarnya, saat ditemui Sabtu (31/1/2026).
Nasir menambahkan, banyak nelayan terpaksa berhutang karena penghasilan dari laut maupun sawah tidak ada. Data korban banjir, termasuk jumlah kapal dan alat tangkap, telah dikirim ke pemerintah, namun realisasi bantuan belum terlihat.
Pantauan WaspadaAceh.com di Desa Teupin Pukat dan Meunasah Jurong beberapa kapal nelayan hancur, aliran sungai tersumbat lumpur, dan aktivitas nelayan memperbaiki jaring atau pukat di pinggiran sungai. Sebagian besar nelayan kini bekerja serabutan, membantu memperbaiki jaring atau pukat yang rusak.
Salah satu nelayan, Nasaruddin, menceritakan dampak langsung banjir terhadap keluarganya. “Sekarang saya kerja serabutan, bantu-bantu memperbaiki jaring atau pukat yang rusak, dapat upah Rp50 ribu per hari. Melaut sulit karena muara dangkal. Dulu saya bisa bergantung dari laut dan sawah, tapi sekarang sawah sudah seperti lapangan sepak bola, lautan lumpur, tidak bisa digarap. Dari mana lagi saya harus cari uang?” ujarnya.
Istri Nasaruddin juga terdampak, tidak bisa bertani karena sawah tertutup lumpur.
Para nelayan berharap pemerintah segera melakukan normalisasi sungai dan memberikan bantuan alat tangkap agar mereka bisa kembali melaut dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga. (*)



